Dompet Dhuafa Gelar Pelatihan Siaga Bencana MPZ di 3 Provinsi

Dompet Dhuafa Gelar Pelatihan Siaga Bencana MPZ di 3 Provinsi

Siapkan MPZ Sebagai Garda Terdepan Penanggulangan Bencana, Dompet Dhuafa Gelar Pelatihan Siap Siaga Bencana untuk Relawan di Tiga Provinsi

Karanganyar, Jawa Tengah—Untuk mempersiapkan MPZ (Mitra Pengelola Zakat) Siap Siaga dalam menghadapai bencana, Dompet Dhuafa menggelar pelatihan tanggap bencana di Telaga Madirda, Karanganyar, Jawa Tengah. (24/09/2022). Selama enam hari, pelatihan diikuti 47 Peserta yang terdiri dari 3 MPZ Dompet Dhuafa di 3 Provinsi.

Para peserta tersebut merupakan anggota MPZ dan anggota Dompet Dhuafa Volunteer yang berasal dari tiga provinsi. Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur. Pelatihan terlaksana dengan dua metode selama 6 hari.

Pada tiga hari pertama mulai dari Senin (19/09/2022) hingga Rabu (21/09/2022), pelatihan lakukan secara daring. Selanjutnya pada hari ke empat yaitu dari Kamis (22/09/2022) sampai dengan hari Sabtu (24/09/2022) pelatihan terlaksana secara luring. Pada hari tersebut lebih banyak materi praktek secara langsung.

“Kesiapsiagaan menghadapi bencana di salah satu negeri dengan ancaman bencana paling besar adalah menjadi tanggung jawab semua warga negara. Sebagai pegiat kemanusiaan kesabaran siap selamat atas diri juga harus meningkat untuk menjaga keselamatan orang sekitar.”Ujar Muhammad Zahron selaku Piminan Cabang Dompet Dhuafa Jogja.

BerkolaborasDMC Dompet Dhuafa

Pelatihan ini berkolaborasi dengan unit Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa untuk melatih para peserta-peserta potensial anggota MPZ dan relawan Dompet Dhuafa yang berasal dari tiga provinsi. Pada sesi awal ini DMC Dompet Dhuafa memberikan paparan tentang kiat-kiat asesmen cepat setelah terjadinya bencana. Manajemen logistik bagi penyintas terdampak dan mekanisme penanganan kelompok rentan di wilayah dan kondisi tanggap darurat.

Pada sesi selanjutnya pelatihan dilakukan secara luring di Telaga Madirda, Karanganyar, Jawa Tengah. Pada sesi ini DMC Dompet Dhuafa memberikan pelatihan tentang manajemen posko relawan di masa tanggap darurat, strategi membuka Dapur Umum, kesigapan dalam melakukan pertolongan pertama hingga penyelamatan permukaan air (water rescue).

“Kami ingin menghadirkan kebermanfaatan dengan mengundang MPZ Dompet Dhuafa yang terdiri dari BMT, lembaga sosial, yayasan pendidikan, masjid dan beberapa entitas yang termasuk ke dalam Dompet Dhuafa Volunteer,” terang Imam Alfaruq selaku Senior Officer Aliansi Strategis MPZ Dompet Dhuafa

MPZ dan relawan Dompet Dhuafa sebagai jaringan strategis Dompet Dhuafa memiliki peran yang sangat penting sebagai relawan dalam memperkuat kapasitas penanggulangan bencana dan mempercepat pertolongan pada korban.

“Harapannya lewat pelatihan dan kehadiran kami insan-insan Dompet Dhuafa bisa mengurangi risiko bencana dan insyallah 47 peserta. Kami ingin siapkan mereka untuk memberikan sumbangsih terbaik ketika hadapi bencana,”lanjut Imam.

Letak geografis MPZ dan relawan Dompet Dhuafa yang tersebar di seluruh Indonesia akan menjadi garda terdepan dalam membantu korban bencana di lokasi terdekat. Melalui peran serta MPZ dan relawan Dompet Dhuafa mampu memperkuat jaringan tenaga kesiapsiagaan yang selalu terkoneksi. Dengan ribuan relawan terampil yang selalu siap siaga. Menjadi kekuatan baru dalam dunia penanggulangan bencana di Indonesia.

Dengan mengambil tema “Bersatu untuk Selamat”, Dompet Dhuafa berharap jaringan kebaikan MPZ dan relawan Dompet Dhuafa akan menjadi potensi/unsur pencegahan dan penanggulangan bencana yang diperhitungkan ditingkat lokal maupun regional. Dengan menyatukan kekuatan dan menghubungkan jaringan komunikasi MPZ dan relawan Dompet Dhuafa dari sabang sampai merauke, Dompet Dhuafa meyakini bahwa penanganan terhadap bencana akan semakin efektif, cepat dan tepat.

