Sedekah Menolak Bala, Keajaiban Sedekah Tak Banyak Orang Tau!

Sedekah Menolak Bala, Keajaiban Sedekah Tak Banyak Orang Tau!

Sedekah Menolak Bala – Sebuah kutipan hadits yang tidak asing di telinga kita. Sedekah yang berarti mengeluarkan sebagian hal yang kita miliki baik berupa harta, tenaga, dan ilmu. Yang mana merupakan bentuk rasa syukur kita terhadap berjuta-juta nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita.

Sedekah bisa kita lakukan hanya dengan memberikan senyum, mengajarkan ilmu. Hingga memberikan harta yang kita miliki untuk mereka yang membutuhkan, atau mendanai kegiatan sosial dan dakwah.

Kita sudah mengetahui bahwa bersedekah memiliki banyak manfaat, tidak hanya untuk orang yang mendapatkan sedekah, tetapi juga untuk orang yang memberikannya. Manfaat sedekah yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas antara lain mendapatkan pahala dan berkah dari Allah SWT, membuka pintu rezeki, menjaga keikhlasan hati, menghindarkan diri dari sifat kikir, meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan psikologis, serta berbagai manfaat lainnya.

Baca Juga: Sedekah di Hari Jumat, Ini Keutamaan yang Wajib Kamu Tau!

Sedekah Menolak Bala

Selain itu, salah satu manfaat yang pernah ditegaskan Rasulullah SAW melalui sabdanya adalah menghindarkan diri kita dari bencana, musibah, dan menolak bala. Hal ini pernah diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan Thabrani.

Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah. Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah. Obatilah penyakitmu dengan sedekah. Sedekah itu sesuatu yang ajaib. Sedekah menolak 70 macam bala dan bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo)” (HR. Baihaqi dan Thabrani).

Dari hadits tersebut kita dapat mengetahui bahwa ketika kita melakukan amal kebaikan maka hal tersebut dapat menolak bala atau musibah yang mungkin akan terjadi. Sebab, Allah SWT mengetahui segala yang terjadi di dunia ini dan memberikan ujian kepada hamba-Nya sesuai dengan hikmah-Nya.

Jadi, apabila kita memberikan sedekah dengan tulus dan ikhlas, maka Allah SWT akan memberi kita pertolongan dalam menghadapi ujian yang sedang kita alami.

Dan sebaliknya, apabila kita bersedekah dengan mengharapkan balasan dari orang lain atau pujian yang membuat kita tidak ikhlas, maka kita tidak akan mendapatkan manfaatnya. Yang ada, kita hanya akan mengeluarkan apa yang kita miliki dan mendapatkan apa yang kita niatkan.

Niat menjadi salah satu hal penting ketika kita melakukan sesuatu. Hal ini tertulis pada hadits arba’in an-Nawaiyah ke-1 yakni, ”Sesungguhnya setiap amal itu dengan/tergantung niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang diinginkan…”.

Jelaslah dari hadits tersebut, bahwa segala yang kita lakukan akan tergantung pada niat kita. Apabila kita tidak tulus dan ikhlas untuk bersedekah, melainkan hanya mengharapkan balasan dan pujian dari orang lain, maka hanya itulah yang akan kita dapatkan.

Amalan Berjuta Kebaikan

Sedekah merupakan amal kebaikan yang sangat teranjurkan dan memiliki banyak manfaat. Sehingga, sebagai manusia yang beriman, kita harus senantiasa berusaha untuk melakukan sedekah dengan tulus dan ikhlas, tanpa mengharapkan balasan dari orang penerima sedekah kita. Kita juga harus selalu mengingat bahwa Allah SWT akan memberikan ganjaran yang lebih besar bagi orang yang melakukan sedekah dengan tulus dan ikhlas.

Kita juga sudah seharusnya mengajarkan nilai-nilai sedekah dengan tulus dan ikhlas kepada generasi muda. Sehingga mereka dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan mengerti arti kebaikan serta kepedulian terhadap sesama. Dengan melakukan sedekah, kita tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga membantu diri kita sendiri dalam meperoleh kebahagiaan.

Oleh karena itu, mari kita selalu berusaha untuk bersedekah dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun hanya dengan memberikan sedikit waktu atau kebaikan kepada orang lain. Kita tidak pernah tahu betapa besar pengaruh dari kebaikan. Kita lakukan pada orang lain dan betapa besar manfaat yang bisa kita peroleh.

