TARIKH HIJRAH RASUL KE MADINAH, SEJARAH DAN ASAL-USULNYA

TARIKH HIJRAH RASUL KE MADINAH, SEJARAH DAN ASAL-USULNYA

Tarikh hijrah Rasul ke Madinah –  Membaca kata Tarikh sangat identik dengan  terdapat verifikasi kisah teladan selama masa hijrah tersebut berlangsung. Bagaimana tidak? sebelum perjalanan hijrah Rasulullah ke Madinah, sejarah Rasulullah hijrah ke Mekkah tidak berjalan lancar. Hal ini karena dakwah hijrah pada saat itu menggunakan cara sembunyi – sembunyi. Sampai pada akhirnya Rasulullah mensyiarkan Islam di Mekkah dan berlangsung selama tiga tahun lamanya. Dari cerita tersebut, berikut merupakan Tarikh Hijrah Rasulullah Ke Madinah.

Situasi Dakwah Islam di Mekkah

Tarikh Hijrah Rasul Ke Madinah

Perjalanan Rasulullah dalam mensyiarkan Islam bagi kaum Quraisy sangat bertentang dengan keyakinan mereka. Karena dengan menerima dakwah dari Rasulullah, mereka harus meninggalkan tradisi ataupun budaya yang telah mereka lakukan selama ini. Seperti menyembah berhala, api dan sejenisnya hingga menimbulkan rasa cemas karena dampak dari Rasulullah ini sangat berpengaruh untuk melengserkan kaum Quraisy di Mekkah.

Upaya kaum Quraisy dalam menyikapi dakwah Rasulullah awalnya menggunakan cara – cara yang halus. Namun dalam sekejab mereka mengubah upaya tersebut dengan kekerasan. Hal tersebut antara lain dengan cara melemahkan ekonomi umat muslim, mengusik dan menyiksa.

Meskipun Kota Mekkah merupakan tempat tinggal dan tempat lahir Rasulullah. Namun saat hijrah berlangsung kota ini tidak dapat menjadi tempat beristirahat Rasul dan rombongan barang sekejappun.

Perjanjian Aqabah, Permulaan Tarikh Hijrah Rasul ke Madinah

Pada tahun kenabian yang ke dua belas, kedatangan Rasulullah mendapatkan sambutan baik. Hal ini tercemin pada dua belas rombongan jamaah haji dari Kota Yastrib sekaligus memberikan dakwah. Pada sebuah bukit yang bernama Bukit Aqabah, rombongan jamaah haji tersebut menyerukan Bai’at.

Tak hanya itu, mereka juga menyatakan tidak akan berpaling dari Allah. Setia terhadap Nabi Muhammad SAW, menghindari pembunuhan dan perbuatan tercela lainnya. Rasulullah memberikan tugas kepada Mush’ab bin ‘Umair dan ‘Amr bin Ummi Maktum ke Kota Yastrib untuk mensyiarkan dan memberikan wawasan mengenai Islam.

Pada tahun kenabian yang ke tiga belas terjadi Bai’at Aqabah kedua, kepada tujuh puluh tiga orang dan dua orang wanita dari Kota Yastrib pada tengah malam. Isi dari perjanjian Bai’at Aqabah kedua ini adalah orang – orang tersebut bersedia untuk melindungi Nabi Muhammad SAW dengan resiko apa pun juga ikut serta dalam memajukan dan mensyiarkan Islam.

Setelah peristiwa tersebut rasulullah memberikan arahan untuk melakukan hijrah secara sembunyi – sembunyi dan bergantian secara berkelompok guna tidak dapat gangguan dan usikan dari kaum kafir Quraisy, tetapi hanya Umar Bin Khattab yang dengan gagah berani melakukan hijrah secara terang – terangan.

Al – Madinah Al – Munawwarah merupakan ubahan nama Kota Yastrib oleh Nabi Muhammad SAW, karena sebelumnya nama Kota Yastrib memiliki arti sebagai “mencela dan meghardik” sejak puluhan tahun lalu dan penyebabnya adalah Kota Yastrib terdapat dua suku yang besar namun saling berbeda pendapat dan bertengkar.

