Gunungkidul, 30 Juli 2026 – Komitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga membekali keterampilan hidup terus diwujudkan Dompet Dhuafa Yogyakarta melalui Program Sidomukti (Sinau Budoyo Lumantar Batik). Setelah melalui proses pembelajaran dan pendampingan selama beberapa bulan, sebanyak 10 sekolah dampingan angkatan kedua kini memasuki tahap baru, yaitu mempersiapkan produksi batik khas sekolah sebagai langkah menuju kemandirian.
Tahapan tersebut ditandai dengan pelaksanaan monitoring dan evaluasi (monev) akhir yang berlangsung pada 27, 28, dan 30 Juli 2026 di sejumlah sekolah dampingan di Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan ini menjadi bagian penting untuk memastikan setiap sekolah siap memulai proses produksi setelah sebelumnya menyelesaikan presentasi akhir pada Mei 2026 dan melakukan penyempurnaan desain berdasarkan masukan dari tim pendamping.

Proses pendampingan program SIDOMUKTI secara langsung oleh Bapak Nurohmad kepada salah satu sekolah binaan Dompet Dhuafa Yogyakarta SD N Jurang Jero Ngawen Gunungkidul
Dalam proses monitoring, Bapak Nurohmad selaku guru pendamping melakukan evaluasi terhadap hasil karya setiap sekolah, mulai dari orisinalitas motif, komposisi desain, kerapian hasil cap, hingga kualitas pewarnaan. Sementara itu, tim Dompet Dhuafa Yogyakarta meninjau kesiapan sekolah dari sisi manajemen produksi, ketersediaan bahan dan peralatan, pembagian tugas dalam tim, hingga perencanaan pengembangan usaha batik di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Dompet Dhuafa Yogyakarta bersama institut kemandirian cetak 15 barber siap kerja
Setelah seluruh tahapan evaluasi dinyatakan memenuhi standar, sekolah menerima subsidi modal produksi sebagai bentuk dukungan agar proses pembuatan batik dapat segera dimulai. Dukungan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi sekolah untuk mengembangkan unit usaha batik yang mampu memberikan manfaat jangka panjang sekaligus menjadi media pembelajaran bagi para siswa.
Lebih dari sekadar menghasilkan karya, Program Sidomukti mengajak sekolah untuk menjadikan batik sebagai sarana belajar yang menghubungkan pendidikan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi. Setiap motif yang lahir merupakan hasil eksplorasi identitas dan potensi lokal yang dimiliki masing-masing sekolah, sehingga memiliki nilai khas yang membedakannya dari sekolah lainnya.

Proses monitroing dan evaluasi program SIDOMUKTI hasil batik dari sekelohan binaan Dompet Dhuafa Yogyakarta oleh Bapak Nurohmad selaku guru pendamping
Proses monitoring juga menjadi ruang diskusi antara pendamping dan pihak sekolah. Berbagai masukan diberikan untuk menyempurnakan proses produksi, mulai dari aspek teknis hingga strategi pengelolaan usaha. Pihak sekolah menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan karena tidak hanya mengajarkan teknik membatik, tetapi juga mendampingi mereka dalam membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Proses monitroing dan evaluasi program SIDOMUKTI hasil batik dari sekelohan binaan Dompet Dhuafa Yogyakarta oleh Bapak Nurohmad selaku guru pendamping
Melalui Program Sidomukti, Dompet Dhuafa Yogyakarta percaya bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk melahirkan generasi yang kreatif, mandiri, dan bangga terhadap warisan budaya bangsa. Ketika keterampilan, karakter, dan semangat kewirausahaan tumbuh sejak di bangku sekolah, maka akan lahir lebih banyak generasi muda yang mampu menciptakan peluang sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ke depan, Dompet Dhuafa Yogyakarta berharap setiap sekolah dampingan mampu menghadirkan batik khas yang tidak hanya menjadi identitas sekolah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan membuka ruang pembelajaran yang berkelanjutan. Dengan demikian, Program Sidomukti diharapkan terus menjadi ikhtiar dalam melestarikan budaya batik sekaligus memperkuat kemandirian sekolah melalui pendidikan yang berdampak.
(0274) 390 0701
WhatsApp 0812 1573 9066
jogja@dompetdhuafa.org