Semoga kita senantiasa Allah berikan kemampuan dan kesempatan untuk melakukan sedekah. Dalam kondisi apapun di kehidupan sehari-hari dan selalu terjauhkan dari segala macam bala musibah yang mengancam.

Editor: Dompet Dhuafa Jogja

YUK SEDEKAH!

Rezeki Dari Allah Tidak Akan Tertukar

Rezeki Dari Allah Tidak Akan Tertukar

Rezeki Dari Allah Tidak Akan Tertukar – Salah satu perkara dunia yang banyak sekali manusia khawatirkan adalah mengenai rezeki. Banyak orang yang rela untuk pergi pagi dan pulang malam untuk menjemput rezeki. Bahkan tak jarang hal tersebut membuat akhirat terlupakan karena terlalu sibuk dengan mengejar rezeki dunia. Meskipun jika membandingkan usaha dengan hasilnya kadang tidak sebanding.

Dalam hidup ini, ada orang yang berhasil meraih kekayaan melalui kerja keras dan usaha yang tak kenal lelah. Di sisi lain, ada pula yang sejak lahir sudah memiliki harta melimpah. Namun, tak sedikit pula orang yang bekerja keras namun tak kunjung memperoleh hasil yang memadai, sementara ada yang terlihat sukses secara tiba-tiba meski sebelumnya hidupnya malas dan tak produktif. Bagaimana perspektif Islam mengenai perbedaan rezeki dan kesuksesan yang ada?

Baca Juga: Tujuh Penghambat Rezeki Datang, Nomer 2 Sering Tak Disadari!

Benarkah rezeki dari Allah tidak akan tertukar?

rezeki dari Allah tidak akan tertukar

Sebelum kita membahas mengenai apakah rezeki bisa tertukar, mari kita bahas terlebih dahulu mengenai apa itu rezeki. Segala pemberian Allah yang memiliki daya guna, bermanfaat, dan manusia dapat memanfaatkannya sebagai sumber kehidupan, hal tersebut merupakan rezeki. Tak hanya itu dapat pula mengartikan rezeki sebagai bentuk karunia, anugrah, atau pemberian dari Allah untuk makhluknya.

Dalam QS Ar-Rum: 40, Allah menyatakan bahwa hanya Dia yang menciptakan manusia, memberikan rezeki, dan mematikan kemudian menghidupkan mereka kembali. Tak ada satu pun dari sekutu yang manusia agungkan mampu melakukan hal yang sama seperti Allah. Maha Suci Dia dan terpelihara dari apa yang manusia anggap sebagai persekutuan. Hal ini menegaskan kekuasaan mutlak Allah atas kehidupan dan kematian, serta mengajak manusia untuk hanya menyembah-Nya semata.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat tersimpulan bahwa bentuk rezeki tidak hanyalah sebatas dalam bentuk material uang, namun meliputi seluruh aspek kehidupan seperti kesehatan, keluarga, kepandaian, dan lain sebagainya.

Terkadang manusia terlalu fokus pada nikmat rezeki berupa uang sampai melupakan nikmat lainnya yang telah Allah berikan.

Dalam HR. Muslim Allah menjamin rezeki yang seseorang bahkan sebelum ia lahir, sehingga tidak mungkin rezeki kita tertukar dengan orang lain karena rezeki tersebut telah Allah atur dari ribuan tahun sebelum kita lahir ke dunia.

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu dapat berbuat demikian? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutuan.”

Selain hadis tersebut Allah juga telah menjelaskan bahwa rezeki seseorang telah Allah atur dalam surah Hud ayat 6 yang berbunyi:

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu dapat berbuat demikian? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutuan.” (QS. Hud : 6)

Jika begitu untuk apa bekerja?

Meskipun Allah menjamin rezeki bagi setiap makhluk-Nya, hal ini tak boleh menjadi alasan untuk bermalas-malasan dan tidak berusaha. Sebaliknya, Allah memerintahkan kita untuk terus berusaha, berdoa, dan melakukan kebaikan sebanyak mungkin karena takdir tidak dapat terprediksi.

Dengan tekun dan gigih bekerja keras serta melakukan perbuatan baik, kita akan memperoleh kemudahan dalam mencapai takdir yang telah Allah tetapkan untuk kita. Oleh karena itu, jangan berhenti berusaha dan tetaplah memohon petunjuk-Nya agar kita selalu berada di jalan yang benar.

