Header Dompet Dhuafa Jatim

Bulan Muharram sering menjadi pengingat bahwa setiap awal adalah kesempatan baru. Kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal kebaikan, dan menumbuhkan harapan yang mungkin sempat memudar di perjalanan sebelumnya.

Di antara hari-hari istimewa pada bulan ini, tanggal 10 Muharram atau yang dikenal sebagai Hari Asyura memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Islam. Banyak kisah yang dikaitkan dengan hari tersebut, mulai dari peristiwa yang terjadi pada masa para nabi hingga keutamaan ibadah yang dianjurkan Rasulullah ﷺ.

Lalu, apa saja peristiwa 10 Muharram dalam Islam yang sering disebut dalam berbagai literatur keislaman?

Hari Asyura dan Kisah Nabi Musa AS

Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati sebagian kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Saat ditanya alasannya, mereka menjelaskan bahwa hari itu adalah hari ketika Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu kisah yang paling kuat keterkaitannya dengan tanggal 10 Muharram. Allah memberikan jalan keselamatan bagi Nabi Musa AS dan pengikutnya, sementara Fir’aun beserta pasukannya ditenggelamkan.

Kisah ini bukan hanya tentang kemenangan atas kezaliman, tetapi juga tentang keyakinan bahwa pertolongan Allah dapat hadir bahkan ketika keadaan tampak begitu sulit.

Baca Juga: berapa hari puasa muharram yang dianjurkan?  ini jadwal dan keutamaannya

Kisah-Kisah yang Dikenang pada 10 Muharram

Dalam berbagai kitab sejarah Islam, terdapat sejumlah riwayat yang mengaitkan 10 Muharram dengan peristiwa penting lainnya dalam perjalanan para nabi. Di antaranya adalah kisah diterimanya taubat Nabi Adam AS, selamatnya Nabi Nuh AS dari banjir besar, hingga kesembuhan Nabi Ayyub AS setelah masa ujian yang panjang.

Para ulama menjelaskan bahwa tidak semua riwayat tersebut memiliki tingkat keabsahan yang sama. Namun, kisah-kisah tersebut tetap mengandung pesan yang menginspirasi tentang harapan, kesabaran, dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Mengapa Hari Asyura Begitu Istimewa?

Selain karena peristiwa sejarah yang dikenang, 10 Muharram juga memiliki keutamaan dalam ibadah. Rasulullah ﷺ menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada hari Asyura.

Beliau bersabda:

“Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Karena itu, banyak Muslim yang menyambut datangnya 10 Muharram dengan menjalankan puasa sunnah sebagai bentuk syukur dan ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tentang Harapan yang Selalu Ada

Jika ada benang merah yang menghubungkan banyak kisah pada 10 Muharram, mungkin itu adalah tentang harapan.

Nabi Musa AS menghadapi kejaran Fir’aun ketika jalan di depannya tampak tertutup. Nabi Ayyub AS melewati masa sakit yang panjang. Nabi Nuh AS menghadapi ujian yang tidak ringan dalam berdakwah. Namun pada akhirnya, pertolongan Allah datang dengan cara terbaik menurut kehendak-Nya.

Karena itu, Hari Asyura sering menjadi momen refleksi bagi banyak Muslim. Bahwa di tengah berbagai tantangan kehidupan, selalu ada ruang untuk berharap, berdoa, dan melanjutkan ikhtiar.

Menjadikan Muharram Lebih Bermakna

Muharram tidak hanya mengajak kita mengenang peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam. Bulan ini juga menjadi kesempatan untuk menghadirkan lebih banyak kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada yang menyambutnya dengan berpuasa, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, atau meluangkan sebagian rezekinya untuk membantu mereka yang membutuhkan. Setiap kebaikan memiliki makna, sekecil apa pun bentuknya.

Sebab sering kali, apa yang terasa sederhana bagi kita dapat menjadi harapan yang besar bagi orang lain.

Peristiwa 10 Muharram dalam Islam mengingatkan kita pada kisah-kisah tentang keselamatan, kesabaran, dan pertolongan Allah SWT. Di antara yang paling dikenal adalah peristiwa diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun, yang kemudian menjadi latar dianjurkannya puasa Asyura.

Lebih dari sekadar mengenang sejarah, Hari Asyura dapat menjadi ruang untuk merenungkan perjalanan hidup, mensyukuri nikmat yang telah diberikan, serta menumbuhkan kepedulian kepada sesama. Semoga setiap langkah kebaikan yang dihadirkan pada bulan Muharram menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat dan penuh syukur.

Share ke temanmu