Tarikh Hijrah Rasul Ke Madinah

Tarikh Hijrah Rasul Ke Madinah

Rasa dengki yang berlebih oleh kaum kafir Quraisy menyebabkan menguatnya keinginan untuk menindaklanjuti perjalanan hijrah Rasulullah ke Madinah. Kafir Quraisy khawatir apabila pasukan Umat Islam semakin berkembang dengan kekuatan yang absolut untuk merebut kekuasaan Mekkah.

Pada saat seluruh Umat Muslim berhasil melewati Mekkah, hanya tersisa Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar dan kaum kafir Quraisy hendak menghentikan langkah Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar dengan cara membunuhnya agar syiar Islam tak terjadi lagi.

Suatu hari pada malam hari Nabi Muhammad meminta Ali bin Abi Thalib untuk berbaring menggunakan mantel Nabi Muhammad sebab kaum kafir Quraisy akan mendatangi rumah Nabi Muhammad untuk membunuhnya, niatan tersebut telah berhasil memberikan ruang bagi Nabi Muhammad untuk pergi ke rumah Abu Bakar.

Tepat sebelum Nabi Muhammad menghampiri rumah Abu Bakar, ia telah menyediakan dua ekor unta untuk mereka akhirnya hijrah ke Madinah. Rasulullah dan Abu Bakar hendak bertolak ke arah selatan menempuh gelapnya malam menuju ke Gua Tsur yang menjadi tempat persembunyian mereka, mustahil untuk mengetahui tempat persembunyian tersebut terkecuali bagi Abdullah bin Abu Bakar, Aisyah dan Asma binti Abu Bakar juga Amir bin Fuhairah.

Nyaris Tertangkap Kaum Kafir Quraisy

Tarikh Hijrah Rasul Ke Madinah

Diikuti sampai Gua Tsur

Menggebu nya gejolak dari kaum kafir Quraisy untuk membunuh Nabi Muhammad, membuat mereka mengikuti Nabi hingga tepat di depan Gua Tsur. Lalu mereka menghampiri seorang gembala setempat dan bertanya “Apakah kau melihat Muhammad dan pengikutnya?” ujar pertanyaan kaum kafir Quraisy tersebut.

“Mungkin saja mereka ada di dalam gua itu, tapi saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana.” tanggapan dari pengembala.

Lalu untuk menguatkan pendapat dari obrolan bersama gembala, kaum kafir Quraisy bergerak masuk kedalam Gua Tsur tersebut untuk melihat keadaan secara langsung. “Ada sarang laba – laba di gua itu yang masih utuh, tidak rusak, dan sudah ada sejak Muhammad lahir. Aku juga melihat dua ekor burung di gua, jadi aku tahu tidak ada di dalam gua.” ucap dari salah satu kaum kafir Quraisy yang masuk ke dalam Gua Tsur.

Situasi yang mengecam tersebut membuat Abu Bakar ketakutan hingga mendekatkan dirinya ke Nabi Muhammad, perlakuan luar biasa yang Nabi Muhammad lakukan adalah berdoa dan berbisik kepada Abu Bakar “La Tahzan Innallaha Ma’ana” yaitu jangan bersedih karena Allah bersama kita dan Kaum Quraisy sama sekali tidak mengetahui perihal tersebut.

Kuasa Allah yang menjadikan dua ekor burung dan sarang laba – laba masih utuh dan terdapat dalam firman-Nya Quran Surat Al – Anfaal ayat 30, “Dan (ingatlah), ketika orang – orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereke memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik – baik pembalas tipu daya.”