Para sahabatpun pernah bertanya pada Rasullah mengenai permasalah tersebut. Hal ini seperti dalam sebuah hadist yang berbunyi:

“Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha?”

Dalam hadistnya, Rasulullah mengajarkan bahwa setiap manusia telah Allah SWT tentukan nasibnya, baik sebagai orang yang berbahagia maupun sengsara. Namun, hal tersebut tercermin dalam perbuatan dan tindakan yang orang tersebut lakukan.

Oleh karena itu, seseorang yang berbahagia akan cenderung melakukan perbuatan-perbuatan yang membawa kebahagiaan, sedangkan seseorang yang sengsara cenderung melakukan perbuatan yang menyebabkan kesengsaraan. Hadist ini menegaskan pentingnya bersikap positif dan mengarahkan tindakan ke arah yang positif agar dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Rasulullah melanjutkan dalam sabdanya: “Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara.” (H.R Muslim)

Dari hadits tersebut dapat kita simpulkan bahwa untuk mendapatkan rezeki, kita sebagai muslim perlu untuk berusaha karena takdir akan mengarah sesuai dengan apa yang telah ia perbuat.

Lalu mengapa Allah tidak melapangkan rezeki yang sebesar-besarnya bagi umat manusia?

Ada seseorang yang memiliki harta yang melipah, kesehatan, keluarga yang harmonis. Namun ada juga yang memiliki kondisi sebaliknya yang tidak memiliki salah satunya ataupun seluruhnya. Ingat bahwa Allah merupakan dzat yang maha mengetahui, ia telah menakdirkan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Allah juga mengetahui apa yang hamba-Nya butuhkan.

Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (Q.S Asy-Syuraa: 27)

Mari kita tingkatkan rasa bersyukur pada apa yang telah kita miliki saat ini sebagai seorang hamba. Bisa saja apa yang saat ini kita miliki merupakan salah satu yang terbaik bagi kita meskipun kita belum menyadarinya. Sungguh Allah maha mengetahui segala sesuatu yang terbaik bagi hambanya.

Nasihat bagi yang rezekinya sedikit

Ingat sahabat Allah merupakan dzat yang maha pengasih, ia maha mengetahui hal terbaik bagi umatnya. Mari kita kurangi untuk mengeluh karena rezeki yang kita miliki lebih sedikit dibandingan dengan orang lain. Bisa saja itu merupakan bentuk ujian dari Allah dengan imbalan Allah menaikkan derajat kita sebagai umatnya yang tinggi di sisi Allah pada hari akhir nanti.

Editor: Dompet Dhuafa Jogja

Sedekah Sekarang

Tips Agar Anak Terbiasa Bangun Pagi, Bunda Harus Tau!

Tips Agar Anak Terbiasa Bangun Pagi, Bunda Harus Tau!

Tips agar anak terbiasa bangun pagi – Bangun di pagi hari masih sulit dilakukan untuk sebagian orang, apalagi pada anak-anak. Kebanyakan orangtua merasa tak tega jika harus membangunkan anaknya yang tidur pulas. Padahal bangun pagi sangat penting untuk diterapkan sejak dini agar anak terbiasa dan mendapat berkah dalam menjalani aktivitasnya.

Waktu pagi adalah waktu yang sangat berkah. Udara masih terasa bersih dan sejuk sehingga baik untuk kesehatan. Tubuh akan merasa jauh lebih segar ketika melakukan aktivitas karena di pagi hari otak masih fresh untuk berpikir.

Sebagai seorang muslim, hendaknya kita tidak membiasakan untuk tidur setelah sholat subuh, apalagi sampai melalaikan kewajiban sholat dan memilih meneruskan tidur. Tentunya ada banyak manfaat yang kita peroleh jika bangun lebih awal, salah satunya adalah dapat  menyiapkan diri lebih awal sehingga tidak terlambat pergi ke sekolah.

Tips Agar Anak Terbiasa Bangun Pagi

Tips Agar Anak Terbiasa Bangun Pagi

Oleh sebab itu, ada beberapa tips agar anak terbiasa bangun pagi yang dapat Bunda terapkan.

Jangan Begadang

Begadang merupakan salah satu kegiatan yang tanpa sengaja sering dilakukan oleh anak, apalagi jika sudah dihadapkan dengan gadget. Untuk itu sangat penting bagi orangtua untuk mematikan gadget pada malam hari atau sehabis isya’.

