Header Dompet Dhuafa Jatim
meleadani akhlak Rasulullah

Seusai Rasulullah ﷺ wafat, kota Madinah dipenuhi tangisan duka. Para sahabat larut dalam kehilangan sosok yang selama ini menjadi cahaya kehidupan mereka. Dalam suasana itu, seorang Arab badui datang menemui Umar bin Khattab dan berkata, “Ceritakan padaku akhlak Muhammad!” Umar menunduk, lalu menangis. Ia tak sanggup berkata apa pun. Ia hanya menyuruh lelaki itu menemui Bilal. Namun Bilal pun menangis tersedu, lalu menyarankan untuk bertemu Ali bin Abi Thalib.

Ali berkata, “Wahai saudaraku, engkau takkan sanggup menggambarkan seluruh keindahan dunia. Lalu bagaimana aku bisa melukiskan akhlak Muhammad, padahal Allah berfirman bahwa beliau memiliki akhlak yang agung?” (QS. Al-Qalam [68]: 4).

Akhirnya, lelaki itu mendatangi Aisyah r.a. Istri tercinta Rasulullah ini berkata singkat, “Khuluquhu al-Qur’an” — Akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Nabi Muhammad ﷺ adalah cerminan nyata dari setiap ayat yang diturunkan Allah.

Baca Juga: detik detik wafat rasulullah saw dan cinta abadi untuk umatnya

Akhlak Nabi dalam Rumah Tangga

Siti Aisyah pernah bercerita bahwa saat malam tiba, ketika mereka sudah berbaring bersama, Rasulullah berkata lembut, “Wahai Aisyah, izinkan aku menghadap Tuhanku.” Begitu dalam kasihnya , suami yang penuh cinta, namun tetap mendahulukan ibadah. Dalam kisah lain, saat pulang larut malam, beliau tidur di depan pintu rumah agar tidak membangunkan Aisyah. Betapa besar rasa hormat dan kasih Nabi terhadap istrinya.

Nabi bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Akhlak Nabi kepada Sahabat

Suatu hari, seorang sahabat datang terlambat ke majelis Nabi. Melihat tak ada tempat duduk, Rasulullah ﷺ memanggilnya dan melipat sorbannya untuk dijadikan alas duduk. Sang sahabat menangis terharu, mencium sorban itu, dan berkata, “Siapa yang bisa menyamai kelembutan hati beliau?

Begitulah Rasulullah , pemimpin yang merendah dan memuliakan sahabatnya. Beliau selalu menebar cinta dan tidak pernah merendahkan siapa pun.

Rasul juga gemar memuji sahabat-sahabatnya. Abu Bakar disebut sebagai “teman sejati dalam gua”, Umar sebagai sosok yang ditakuti setan, Utsman dijuluki Dzun Nurain (pemilik dua cahaya), dan Ali sebagai pintu ilmu. Beliau tidak fokus pada kekurangan, tetapi menonjolkan kelebihan setiap sahabatnya, sebuah teladan tentang bagaimana mencintai dan menghargai orang lain.

Keteladanan dalam Menepati Janji dan Rendah Hati

Nabi adalah sosok yang teguh dalam menepati janji, bahkan kepada kaum kafir. Saat seorang sahabat hijrah terlambat tiba di Madinah, Rasul menyuruhnya kembali karena telah ada perjanjian yang disepakati. Bagi beliau, janji adalah amanah suci.

Ketika menjelang wafat, Rasulullah ﷺ bahkan mempersilakan seorang sahabat menuntut qishash karena pernah disentuh tongkatnya di medan perang. Namun sahabat itu justru memeluk Nabi sambil menangis, “Aku hanya ingin merasakan tubuhmu sebelum Allah memanggilmu.” Begitulah cinta dan kelembutan yang tumbuh dari akhlak Rasul yang penuh kasih.

Akhlak Nabi di Hadapan Musuh

Suatu ketika, utusan Quraisy bernama Utbah bin Rabi‘ah datang menawarkan kekuasaan dan harta jika Nabi menghentikan dakwahnya. Rasulullah ﷺ mendengarkan dengan tenang tanpa menyela sedikit pun. Setelah Utbah selesai bicara, beliau hanya membacakan surat Fushilat dengan suara lembut hingga ayat sajdah. Utbah terdiam dan pulang dengan hati bergetar. Itulah bukti akhlak Nabi: sabar, santun, dan berilmu, bahkan terhadap orang yang menentangnya.

Warisan Abadi Rasulullah ﷺ

Di penghujung hidupnya, saat haji Wada’, Rasulullah ﷺ berkata, “Bukankah telah kusampaikan wahyu dari Allah kepada kalian?” Para sahabat menjawab, “Benar, ya Rasul.” Beliau pun menengadah dan berseru tiga kali, “Ya Allah, saksikanlah… Ya Allah, saksikanlah.”

Kini, cinta itu tetap hidup di hati umatnya. Kita mungkin tak pernah melihat wajah beliau, tapi setiap kali membaca kisah-kisah akhlaknya, hati ini seolah kembali disentuh oleh kelembutan seorang kekasih Allah.

Pelajaran Berharga

  1. Akhlak Rasulullah adalah manifestasi Al-Qur’an.
  2. Hormati keluarga, sahabat, dan sesama manusia.
  3. Jaga lisan dan hati dari celaan.
  4. Tegakkan janji, karena ia bagian dari iman.
  5. Semoga kita mampu meneladani akhlak mulia Rasulullah ﷺ dalam setiap langkah kehidupan.
  6. Ya Allah, jadikan kami umat yang mencintai dan meniru akhlak Nabimu.

Share ke temanmu