Tipu Daya untuk Kaum Quraisy

Melalui peristiwa ini Allah menguatkan mental Nabi Muhammad dan Abu Bakar. Allah SWT memberikan tipu daya kepada Kaum Quraisy agar Rasul dan rombongan dapat melanjutkan hijrah ke Madinah. Kedatangan Asma putri Abu Bakar pada hari ke tiga dengan memberikan perbekalan perjalanan hijrah ke Madinah bersama Abdullah bin Uraiqit. Selaku penunjuk arah Rasulullah berjalan menuju Tihama dekat laut merah. Memerlukan waktu yang tidak singkat,  melewati siang dan malam tanpa lelah. Dan berakhir dengan sambutan dari Umat Muslim Madinah yang begitu antusias dan penuh rindu pada beliau.

Rasulullah mendapat banyak tawaran untuk tempat menginap dari Umat Muslim Madinah. Rasulullah menggunakan untanya untuk memilih rumah yang akan ia tempati. Hal ini dilakukan dengan cara membiarkan unta tersebut berjalan sampai berhenti pada suatu rumah. Unta tersebut akhirnya berhenti pada rumah dua orang anak yatim bernama Sahl dan Suhail bin Amr. Dari sejarah menjelaskan di rumah tersebut akhirnya Rasulullah membangun Masjid pertama Madinah.

Pembelajaran dari Tarikh Hijrah Rasulullah ke Madinah

Hijrah memberikan pandangan terhadap seluruh Umat Muslim untuk saling membantu dan mensyiarkan Islam. Dengan hijrah kebaikan semakin meluas. Perjalanan hijrah yang mencekam dan menegangkan yang dilalui oleh Rasulullah dan Abu Bakar memberikan buah pembelajaran yang cukup besar. Dengan keyakinan terhadap kuasa Allah serta saling mendorong untuk menguatkan mental hingga akhirnya berhasil kepada tujuan.

Baca juga: 7 Keutamaan Kebersihan Ala Rasul

5 Keistimewaan Bulan Jumadil Awal, Nomer 2 Paling Sering Ditiru!

5 Keistimewaan Bulan Jumadil Awal, Nomer 2 Paling Sering Ditiru!

5 Keistimewaan Bulan Jumadil Awal, Nomer 2 Paling Sering Ditiru!

Jumadil Awal adalah bulan kelima dalam penanggalan kalender Islam atau Hijriah. Nama Jumadil Awal diambil dari kata jumadi yang artinya beku dan dingin, sedangkan awal berarti pertama.

Mengutip buku Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah karya Ida Fitri Shohibah (2012: 14), dinamakan Jumadil Awal karena bulan ini merupakan awal terjadinya musim dingin di negeri Arab. Pada saat itu, udara yang berembus sangat dingin hingga menyebabkan mata air menjadi beku.
Selain itu, bulan Jumadil Awal juga dikatakan sebagai bulan penuh keistimewaan. Sebab, banyak peristiwa penting dan berkesan yang terjadi di bulan ini. Lantas, apa saja keistimewaan bulan Jumadil Awal?

Keistimewaan Bulan Jumadil Awal

Merujuk pada buku Keistimewaan Ibadah Sepanjang Tahun oleh Ustadz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid (2019: 07), beberapa peristiwa penting dalam Islam yang terjadi pada bulan Jumadil Awal sehingga membuat bulan ini begitu istimewa meliputi:

1. Lahirnya Imam Al Ghazali dan Imam Ali Zainal Abidin

Jumadil Awal merupakan bulan kelahiran beberapa ulama dan awliya besar, seperti Imam Al Ghazali dan Imam Ali Zainal Abidin. Imam Al Ghazali lahir pada pertengahan abad ke-5 Hijriah, tepatnya pada tahun 450 H/1058 M. Sementara Imam Ali Zainal Abidin lahir pada 5 Sya’ban, tepatnya tahun 38 H/658 M.