Ada hadits yang menunjukkan larangan begadang yakni:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِ

Artinya : “Rasulullah SAW sesungguhnya membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari)

Baca Juga: Waktu Subuh dan Keajaibannya dalam Al-Quran, Apa Itu?

Menetapkan Waktu Tidur

Tetapkan setiap hari jam berapa anak harus tidur. Minimal tidur adalah 8 jam. Jadi, jam tidur yang tepat untuk anak adalah di bawah jam 9. Jadi, usahakan anak sudah tidak melakukan aktivitas apapun di jam tersebut, begitupula dengan orangtua. Anak akan mencontoh kebiasaan dari orangtuanya. Biasakan orangtua selalu mendampingi anak ketika akan tidur. Jika anak dapat tifur lebih awal, maka tidak susah untuk bangun di pagi hari jam setengah 5 untuk menuaikan solat subuh.

Hindari makan berlebih saat malam hari

Makan yang berlebihan dapat membuat seseorang lebih cepat mengantuk dan membuat tidur menjadi nyenyak. Tidur setelah makan tidak baik untuk kesehatan tubuh karena dapat menganggu proses pencernaan. Waktu makan yang baik adalah setelah magrib, dan tidur setelah sholat isya’. Pada kondisi itu, makanan sudah dicerna oleh tubuh.

Tidur dengan Posisi Badan Miring ke Kanan

Salah satu Sunnah Rasulullah SAW ketika tidur adalah memposisikan badan miring ke kanan. Para dokter juga mengemukakan bahwa dengan tidur miring ke kanan baik untuk kesehatan tubuh terutama pencernaan.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Zadul Ma’ad, juga mengemukakan bahwa tidur miring ke kanan membuat makanan berada di tempat yang sempurna dalam lambung, sehingga membantu proses pencernaan yang lebih cepat.

Meminta tolong Allah SWT Dapat Dibangunkan

Sebelum tidur, orangtua dapat menganjurkan pada anak untuk berdoa sebelum tidur dan meminta pertolongan kepada Allah SWT agar dapat bangun lebih awal. Pagi hari merupakan waktu yang berkah dan penuh rahmat dalam menjalankan berbagai aktivitas. Anak akan lebih mudah menyerap pembelajaran di sekolah ketika masih pagi.

Nabi Muhammad SAW meriwayatkan: “Ya Allah berkahilah untuk umatku waktu pagi mereka.” (HR. Abu Dawud).

Buat Sebab Bangun Pagi

Sholat subuh berjamaah dapat digunakan menjadi sebab agar anak bangun pagi. Selain melatih untuk bangun lebih awal, kegiatan ini juga dapat membuat anak terbiasa untuk melaksanakan solat subuh.

Setelah sholat subuh, usahakan jangan membiarkan anak kembali melanjutkan tidur. Bunda dapat mengajak anak untuk belajar sebentar atau melakukan olahraga pagi yang menyehatkan tubuh.

Pasang Alarm

Ketika menyetel alaram pilih bunyi yang menenagkan sehingga ketika anak terbangun dapat langsung menyesuaikan dengan kondisi kamar. Hindari menyetel alarm  dengan bunyi yang keras karena dapat membuat anak kaget.

Konsisten

Terapkan kebiasaan ini minimal seminggu. Anak akan merasa terbiasa dengan hal-hal yang sudah ia lakukan belakangan ini. Insya Allah anak tidak akan sulit lagi untuk bangun lebih awal.

Itulah beberapa tips agar anak terbiasa bangun pagi yang harus bunda ketahui. Ikuti langkah-langkahnya dengan konsisten, jangan pernah bosan untuk membiasakan anak bangun pagi.

Editor: Dompet Dhuafa Jogja

Yuk Sedekah!

Doa Amalan Bulan Rajab Apakah Ada Dalilnya? Simak Berikut!

Doa Amalan Bulan Rajab Apakah Ada Dalilnya? Simak Berikut!

Doa Amalan Bulan Rajab – Ada doa yang biasa dilafalkan umat muslim menjelang bulan Rajab. Namun para ulama belum sepakat dengan hukum Doa tersebut.

Doanya adalah “Allahumma barik lana fi rajaba wasya’bana waballighna ramadhana.”

Yang mana artinya,Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Syaban dan pertemukan kami padda bulan Ramadhan.

Doa amalan bulan rajab tersebut teriwayatkan oleh beberapa ahli hadits. Salah satunya adalah Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar. Imam An-Nawawi menilai status hadits tersebut lemah atau dhaif.

