Misteri Kehidupan Setelah kematian dalam Al Quran, Wajib Tahu!

Misteri Kehidupan Setelah kematian dalam Al Quran, Wajib Tahu!

Misteri Kehidupan Setelah kematian dalam Al Quran, Wajib Tahu!

Salah satu rukun iman yang wajib umat Muslim yakini adalah iman kepada hari akhir. Tiap-tiap hamba Allah wajib untuk percaya akan adanya kehidupan setelah kematian.

Ustadz Ahmad Zainuddin Al-Banjary, dalam salah satu kajiannya  menyebut membicarakan misteri kehidupan setelah kematian, sama halnya dengan membicarakan akidah atau iman kepada hari akhir. Hal ini perlu tertanam dalam hati dan pikiran tiap-tiap umat Muslim.

Rasulullah SAW dalam HR Ibnu Majah no. 4.258 pernah berucap, “perbanyaklah mengingat sesuatu yang memutuskan kenikmatan, yaitu kematian”. Bahkan kepada para sahabat, Nabi berpesan agar mengingat kematian ini lebih dari shalat yang pengerjaanya sebanyak lima kali dalam sehari.

“Kita (umat) juga diminta untuk memperbanyak mengingat kematian. Dengan mengingat kemtian, kita mendapatkan pahala karena ini adalah ibadah yang disyariatkan oleh Allah SWT,” ujar Ustaz Ahmad kepada jamaah kajian agam di Masjid Jami’ Al Mubarak, Senin (15/10).

Gaya hidup para sahabat pun dalam urusan hari akhir selalu menjadi yang paling sempurna. Semuanya mencari surga yang paling tinggi dan megah, surga Firdaus.

Dalam urusan akhirat tiap umat harus mencari yang paling utama

Ustaz Ahmad melanjutkan, dalam urusan akhirat atau hari akhir, maka tiap umat harus mencari yang paling utama, paling tinggi, dan paling sempurna. Orang yang paling baik akhlaknya dan paling banyak mengingat kematian, maka ia adalah orang yang paling baik persiapannya dalam menjemput kematian.

Mengingat kehidupan setelah kematian telah menjadi kebiasaan baik bagi Nabi maupun para sahabat. Nabi Muhammad SAW tidak pernah berhenti untuk mengingatkan tentang adanya surga dan neraka. Bahkan saking seringnya hari akhir ini menjadi perbincangan dalam majelis, para sahabat bahkan menganggap kehadiran surga dan neraka ini seperti kasat mata. Mereka mampu melihat di depan mata kepala mereka meski hal ini masih menjadi rahasia Allah SWT.

“Tidak akan ada yang bisa menyelamatkan seseorang dari akhirat, kecuali dirinya sendiri. Tidak akan pernah orang masuk ke dalam neraka kecuali ia tauhid. Kalaupun orang bertauhid masuk neraka, ia tidak akan selamanya di sana,” ucapnya.

Ia pun mewanti-wanti jamaah agar tidak berperilaku seperti orang kafir. Orang kafir akan senantiasa rakus dalam umur. Sepanjang hidupnya, orang kafir hanya akan berpikir bagaimana cara agar bisa hidup di dunia selama-lamanya. Sementara sebagai seorang Muslim akan memikirkan bagaimana cara bertahan setelah kematian.

Sifat orang kafir akan terlalu sibuk dengan urusan duniawi. Bagaimana mereka bisa menikmati hidup di dunia yang fana dan sementara ini dengan penuh. Mereka tidak akan pernah berpikir bagaimana jika mereka nanti mati.

Dalam surat ar-Rum ayat 7 Allah berfirman, “Mereka (orang akfir) hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia. Sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.”

Kehidupan setelah kematian sejatinya mulai dari sesaat setelah ruh manusia berpisah dari jasadnya dan terangkat ke langit lalu kembali lagi ke alam barzah. Dalam surat al-Ankabut ayat 57 Allah berfirman, “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”

Setiap orang akan merasakan kematian

Setiap orang akan merasakan kematian, tanpa terkecuali kepada Nabi sekalipun. Hakikat dari kematian adalah waktu terputusnya untuk beramal dan masuk dalam alam hisab.