2. Nabi Muhammad SAW Menikahi Khadijah

 Jumadil Awal juga menjadi peristiwa paling berkesan bagi Nabi Muhammad SAW. Karena pada bulan ini, Rasulullah SAW menikah dengan Khadijah binti Khuwalid. Khadijah merupakan perempuan yang paling Rasulullah cintai. Khadijah juga menjadi satu-satunya orang yang Allah SWT titipkan salam untuknya melalui Malaikat Jibril saat bertemu Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga : Pengertian Wakaf
Dalam sebuah kisah menyebutkan  selama 25 tahun pernikahan mereka, Nabi Muhammad SAW tidak pernah menikah dengan perempuan lain. Beliau sangat menjaga perasaan Khadijah.

3. Pertempuran Moota

Pertempuran Moota terjadi pada bulan ini. Moota adalah nama sebuah kota di Suriah yang menjadi tempat terjadinya pertempuran ini.

Nabi Muhammad SAW tidak berpartisipasi dalam pertempuran ini. Rasulullah SAW menunjuk Khalid bin Walid secara langsung sebagai jenderal untuk memimpin Pertempuran Moota. Khalid bin Walid secra langsung oleh Nabi Muhammad tunjuk sebagai jenderal keempat dari pertempuran Moota. Khalid bin Walid juga mendapat julukan sebagai “salah satu pedang Allah”.Kata Moota berasal dari nama sebuah kota pada Suriah yang menjadi tempat pertempuran ini

4. Perang Al Ashirah

Pertempuran yang juga terjadi di bulan Jumadil Awal adalah perang Al Ashirah. Perang ini berlangsung pada tahun kedua hijriah yang  Nabi Muhammad SAW pimpin secara langsung.
Beruntung, pertempuran ini tidak berlangsung sengit. Sebab, kala itu terdapat perjanjian damai antara Rasulullah SAW dengan Bani Mudlij dan penyokong mereka yaitu Bani Hamzah.
Mengambil kutipan pada buku berjudul ‘Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah’ oleh Ida Ditri Shohibah, peperangan “Al-Ashirah” pada tahun kedua hijriah, dipimpin oleh nabi Muhammad SAW.
Tidak terjadi pertempuran karena perjanjian damai antara Rasulullah SAW dengan Bani Mudlij serta penyokong mereka Bani Hamzah.

5. Wafatnya Sahabat Nabi

Beberapa sahabat Nabi juga diketahui wafat di bulan Jumadil Awal, di antaranya:
  • Zaid bin Haritsah, sahabat Nabi Muhammad SAW sekaligus pemeluk Islam paling awal dari kalangan bekas budak Nabi Muhammad SAW.
  • Ja’far bin Abi Thalib, merupakan putra dari Abu Thalib dan sepupu dari Nabi Muhammad SAW sekaligus kakak dari Khalifah ke-4 yaitu Ali bin Abi Thalib.
  • Abdullah Ibn Rawaahah, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW.

    Banyak kejadian yang berkesan terkait bulan ini. Pada bulan ini menjadi bulan ketangguhan bagi sahabat nabi dalam mempertahankan keislaman yang telah mereka yakini. Mereka adalah Abdullah bin Zubair bin Awwam serta ibunya Asma’ binti Abu Bakar.

    Pada 17 Jumadil Awal merupakan hari ketika Abdullah terkena hukuman oleh penguasa yang zhalim pada masa itu. Sedangkan Asma’ binti Abu Bakar merupakan sahabat nabi yang luar biasa dan teguh pendirian terhadap Islam, meskipun selalu mendapat tekanan dan siksaan karena keyakinannya.

    Semoga bermanfaat sahabat!

Kisah Sahabat Nabi Sa’ad bin Ubadah, Kado Terbaik untuk Ibu!

Kisah Sahabat Nabi Sa’ad bin Ubadah, Kado Terbaik untuk Ibu!

Kisah Sahabat Nabi Sa’ad bin Ubadah – Setiap menyebut nama Sa’ad bin Mu’adz, pastilah menemukan pula bersamanya Sa’ad bin Ubadah. Mereka berdua adalah pemuka-pemuka penduduk Madinah. Sa’ad bin Mu’adz pemuka Suku Aus, sedang Sa’ad bin Ubadah pemuka Suku Khazraj. Keduanya lebih dini masuk Islam, menyaksikan Baiat Aqabah dan hidup di samping Rasulullah sebagai prajurit yang taat dan Mukmin sejati.