Tingkatkan Kemampuan Pegiat Kemanusiaan

Berdasarkan laporan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) pada tahun 2021 dengan memperhitungkan komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas (capacity) di masing -masing provinsi dan kabupaten/kota, memberikan paparan nilai tentang bahaya bencana alam di masing wilayah dan besaran dampak kerusakan terhadap masyarakat.

Wilayah Provinsi Jawa Tengah memiliki gunungapi aktif sebanyak 5 yakni Gunung Slamet, Gunung Dieng, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Merapi. Selain itu,beberapa sesar aktif melintasi Jawa Tengah antaranya yaitu Sesar Baribis Kendeng, Sesar Ajibarang, Sesar Ungaran, Sesar Merapi-Merbabu, Sesar Muria, dan Sesar Pati Thrust. Pada selatan Jawa Tengah juga terdapat Zona Megathrust Jawa dengan Segmen Jawa Tengah. Kondisi ini yang menyebabkan wilayah di kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah berada dalam kelas risiko sedang hingga tinggi. Risiko bencana tertinggi di wilayah Jawa Tengah terdiri dari letusan gunung api (Temanggung), tanah longsor (Purbalingga), cuaca ekstrim (Pati), Kekeringan (Purbalingga), dan Banjir (Pati). Fakta ini menjadi motivasi bagi peserta Tukijo dari Jawa Tengah untuk menambah kapasitas penanggulangan bencana di wilayah Jawa Tengah.

“Selain materi, pelatihan ini juga menambah pengalaman praktek secara langsung pada kami bagaimana ketika menghadapi bencana secara langsung. Kami terbekali dengan pengalaman water rescue dan vertikal rescue. Alhamdulillah, dari hal itu bisa menambah bekal untuk kami jika kedepanya ada bencana, kami lebih sigap dan tepat dalam menanganinya.” Ujar Tukijo peserta dari Jawa Tengah.

Sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki bentang alam yang dapat terkelompokkan menjadi empat satuan fisiografi, yaitu satuan fisiografi Gunungapi Merapi, satuan fisiografi Pegunungan Sewu atau Pegunungan Seribu, satuan fisiografi Pegunungan Kulon Progo, dan satuan fisiografi Dataran Rendah. Wilayah Provinsi DIY dilewati oleh Patahan Opak. Patahan Opak inilah yang menjadi sumber gempa merusak di Yogyakarta pada tahun 2006 lalu. Selain rawan dengan gempa bumi, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta juga rawan dengan letusan gunung api dengan adanya gunung api aktif yaitu Gunung Merapi. Kenyataan ini mendorong relawan seperti Dewi Agustin sangat antusias terhadap pelatihan ini.

Respons Bencana dan Menyelamatkan Korban Bencana Alam

“Itu sangat menambah pengetahuan banget. Bagaimana kita merespons bencana dan menyelamatkan korban bencana alam. Paling berkesan ialah vertical dan water rescue, karena itu adalah hal baru bagi saya,”aku Dewi Agustin, peserta dari DIY.

Terakhir wilayah Jawa Timur terlewati oleh beberapa patahan antara lain Sesar Baribis Kendeng, Sesar Pasuruan, Sesar Probolinggo dan Sesar Wonorejo. Provinsi Jawa Timur juga memiliki beberapa gunungapi aktif. Hal itu antara lain Gunung Kelud, Gunung Arjuno Welirang, Gunung Semeru, Gunung Bromo, Gunung Lamongan, Gunung Raung dan Gunung Ijen. Selain ancaman letusan gunung api, Jawa Timur memiliki risiko bencana cuaca ekstrim (Kota Mojokerto). Selain itu tsunami (Pamekasan), dan gelombang ekstrim/ abrasi (Kota Surabaya). Fakta ini menjadi motivasi bagi peserta Muhamad Nur Aziz untuk menambah kapasitas penanggulangan bencana di wilayah Jawa Timur.

“Banyak hal baru, terutama ketika belajar di segi praktik. Banyak hal-hal yang secara teori, kita sudah mengetahui. Tetapi ketika praktik, beberapa hal teknis lumayan kesulitan. Jadi training ini sangat penting untuk menambah wawasan pengetahuan. Selain itu sebagai pengalaman untuk para relawan di aksi kemanusiaan,”pungkas Muhamad Nur Aziz selaku peserta dari Jawa Timur.

“Training tanggap bencana ini menjadi ikhtiar Dompet Dhuafa dalam meningkatkan kemampuan pegiat kemanusiaan yang bermitra dengan Dompet Dhuafa. Supaya siap selamatkan diri dan meyelamatkan orang lain ketika terjadi bencana.”tutup Muhammad Zahron.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

error: Content is protected !!