Baca Juga: Keutamaan Bulan Rajab dan Amalannya, Kamu Wajib Tahu!

Dalam kitab Al Adzkar, pada bab tentang puasa, tertulis; Kami meriwayatkan dalam kitab Hilyatul Auliya dengan Sanad lemah yang ia terima oleh Ziyad An-Numair dari Anas bin Malik RA. Ia mengatakan bahwa memasuki bulan Rajab, Nabi SAW bersabda:

“Semoga Allah memberkahi kita di bulan Rajab dan Syaban. Dan sampaikanlah kepada kami dengan bulan Ramadhan.”

Imam An-Nawawi menilai hadits tersebut lemah. Ulama lain menganggap perawi Hadits Ziyad An-Numair yang meriwayatkan hadist tersebut, sebagai munkarul haidst. Ada juga ulama berpendapat bahwa sebuah hadits dapat tertulis namun tidak dapat menjadi dalil (hujah).

Hadits yang mana berupa doa dan harapan baik tersebut, tidak ada hubungannya dengan iman dan ibadah Mahdhah. Hadits ini lemah anggapan para ulama. Imam An-Nawawi nampaknya menilai bahwa kelemahan hadis tersebut tidak terlalu penting karena dalilnya masih ada dalam kitab Al-Adzkar.

Sebagian ulama menyimpulkan bahwa hadits tersebut dhaif namun masih bisa sebagai amalkan. Karena boleh mengamalkan doa seperti dalam Hadits selama seseorang tidak meyakini bahwa Hadits tersebut berasal dari Nabi Muhammad SAW. Allahua’lam

Baca Juga: Amalan Bulan Rajab Menurut Al Quran, Kamu Wajib Tahu!

Doa Amalan Bulan Rajab, Menurut Para Ulama

Doa Amalan Bulan Rajab

Ada riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, belliau, meriwayatkan:

“Ya Allah, berkahilah kami di Rajab dan Sya’ban dan berkahilah kami di bulan Ramadhan.”

Hadits ini tidak teriwayatkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali melalui rantai periwayatan dari perawi Zaidah bin Abi Ar-Raqqad

Perlu dipahami bahwa hadist ini tidak diriwayatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selain dari seorang perawi hadist: Zaidah bin Abi Ruqqad.

Berikut beberapa pendapat para ulama tentang zaidah bin Abi Ruqqad ini:

  • Al-Bukhari mengatakan: “Perawi ini Munkarul Hadits”
  • Abu Daud berkata: “Saya tidak tau hadistnya”
  • An-Nasai berkata: “Saya tidak tahu, siapa orang ini”
  • Ad-Dzhabi Dalam Diwan Ad-Dhu’afa berkata: “Perawi ini tak bisa dijadikan hujah”
  • Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Munkarul Hadist”

Tak hanya itu, seorang perawi yang bernama Ziyad bin Abdillah An-Numairi Al-Bashri. Ia mendapat banyak komentar dari para ulama, antara lain:

  • Yahya bin Main berkata: “Hadistnya dhaif”
  • Abu Ubaid Al-Ayuri berkata: “Saya bertanya kepada Abu Daud tentang Ziyad ini dan beliau melemahkannya.”
  • Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin mengatakan: “Munkarul hadits. Dia meriwayatkan beberapa cerita dari Anas yang sama sekali tidak seperti hadits sebenarnya.”
  • Ad-Daruquthni, “Dia tidak kuat”
  • Ibnu Hajar berkata: “Lemah”

Masuk dalam Kategori Hadist Dhaif

Para ulama hadits juga mengomentari kisah ini:

