Header Dompet Dhuafa Jatim
pendidikan batik

Gunungkidul — Upaya pelestarian batik melalui pendidikan mulai berjalan nyata. Sepanjang April 2026, dilakukan kunjungan dan monitoring evaluasi (monev) pengimbasan pembelajaran batik di seluruh sekolah dampingan Program Sidomukti (Sinau Budoyo Lumantar Batik).

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari inkubasi guru yang telah menghasilkan karya taplak dan kain utuh. Pembelajaran batik kini mulai diujicobakan kepada siswa sebagai langkah awal integrasi ke dalam kurikulum sebagai muatan lokal.pendidikan

Proses pelatihan batik program Sidomukti kepada para murid oleh sekolah dasar.

Guru melakukan pengimbasan kepada rekan sejawat sebelum diterapkan di kelas, dengan pembelajaran dibagi per fase sesuai perangkat yang telah disusun. Pada fase A (Kelas 1-2), siswa dikenalkan konsep warna primer dan campuran; fase B (Kelas 3-4) mulai mengenal motif dan membuat karya sederhana seperti sapu tangan; sementara fase C ((Kelas 5-6) sudah praktik membuat taplak dengan desain yang lebih kompleks.

batik

Berbagai inovasi seperti penggunaan media video turut menghidupkan suasana belajar. Siswa pun menunjukkan antusiasme tinggi. Bagi mereka, membatik menjadi pengalaman baru yang menarik dan menantang.

Melalui proses ini, diharapkan batik tidak hanya menjadi keterampilan, tetapi juga bagian dari identitas sekolah. Nilai-nilai membatik pun diharapkan turut tumbuh pada diri siswa: membentuk pribadi yang sabar, teliti, dan disiplin.

Share ke temanmu