Mungkin kelebihan Sa’ad bin Ubadah karena dia satu-satunya dari golongan Anshar. Yang mana menanggung siksaan Quraisy yang hanya kaum Muslimin penduduk Makkah alami.

Adalah suatu hal yang wajar jika Quraisy melampiaskan amarah dan kekejaman mereka kepada orang-orang yang sekampung dengan mereka yaitu warga kota Makkah. Tetapi jika siksaan itu mencapai pada laki-laki warga Madinah, padahal ia bukan laki-laki kebanyakan, tetapi seorang tokoh antara para pemimpin dan pemukanya, maka keistimewaan itu telah menjadi takdir hanya bagi Sa’ad bin Ubadah seorang.

Kisah Sahabat Nabi Sa’ad bin Ubadah Perjanjian Aqabah

Begini ceritanya, setelah selesainya perjanjian Aqabah yang terlaksana secara rahasia, dan orang-orang Anshar telah bersiap-siap hendak kembali pulang. Orang-orang Quraisy mengetahui janji setia orang-orang Anshar ini serta persetujuan mereka dengan Rasulullah SAW, yang mana mereka akan berdiri di belakangnya dan menyokongnya menghadapi kekuatan­kekuatan musyrik dan kesesatan.

Timbullah kepanikan di kalangan Quraisy, dan mereka segera mengejar kafilah Anshar. Kebetulan mereka berhasil menangkap Sa’ad bin Ubadah. Kedua tangannya mereka ikatkan ke atas pundaknya dengan tali kendaraannya, lalu mereka bawa ke Makkah. Di Makkah, iring-iringan ini disambut beramai-ramai oleh penduduk yang memukul dan melakukan siksaan pada Sa’ad sesuka hati mereka.

Bayangkan, Sa’ad bin Ubadah, sang pemimpin Madinah, mendapat perlakuan seperti ini. Ia yang selama ini melindungi orang yang minta perlindungan, menjamin keamanan perdagangan mereka, memuliakan utusan dari pihak mana pun yang berkunjung ke Madinah, telah diikat, dipukuli, dan disiksa. Dan orang-orang yang memukulnya seolah tidak kenal padanya dan tidak mengetahui kedudukannya di kalangan kaumnya!

Sa’ad segera meninggalkan Makkah setelah menerima penganiayaan. Sampai akhirnya ia mengetahui dengan pasti sampai mana persiapan Quraisy untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap kaum yang tersingkir. Ia menyeru kepada kebaikan, kepada hak dan keselamatan. Selain itu permusuhan Quraisy ini telah mempertebal semangatnya hingga secara bulat memutuskan akan membela Rasulullah saw, para sahabat dan Agama Islam secara mati-matian.

Rasulullah saw melakukan hijrah ke Madinah, dan sebelumnya itu para sahabatnya telah lebih dulu hijrah. Ketika itu demi melayani kepentingan orang-orang Muhajirin, Sa’ad membaktikan harta kekayaannya. Sa’ad adalah seorang dermawan, baik dari tabiat pembawaan, maupun dari turunan.

Putra Ubadah bin Dulaim bin Haritsah yang Dermawan

Ia adalah putra Ubadah bin Dulaim bin Haritsah yang kedermawanannya di zaman jahiliyah lebih tenar dari ketenaran manapun juga. Dan memang, kepemurahan Sa’ad di zaman Islam merupakan salah satu bukti dari bukti-bukti keimanannya yang kuat lagi tangguh. Dan mengenai sifatnya ini ahli-ahli riwayat pernah berkata, “Sa’ad selalu menyiapkan perbekalan bagi Rasulullah saw dan bagi seluruh isi rumahnya.”