  • An-Nawawi Al-Adzkar pada Hal. 274 menyatakan, “Kami dapat riwayat dari Hilyatul Auliya dengan sanad yang lemah.”
  • Ad-Dzahabi dalam Mizan I’tidal, 3:96, ketika dia menyebutkan biografi seorang Zaidah bin Abi Ruqqad, beliau berkomentar: “Lemah”.
  • Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 2: 165 berkata: Hadits ini teriwayatkan oleh Al-Bazzar dan sanad Zaidah bin Abi Ruqqad. Al-Bukhari mengatakan: Hadits dari Munkarul Hadist. Sedangkan sebagian ulama lainnya mengatakan Perwai Majhul (tidak diketahui).
  • Syekh Ahmad Syakir pada takhrij Musnad Imam Ahmad berkata: “Sanad tersebut lemah.” Beliau juga mengklaim bahwa pada riwayat ini merupakan tambahan dari Abdullah bin Ahmad yang teriwayatkan dari orang lain selain ayahnya (Imam Ahmad).
  • Syekh Syu’aib Al-Arnauth juga mengatakan hal yang sama dalam Takhrij Musnad.
  • Syaikh Al-Albani mengutip tafsir Al-Baihaq dalam Syu’abul Iman, 3: 375 yang menyatakan:
    Zaidah bin Abi al-Raqad merupakan satu-satunya yang meriwayatkan hadits ini. Zaidah bin Abi Ruqqad mengambil cerita dari Ziyad. Bukhari berkata: “Zaidah bin Abi Ruqqad dari Ziyad An-Numair, Munkarul Hadits.”

Berdasarkan semua keterangan tersebut, dapat tersimpulkan bahwa sanad hadits ini berstatus lemah. Oleh karena itu tidak dapat digunakan sebagai rujukan. Semoga Bermanfaat Sahabat.

Editor by: Dompet Dhuafa Jogja

YUK BERSEDEKAH

Amalan Bulan Rajab Menurut Al Quran, Kamu Wajib Tahu!

Amalan Bulan Rajab Menurut Al Quran, Kamu Wajib Tahu!

Amalan Bulan Rajab Menurut Al Quran – merupakan bulan di antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Syaban. Bulan Rajab, seperti bulan Muharram, adalah bulan suci(haram). Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, sesuai dengan ketetapan Allah, ketika Dia menciptakan langit dan bumi, yang diharamkan empat bulan. empat bulan.” (Lihat di Taubah:
36)

Ibnu Rajab berkata: Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya berputar pada orbitnya. Allah juga menciptakan matahari, bulan, dan bintang, lalu menyebabkan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari sini muncul cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak saat itulah Allah menjadikan satu tahun m,enjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal.

Apakah Anda akan mati seperti ini? Abu Bakroh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

„Dalam setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Antara lain yaitu empat bulan suci (haram). Tiga bulan berturut-turut adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi) Rajab Mudhor adalah antara Jumadil (kepala) dan Sya’ban. (HR Bukhari No.3197 dan Muslim No. 1679)

Empat bulan suci yang relevan adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzul Hijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.

Baca Juga: Keutamaan Bulan Rajab dan Amalannya, Kamu Wajib Tahu!

Di belakang bulan Haram

Mengapa bulan-bulan ini terkenal dengan bulan suci (haram)? Al Qodhi Abu Ya’la Rahimahullah berkata: namanya bulan suci karena terdapat dua alasan.

Pertama, tersebut haram segala bentuk pembunuhanm pada bulan ini. Orang jahiliyah juga mempercayai hal itu.

Kedua, karena keluhuran bulan tersebut maka larangan perbuatan melawan hukum lebih ditekankan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Bahkan saat ini sangat baik untuk dipatuhi.” (Lihat Zaadul Maysir, Tafsir Surat Taubah ayat 36)

Karena saat itu adalah waktu yang sangat baik untuk mengamalkan ketaatan, sebagaimana kaum salafi sangat gemar berpuasa di bulan haram. Sufyan Ats Thauri berkata: “Pada bulan-bulan haram saya sangat suka berpuasa.” (Lath-if Al Ma’arif, 214)

Ibn ‘Abbas berkata, “Allah menetapkan empat bulan itu sebagai bulan terlarang, yang dianggap bulan suci. Melakukan maksiat di bulan ini adalah dosa yang lebih besar, dan perbuatan baik yang dilakukan lebih dihargai.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)

Bulan Haram mana yang lebih penting?

Para ulama berbeda pendapat tentang bulansucimana yang lebih penting.Sebagian ulama mengatakan bahwa bulanRajab lebih utama, begitu pula dari sebagian ulama Syafi’iyah berpendapat. Namun An Nawawi (salah seorang ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini.

Ada yang mengatakan bahwa bulanMuharram lebih penting, sebagaimana kata Al Hasan Al Bashri dan AnNawawimembenarkan pendapat tersebut. Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa bulan Dzulhijjah lebih utama. Demikian pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, yang juga oleh Ibnu Rajab sampaikan dalam Latho-if Al Ma’arif (hal. 203).

