Hari itu, langit Madinah tampak muram. Hembusan angin membawa suasana haru yang tak biasa. Rasulullah ﷺ, manusia paling mulia, mulai merasakan sakit yang semakin berat. Meski tubuhnya lemah, beliau masih menyempatkan diri menasihati umatnya dengan penuh kasih.
“Wahai umatku, aku tinggalkan untuk kalian dua pedoman: Al-Qur’an dan Sunnahku. Siapa yang mencintaiku, hendaklah mencintai keduanya, karena di sanalah jalan untuk bertemu denganku di surga.”
Para sahabat menunduk, menahan air mata. Mereka tahu, waktu perpisahan dengan kekasih Allah semakin dekat. Ali bin Abi Thalib dan Fadhal menuntun beliau turun dari mimbar. Sejak hari itu, Rasulullah lebih banyak beristirahat di rumah, ditemani keluarga terdekatnya.
Saat Malaikat Maut Datang Menjemput
Ketika suasana rumah hening, terdengar ketukan lembut di pintu. Fatimah r.a. menjawab, “Ayah sedang sakit.” Namun Rasulullah membuka mata dan berkata lirih, Itu adalah Malaikat Maut.”
Fatimah menangis tersedu. Tak lama kemudian, Malaikat Jibril datang menyertai Izrail. Rasulullah bertanya dengan suara lemah,
“Wahai Jibril, apa yang menantiku di sisi Allah?” Jibril menjawab, “Wahai kekasih Allah, surga telah menantimu dengan segala kemuliaannya.”
Namun Rasulullah belum tenang. “Bagaimana dengan umatku, Jibril?” tanya beliau penuh kasih. Jibril menjawab, “Allah berjanji, surga tidak akan dimasuki siapa pun sebelum umat Muhammad masuk ke dalamnya.”
Air mata menetes di pipi Jibril. Lalu Izrail pun mulai menjalankan tugasnya dengan lembut. Rasulullah merasakan beratnya sakaratul maut. Dalam derita itu, beliau berdoa,“Ya Allah, ringankanlah penderitaan ini bagi umatku. Biarlah semua rasa sakit ini aku tanggung sendiri.”
Pesan Terakhir yang Abadi
Menjelang napas terakhir, Rasulullah ﷺ berpesan, “Jagalah sholat, dan perlakukanlah orang-orang lemah dengan penuh kasih sayang.”
Kemudian beliau mengucapkan kata yang menggetarkan hati, “Ummatii… ummatii… ummatii…”(Umatku… umatku… umatku…)
Demikian akhir kehidupan manusia terbaik yang pernah diutus ke bumi. Hingga detik terakhir, cintanya hanya untuk umatnya — agar kita semua tetap berada di jalan Allah.
Pelajaran Berharga dari Detik Terakhir Rasulullah ﷺ
Cinta sejati kepada Rasulullah bukan hanya dengan lisan, tapi dengan meneladani akhlak dan ajarannya. Sholat adalah pesan terakhir beliau, penanda iman dan bentuk cinta kepada Allah. Kematian bukan akhir segalanya, melainkan awal perjalanan menuju pertemuan dengan Sang Pencipta.
Semoga setiap langkah hidup kita selalu berlandaskan cinta dan ketaatan, sebagaimana Rasulullah mencintai kita tanpa batas.
(0274) 390 0701
WhatsApp 0812 1573 9066
jogja@dompetdhuafa.org