Kata mereka pula, “Biasanya seorang laki-laki Anshar pulang ke rumahnya membawa seorang, dua, atau tiga orang Muhajirin. Namun Sa’ad bin Ubadah pulang dengan 80 orang!”

Oleh sebab itu, Sa’ad selalu memohon kepada Tuhannya agar menambah rezeki dan karunia-Nya. Dan ia pernah berkata, “Ya Allah, tiadalah yang sedikit itu memperbaiki diriku, dan tidak pula baik bagiku!”

Wajarlah apabila Rasulullah saw mendoakannya, “Ya Allah, berilah keluarga Sa’ad bin Ubadah karunia serta rahmat-Mu!”

Sa’ad tidak hanya menyiapkan kekayaannya untuk melayani kepentingan Islam yang murni, tetapi juga ia membaktikan kekuatan dan kepandaiannya. Ia adalah seorang yang amat mahir dalam memanah. Dalam peperangannya bersama Pasulullah SAW, pengorbanannya amat penting dan menentukan.

Ibnu Abbas RA berkata, “Di setiap peperangannya, Rasulullah SAW mempunyai dua bendera; bendera Muhajirin di tangan Ali bin Abi Thalib dan bendera Anshar di tangan Sa’ad bin Ubadah.”

Pada hari-hari pertama pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab, Sa’ad pergi menjumpai Amirul Mukminin dan dengan blak-blakan berkata kepadanya, “Demi Allah, sahabat anda, Abu Bakar, lebih kami sukai daripada anda. Dan sungguh, demi Allah, aku tidak senang tinggal berdampingan dengan anda.”

Dengan tenang Umar menjawab, “Orang yang tidak suka berdampingan dengan tetangganya, tentu akan menyingkir daripadanya.”

Sa’ad menjawab pula, “Aku akan menyingkir dan pindah ke dekat orang yang lebih baik daripada anda.”

Persembahan Terbaik untuk Ibu Tercinta

Dengan kata-kata yang terucap kepada Amirul Mukminin Umar bin Khathab itu, tiadalah Sa’ad bermaksud hendak melampiaskan amarah atau menyatakan kebencian hatinya. Karena orang yang telah menyatakan ridhanya kepada putusan Rasulullah SAW, sekali-kali tiada akan keberatan untuk mencintai seorang tokoh seperti Umar, selama  ia pantas terlihat untuk memuliakan dan mencintai Rasulullah.

Maksud Sa’ad ialah bahwa ia tidak akan menunggu datangnya suasana, di mana nanti mungkin terjadi pertikaian antaranya dengan Amirul Mukminin. Pertikaian yang sekali-kali tidak diinginkan dan disukainya. Maka ia menyiapkan kendaraannya, menuju Suriah. Dan belum lagi ia sampai ke sana dan baru saja singgah di Hauran, ajalnya telah datang menjemputnya dan mengantarkannya ke sisi TuhannyaYang Maha Pengasih.

Ubadah adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW. Saat ibunya meninggal dunia dan ia tidak berada di tempat, lalu ia datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya?” Rasulullah SAW menjawab: “Ya”. Sa’ad berkata: “Saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya.” (HR Bukhari)

Kisah Saad bin Ubadah tersebut merupakan dasar bahwa wakaf (sedekah jariyah) dapat menjadi hadiah untuk seseorang walau pun ia sudah meninggal dunia.

Sahabat, dari kisah tersebut wakaf dapat menjadi Kado Terbaik untuk Ibumu.

