Pertanyaan bolehkah berdoa saat panggilan salat berkumandang kerap muncul di tengah umat Islam. Seruan ibadah ini menjadi tanda masuknya waktu salat sekaligus ajakan untuk mengingat Allah SWT. Karena kedudukannya yang mulia, Islam mengajarkan adab tertentu agar momen tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan tidak berlalu tanpa nilai ibadah.
Anjuran Menjawab Lafaz Muadzin
Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang Muslim memberi perhatian penuh ketika mendengar seruan ibadah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ
“Apabila kalian mendengar panggilan salat, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa mengikuti lafaz yang dikumandangkan muadzin merupakan amalan utama yang dianjurkan Rasulullah ﷺ, sebagai bentuk penghormatan terhadap syiar Islam.
Apakah Doa Diperbolehkan Saat Seruan Ibadah Terdengar?
Para ulama menjelaskan bahwa memanjatkan permohonan kepada Allah SWT ketika seruan salat terdengar tidak termasuk perbuatan terlarang. Namun demikian, menjawab lafaz muadzin tetap lebih diutamakan karena merupakan sunnah yang jelas tuntunannya.
Karena itu, doa sebaiknya dipanjatkan setelah lafaz selesai atau disampaikan dengan tetap menjaga adab, tanpa mengabaikan jawaban terhadap seruan ibadah tersebut. Dengan cara ini, seorang Muslim dapat mengamalkan dua kebaikan sekaligus.
Baca Juga: Waktu dan Makna Doa Mustajab di Hari Jumat
Keutamaan Berdoa Setelah Seruan Salat
Setelah panggilan ibadah selesai dikumandangkan, Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk memperbanyak doa. Dalam hadits disebutkan:
الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ
“Doa tidak akan tertolak antara seruan salat dan iqamah.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan bahwa jeda waktu sebelum iqamah merupakan kesempatan berharga untuk memohon ampunan, kebaikan, dan keberkahan kepada Allah SWT.
Doa yang Dianjurkan Setelah Panggilan Ibadah
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa khusus yang dibaca setelah seruan ibadah selesai:
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
“Ya Allah, Tuhan pemilik panggilan yang sempurna ini dan salat yang ditegakkan, berilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, serta tempatkan beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan.”
(HR. Bukhari)
Doa ini menjadi bentuk kecintaan kepada Rasulullah ﷺ sekaligus harapan untuk memperoleh syafaat beliau kelak.
Hikmah Menjaga Adab Saat Panggilan Ibadah
Mengikuti lafaz muadzin melatih ketenangan, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap syiar Islam. Sementara memanjatkan doa setelahnya mengajarkan kepekaan hati dalam memanfaatkan waktu yang penuh nilai ibadah. Dalam praktik sehari-hari, ketika panggilan salat terdengar saat kita sedang beraktivitas, menghentikan sejenak kesibukan untuk mengikuti lafaz muadzin lalu memanjatkan doa sederhana menjadi latihan kecil untuk menata hati agar lebih peka pada kehadiran Allah. Keduanya saling melengkapi dan memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Menjawab pertanyaan bolehkah berdoa saat panggilan salat berkumandang, jawabannya adalah boleh, namun mengikuti lafaz muadzin tetap lebih utama. Setelah seruan tersebut selesai, Islam justru menganjurkan umatnya untuk memperbanyak doa karena termasuk waktu yang memiliki keutamaan. Dengan memahami adab ini, setiap Muslim dapat menjadikan setiap panggilan ibadah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.




