Header Dompet Dhuafa Jatim
Hikmah Perang Mu’tah

Perang Mu’tah memberi banyak pelajaran penting bagi umat Islam. Banyaknya tentara dan persenjataan lengkap bukanlah jaminan utama untuk menang dalam pertempuran. Perang Badar dan perang Mu’tah membuktikan hal itu. Membela agama Allah dengan keyakinan akan adanya pertolongan itu sangat penting yang harus dimiliki setiap muslim. Selain itu, dibutuhkan juga kebijaksanaan, keberanian, serta tanggung jawab. 

Meskipun jumlah pasukan kaum Muslimin jauh lebih sedikit dibandingkan musuh, kekuatan mereka bukan berasal dari jumlah atau senjata saja. Yang menjadi penggerak utamanya adalah iman dan keyakinan bahwa Allah akan memberikan pertolongan kepada mereka. Ketika kita menghadapi tantangan, baik dalam urusan pribadi, sosial, atau agama, kita harus tetap hadapi dengan sabar, ikhtiar serta tawakal dengan keyakinan bahwa Allah adalah Sebaik baik penolong. 

Perang Mu’tah juga mengajarkan pentingnya struktur kepemimpinan dan ketaatan kepada umat Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam awalnya menunjuk tiga orang pemimpin secara berurutan, yaitu Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Ketiga pemimpin ini gugur dalam perang sebagai syuhada, sehingga pasukan sementara kehilangan arah karena tidak ada pemimpin yang ada. Namun, dalam keadaan darurat tersebut, umat Islam di medan perang secara spontan memutuskan untuk memberikan panji kepada Khalid bin Walid. Keputusan ini akhirnya diakui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang menunjukkan bahwa dalam situasi sulit, umat Islam harus mampu berijtihad dan bersatu di bawah komando yang tepat. 

Pertempuran muslimin dan pasukan Romawi yang besar dan menakutkan menjadi momen penting yang membuat banyak kabilah Arab terkejut. Melihat keberanian, semangat para muslimin dalam menghadapi musuh yang sangat kuat, banyak kabilah yang sebelumnya ragu-ragu kini mulai terkesan dan berhenti memandang Islam sebagai musuh. Terlebih setelah melihat langsung keteguhan dan kekuatan para muslimin, sebagian besar dari mereka memutuskan untuk memeluk Islam, mengawali hidup baru dengan penuh keyakinan dan harapan. 

Baca Juga: Peran Pemuda dalam Peristiwa Mu’tah

  1. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih Zaid bin Haritsah untuk memimpin dalam perang Mu’tah dengan cara  bijak. Meskipun Zaid dulu pernah menjadi budak, beliau dipercaya memimpin pasukan. Pilihan ini menunjukkan bahwa Nabi melihat seseorang berdasarkan keimanan dan ketakwaannya, bukan dari status sosial, keturunan, atau masa lalunya. Ini adalah pengingat yang kuat bahwa nilai sejati terletak pada hati dan karakter seseorang, bukan pada latar belakang dunia. 
  1. Sikap Abdullah bin Rawahah raḍiyallāhu‘anhu yang menangis saat mengingat sebuah ayat Al-Qur’an menunjukkan betapa kuat keimananya. Ia sangat menyadari betapa beratnya kenyataan menunggu setiap orang di hari akhir, hingga hatinya tergerak dan mata mengeluarkan air mata. 
  1. Salah satu keistimewaan Ja’far bin Abi Thalib raḍiyallāhu‘anhu terlihat jelas saat berperang. Meskipun kedua tangannya telah luka karena pukulan musuh, ia tetap tak mau biarkan bendera Islam jatuh. Dengan tenaga sedikit tersisa, ia memeluk bendera itu erat-erat di dada, menjaganya tetap berkibar hingga akhirnya ia gugur sebagai syuhada. Karena pengorbanannya sangat luar biasa, Allah memberinya anugerah istimewa, dua sayap di surga yang memungkinkannya terbang ke mana pun ia kehendaki. Semoga Allah selalu meridhainya. 

Kepemimpinan Khalid bin Walid di tengah kondisi sulit menjadi pelajaran penting. Dengan kemampuannya dalam mengubah susunan pasukan dan menciptakan ilusi bantuan, ia berhasil menarik mundur pasukan Muslim dengan korban sedikit, sehingga menghindari kehancuran total. Ini menunjukkan bahwa berani saja tidak cukup, tetapi harus diimbangi dengan strategi  cerdas  dan pikiran yang matang. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahu kepada para sahabat tentang perjalanan Perang Mu’tah bahwa tiga orang pemimpin gugur sebagai syahid, kemudian kepemimpinan bergeser ke tangan Khalid bin Walid, hingga akhirnya pasukan Muslim memperoleh kemenangan. Peristiwa itu terjadi jauh dari Madinah, dan belum ada utusan yang datang membawa kabar. Ini menjadi salah satu bukti nyata dari banyak tanda-tanda kenabian yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Perang Mu’tah bukan sekadar kisah kepahlawanan, tetapi cerminan dari iman yang teguh dan semangat juang tanpa batas. Dari peristiwa itu, kita diajarkan untuk menjadi Muslim yang tidak mudah menyerah, berpikir cerdas, dan selalu berpegang pada nilai-nilai kebenaran. 

Semoga semangat para sahabat di Mu’tah menginspirasi kita untuk terus berjuang dalam kebaikan, menebar manfaat, dan menjadi bagian dari perubahan positif bagi umat dan bangsa. 

Share ke temanmu