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang dimanfaatkan, doa anak yang sholeh” (HR Muslim no 1631)

Wakaf, Pengertian, Keistimewaan, dan Sejarah yang Melatarbelakangi

Wakaf, Pengertian, Keistimewaan, dan Sejarah yang Melatarbelakangi

Wakaf, Pengertian, Keistimewaan, dan Sejarah yang Melatarbelakangi

Awal Mula

Sejarah wakaf secara singkat selanjutnya berasal dari sahabat nabi, Umar Bin Khattab. Suatu ketika, Umar bin Khattab mendapatkan tanah hibah. Ia pun bertanya dan meminta nasihat kepada Rasulullah mengenai tanah tersebut. Rasulullah pun bersabda, seperti yang ada dalam hadits dari Ibnu Umar,

“Jika engkau menginginkannya, kau tahan pokoknya dan kau sedekahkan hasilnya”. Ibnu Umar menginformasikan bahwa Umar kemudian mewakafkan harta itu, dan sesungguhnya harta itu tidak diperjualbelikan, tidak diwariskan dan tidak di hibahkan”.

Dari sini, Rasulullah SAW mengajarkan kepada Umar untuk mengolah tanah tersebut agar pokoknya tetap ada namun hasilnya bisa terus berkembang. Dari hasil tersebut, tentunya bisa menghasilkan lebih banyak lagi untuk disedekahkan. Inilah yang saat ini sering tersebut dengan wakaf produktif.

Apa yang Umar bin Khattab lakukan ini oleh para sahabat lainnya lakukan. Sebagaimana yang Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Abu Thalhah, dan sahabat-sahabat lainnya lakukan untuk mewakafkan harta yang paling mereka cintai.

Abdurrahman bin Auf pernah membebaskan sumur (membeli dari seorang Yahudi) kemudian ia wakafkan untuk digunakan oleh banyak orang saat itu. Hingga kini, walaupun sudah ribuan tahun berlalu sumur tersebut masih tetap ada dan manfaatnya bisa berkembang untuk banyak aspek.

Ali bin Abi Thalib juga pernah mewakafkan tanahnya yang subur. Tidak ketinggalan Muadz bin Jabal juga pernah mewakafkan rumahnya yang populer dengan sebutan Darul Anshar.

wakaf dari para sahabat bukan sembarang harta. Tapi harta yang berkualitas dan memang harta yang paling mereka cintai. Dengan harta tersebut, mereka mampu mengorbankan kehidupannya pada dunia untuk akhirat.

Gerakan wakaf pun terus berlanjut hingga generasi selanjutnya, seperti oleh Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Zubair bin Awwam, hingga Aisyah istri dari Rasulullah SAW.

Di masa kekhalifahan pasca Nabi Muhammad dan sahabat, gerakan ini pun semakin berkembang. Termasuk salah satunya di zaman pemerintahan Khalifah Umayah dan Abbasiyah. Saat itu, praktik wakaf terus berkembang dan makin meluas.

Pengelolaan dan Sejarahnya

Pengelolaannya pun dipegang oleh orang khusus dan ditata dengan baik. Di zaman Khilafah Umayah, dikelola oleh lembaga wakaf khusus dan ada di bawah pengawasan departemen kehakiman.

Sedangkan pada Kekhalifahan Abbasiyah, wakaf terkelola oleh sebuah lembaga yang terkenal dengan istilah Sadr Al-Wuquf. Lembaga ini memiliki wewenang mengurus administrasi dan merekrut SDM untuk mengelola lembaga tersebut.

Pada masa Dinasti Ayyubiyah di Mesir, wakaf mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Hampir semua tanah-tanah pertanian yang ada di bawah kekhalifahan Ayyubiyah menjadi harta wakaf.  Pengelolaan seluruhnya  menjadi milik negara melalui Baitul Maal.

Di bawah kepemimpinan Salahudin Al-Ayyubi, di Mesir pun mulai berkembang wakaf uang. Hasilnya akan termanfaatkan untuk membiayai berbagai kebutuhan negara dan juga kebutuhan lainnya. Seperti halnya, membangun masjid, sekolah, rumah sakit, dan tempat-tempat penginapan.