Di dunia, orang cenderung bebas melakukan hal apapun. Baik yang bersifat baik maupun buruk. Ini terjadi karena tidak akan ada yang menghitung dan menilai setiap perbuatan manusia di dunia. Namun berbeda dengan setelah kematian, sekecil apapun perbuatan di dunia akan dipertanggungjawabkan.

Untuk menyiapkan kehidupan setelah kematian, Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Abdullah bin Umar RA, “Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah seseorang yang asing, atau seorang musafir.” Nabi selalu memberikan pesan kepada sahabat untuk tidak menyianyiakan waktu yang dipunya selama di dunia dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam urusan agama.

Kematian sejatinya adalah pembeda antara dunia ini dan dunia yang hidup selama-lamanya. Kematian adalah pemisah antara waktu untuk beramal dan waktu untuk ganjaran atas amal, serta pemisah antara waktu pengumpulan amal dan perhitungan atas amal yang sudah dikumpulkan.

Setelah kematian datang, tidak ada satupun yang bisa mengungkapkan alasannya dalam berperilaku selama hidup di dunia. Ia akan menanggung segala dosa maupun pahala yang dikumpulkan selama masa hidupnya.

“Tidak ada seorangpun yang tahu kapan ia akan mati. Bahkan nabi pernah bersabda bahwa sesungguhnya tiap-tiap manusia berada dalam bahaya karena tidak tahu kapan akan mati. Kematian tidak membedakan mana anak-anak dan mana yang tua, pun tidak membedakan mana yang sakit kronis dan parah dengan yang sehat walafiat,” ujar Ustaz Ahmad.

Dalam HR Al-Hakim dan Bukhori disebut Rasul pernah bersabda, “Sesungguhnya jika Allah menghendaki untuk mencabut nyawa seorang hamba di suatu tempat, maka Allah jadikan hamba itu memiliki keperluan di tempat tersebut.”

Alam kubur menjadi persinggahan pertama

Terakhir, Ustaz Ahmad mengingatkan, alam kubur akan menjadi persinggahan pertama bagi ruh yang telah tercabut dari jasadnya. Siapa yang selamat dalam kubur maka setelahnya kehidupan di akhirat akan lebih mudah. Namun bagi siapapun yang bersusah-susah dalam menjalani kehidupan di alam kubur, maka seterusnya ia tidak akan pernah tenang.

Ia pun mengingatkan bahwa saat pencabutan ruh ini terjadi, ada perbedaan yang para malaikat pencabut nyawa lakukan. Hal ini tentu melihat dari amal dan ibadah masing-masing manusia.

Kepada orang yang beriman, para malaikat akan turun dari langit dan wajah para malaikat ini putih bagai matahari. Mereka akan membawa kain kafan dan tandu dari surga. Sementara bagi orang kafir, wajah para malaikat ini akan berwarna hitam dan mereka membawa kain dan tandu yang berasal dari api neraka.

Bagi orang yang beriman, ketika ruh mereka tercabut. Maka akan terasa lancar seperti air yang keluar dari dalam mulut meskipun tetap terasa sakit. Namun bagi orang kafir, Rasulullah SAW mengibaratkan prosesnya seperti mencabut bulu domba yang basah, berat. “Akibat saking kerasnya tarikan yang malaikat pencabut nyawa lakukan, seluruh urat akan putus dan setiap otot yang ada pada tubuh akan pecah,” ucap Ustaz Ahmad.

Harta dan prestasi yang  manusia miliki selama hidup tidak akan mereka bawa dalam kubur. Semua itu akan tertinggal dan hanya menyisakan amal saleh. Amal ini lah yang akan membantu manusia saat berada di alam kubur.

“Hidup di dunia adalah untuk mencari bekal bagi kehidupan setelah kematian. Persiapkan diri terhadap kematian. Istiqomah lah dalam hidup dan mudah-mudahan dimudahkan saat menghadapi hari kematian,” ujar Ustaz Ahmad.

Tahap Kehidupan Setelah Kematian Menurut Islam

1. Alam Kubur atau Alam Barzah

Di alam kubur, manusia akan bertemu dengan malaikat Munkar dan Nakir yang akan bertanya pada mereka mengenai agama.

Malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya kepada manusia siapa Tuhan mereka, apa agama yang mereka percayai, apa kitab yang mereka baca, dan siapa Nabi mereka.

Manusia akan terus berada di alam kubur sampai tiupan sangkakala berbunyi.

2. Hari Kebangkitan

Setelah tiupan sangkakala oleh malaikat Israfil bunyikan, dunia akan mengalami kiamat dan semua makhluk hidup dunia akan binasa.

Kemudian, malaikat Israfil akan meniupkan kembali sangkakala kedua yang akan membangkitkan semua makhluk hidup di dunia.

Tiupan sangkakala kedua tersebut menjadi tanda hari kebangkitan dimulai.

3. Padang Mahsyar

Setelah manusia bangkit, mereka akan terkumpulkan pada padang mahsyar.

Padang mahsyar merupakan sebuah tempat datar yang sangat luas dan kering dengan matahari berjarak hanya satu jengkal dari kepala manusia dan terus menyinari padang ini.

Saat berada pada padang mahsyar, orang-orang kafir dan musyrik akan merasa sangat kepanasan.

Sedangkan itu, umat muslim tidak merasakan kepanasan karena terlindung Allah Swt.

Setiap manusia yang ada pada padang mahsyar mulai teradili amal perbuatannya dengan iringan dua malaikat.

Malaikat pertama bertugas sebagai pengiring manusia, sedangkan malaikat kedua bertugas sebagai saksi perbuatannya di dunia.

4. Yaumul Mizan atau Hari Penimbangan

Setelah bangkit pada padang mahsyar, manusia akan berkumpul berdasarkan Nabinya.

Mereka akan berbaris dan menunggu yaumul mizan atau hari penimbangan yaitu ketika amalan mereka tertimbang baik dan buruknya.

Sementara itu, jika manusia lebih berat timbangan amal buruknya, maka dia mendapatkan kecelakaan.

5. Yaumul Hisab atau Hari Perhitungan

Selanjutnya yaitu penghitungan amal perbuatan manusia di yaumul hisab atau hari perhitungan.

Hal ini tertulis di Al-Qur’an suratS Al-Ghashiyah 25:26 yang berbunyi

Allah berfirman, “Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.”

Amal perbuatan manusia terbagi menjadi dua saat perhitungan, yaitu hisab yang mudah dan hisab yang sulit.

Berdasarkan hadis Ahmad, Rasullullah saw. menjelaskan apa itu hisab mudah.

Berikut bunyinya:

“Kemudian dari Aisyah r.a. ia bertanya tentang apa itu hisab yang mudah. Rasullullah saw. lantas menjawab “Allah memperlihatkan kitab (hamba)-Nya kemudian Allah memaafkannya begitu saja. Barang siapa yang dipersulit hisabnya, niscaya ia akan binasa.” (HR. Ahmad)

6. Jembatan Shirathol Mustaqim

Kehidupan setelah kematian berikutnya menurut Islam adalah melewati jembatan shirathol mustaqim.

Jembatan ini konon hanya memiliki lebar sekecil rambut dan sulit untuk dilewati.

Orang-orang yang lolos menyebrangi jembatan ini akan masuk ke surga, sedangkan orang-orang yang jatuh akan masuk ke neraka.

Bagi manusia yang timbangan amal kebaikannya tinggi, ia akan mudah menyebrangi jembatan ini.

Sementara itu, manusia yang timbangan amal kebaikannya sedikit akan kesulitan menyebrangi jembatan ini.

7. Surga dan Neraka

Kehidupan setelah kematian terakhir adalah tinggal di surga atau neraka.

Surga adalah sebaik-baiknya tempat kembali, di surga kamu tidak pernah mengalami kesedihan, penderitaan, dan kesengsaraan.

Surga Allah ciptakan untuk umatnya yang beramal saleh dan berhati bersih.

Sementara itu, neraka merupakan seburuk-buruknya tempat kembali dan penuh dengan penyiksaan, kesedihan, dan kesengsaraan.

Orang-orang yang berbuat keburukan akan tinggal di neraka sebagai balasan keburukan yang mereka lakukan di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

error: Content is protected !!