Pada era kejayaan Islam ini, wakaf menjadi salah satu pilar ekonomi karena terkelola secara profesional.

wakaf untuk ibu tercinta

Belajar Konsep Kelapangan dari Sumur Raumah Ustman Bin Affan

Belajar Konsep Kelapangan dari Sumur Raumah Ustman Bin Affan

Belajar Konsep Kelapangan dari Sumur Raumah Ustman Bin Affan

Sumur Raumah termasuk salah satu situs bersejarah. Letaknya di samping Masjid Qiblatain. Mulanya, telaga itu merupakan milik seorang Yahudi. Akan tetapi, kepemilikan itu kemudian beralih ke tangan sahabat Nabi SAW, Utsman bin Affan, untuk kemudian manfaatnya dirasakan kaum Muslimin.

Diriwayatkan pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Kota Madinah pernah mengalami panceklik hingga kesulitan air bersih. Karena mereka (kaum muhajirin) sudah terbiasa minum dari air zamzam di Makkah, satu-satunya sumber air yang tersisa, yakni sebuah sumur milik seorang Yahudi, Sumur Raumah namanya. Kaum muslimin dan penduduk Madinah terpaksa harus rela mengantre dan membeli air bersih dari Yahudi tersebut.

Prihatin atas kondisi umatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat maka akan mendapat surga-Nya Allah Ta’ala.” (HR Muslim).

Seorang sahabat Rasulullah yang terkenal dermawan, Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu segera bergerak untuk membebaskan Sumur Raumah itu. Utsman segera mendatangi Yahudi pemilik sumur dan menawar untuk membeli sumur Raumah dengan harga yang tinggi. Meski sudah ia tawar degan harga yang bagus, Yahudi pemilik sumur tetap menolak menjualnya. Ia beralasan, seandainya sumur tersebut terjual, penghasilan yang ia peroleh setiap hari akan berhenti.

Menawar Setengah dari Sumur Raumah

Utsman tidak kehilangan akal untuk kembali menawar sumur tersebut. Ia pun memberi tawaran menarik akan membeli setengah dari sumur tersebut. Jika Yahudi itu setuju, ujarnya, maka sumur itu bisa menjadi milik keduanya secara bergantian. Satu hari Utsman miliki, besoknya kembali lagi menjadi milik Yahudi. Begitu seterusnya.

Yahudi itu pun menerima tawaran Utsman. Ia merasa bisa mendapatkan uang banyak dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur. Utsman pun meminta penduduk Madinah untuk mengambil air tersebut dengan gratis. Ia juga mengingatkan warga mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk dua hari karena esok hari sumur itu bukan lagi milik Utsman.

Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Yahudi itu pun mendatangi Utsman. Ia meminta Utsman untuk membeli setengah lagi sumurnya tersebut dengan harga yang sama seperti saat Utsman membeli kemarin. Utsman setuju, lalu ia membeli seharga 20.000 dirham, sehingga Sumur Raumah menjadi milik Utsman secara penuh.

Wakaf untuk Ummat

Utsman lalu mewakafkan Sumur Raumah. Sejak itu, sumur tersebut dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi pemilik lamanya. Setelah ia wakafkan, tumbuhlah pada sekitar sumur itu beberapa pohon kurma dan terus bertambah hingga saat ini berjumlah 1.550 pohon.

Departemen Pertanian Saudi kemudian menjual hasil kebun kurma ini ke pasar-pasar. Setengah dari keuntungan itu tersalurkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedangkan setengahnya ia tabung dan simpan dalam bentuk rekening khusus milik beliau pada salah satu bank atas nama Utsman bin Affan.

“Ya, Utsman bin Affan sudah wafat lebih dari 1.400 tahun silam, tetapi rekening bank atas namanya masih terjaga hingga kini.” Ujar Departemen Pertanian Saudi.

Dari kisah tersebut, maka dapat kita ambil pelajaran bahwasanya kelapangan dan keikhlasan dapat mendatangkan banyak kebaikan. Apalagi dalam hal ini kebaikan dalam mengalirkan air untuk ummat, insyaAllah pahala mengalir seterusnya selama air itu mengalir manfaatnya untuk  ummat.

sahabat dapat menunaikan kebaikan mengalirkan air di kemanusiaan.org

error: Content is protected !!