Hukum yang berkaitan dengan bulan Rajab

Ada banyak hukum yang terkait dengan bulan Rajab, ada beberapa hukum yang sudah ada sejak zaman Jahiliyah. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum ini apakah masih berlaku ketika Islam datang. hal itu termasuk larangan berperang pada bulan suci (termasuk bulan Rajab). Para ulama masih membahas atas apakah pendapat itu harus terus terlarang. Sebagian besar peneliti percaya bahwa peraturan itu telah tidak ada. Ibnu Rajab berkata: “Bahkan salah seorang sahabatnya mengetahui bahwa mereka berhenti berperang pada bulan-bulan haram, meskipun ada faktor pendorong padasaat itu. (Lathoif Al Ma’arif, 210)

Sama dengan penyembelihan (pengorbanan).Pada zaman Jahiliyah dahulu, orang menyembelih kurban pada tanggal 10 Rajab dan terkenal dengan sebutan ‘atiiroh atau Rojabiyyah (karena terjadi pada bulan Rajab). Para ulama berbeda pendapat apakah Islam menghapuskan hukum ‘atiiroh atau tidak. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa hukum ‘atiiroh dibatalkan dalam Islam. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari Muslim, dari riwayat Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jangan lakukan lagi faro’ dan atiiroh”.(HR Bukhari no. 5473 dan Muslim no. 1976). Faro’ adalah anak pertama dari seekor unta atau kambing, yang diambil dan dipelihara untuk persembahan pada berhala mereka

Al Hasan Al Bashri berkata,”Tidak ada lagi ‘atiiroh’ dalam Islam.”Atiiroh hanya ada pada masa Jahiliyah. Orang Jahiliyah biasanya berpuasa pada bulan Rajab dan menyembelih “atiiroh” pada bulan tersebut. Mereka melakukan penyembelihan ‘ied’ (hari besar yang berulang) pada bulan ini, dan mereka juga suka makan manisan atau semacamnya. Ibn ‘Abbas sendiri tidak puas menjadikan bulan Rajab sebagai “Idul Fitri”.

“Atiiroh sering diulang setiap tahun sampai menjadi ‘id'(seperti Idul Fitri dan Idul Adha), sedangkan ‘ied (hari raya)Islam hanya Idul Fitri, Idul Adha dan Tasyriq. Dan kita dilarang melakukan apas aja kecuali yang telah Islam ajarkan.

Ibnu Rajab rahimullah mengatakan:”Pada intinya umat Islam tidak boleh merayakan  hari lain selain apa yang biasa kita kenal dengan sebutan ‘ied’ dalam Islam, yaitu Idul Fitri, Idhul Adha dan Hari Tasyriq ini. Tiga hari tersebut merupakan hari raya dalam setahun,sedangkan ‘ied jatuh pada hari Jumat setiap minggunya. Selain pada hari-hari yang tersebut, jika menjadikannya sebagai ‘ied dan hariraya, berarti telah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pedoman Islam (alias bid’ah). (Latha-if Al Ma’arif, 213)

Hukum lain yang berhubungan dengan bulan Rajab adalah shalat dan puasa.

Amalan Bulan Rajab Menurut Al Quran

Tidak ada shalat khusus pada bulan Rajab dan tidak terdapat anjuran melaksanakan shalat Roghoib pada bulan ini. Tidak wajib amalan sebelum bulan Rajab ini.

Shalat Roghoib atau biasa orang sebut dengan shalat Rajab adalah shalat yang terlaksana pada malam Jumat pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. Atau puasa matahari pada hari sebelum shalat Roghoib (Kamis pertama bulan Rajab). Jumlah keseluruhan rakaat shalat Roghoib adalah 12 rakaat. Dalam setiap Raka’at terdapat anjurkan membaca Al Fatihah satu kali, Surat Al Qadr 3 kali dan Surat Al Ikhlash 12 kali. Kemudian setelah melaksanakan shalat anjurannya membaca salawat kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 70 kali.

Antara keutamaan yang tersebut dalam hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaib adalah terampuni dosanya sebanyak buih lautan dan ia dapat mendoakan 700 kerabatnya. Namun hadits yang menjelaskan tata cara shalat Roghoib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu).

Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits tersebut dalam Al Mawdhu’aat (Kitab Hadits Palsu). Ibnul Jauziy, semoga Allah merahmatinya, berkata: “Sesungguhnya orang yang mengada-ada dengan membawa hadits palsu ini menganjurkan manusia untuk melaksanakan shalat Roghoib pada puasa pertama, padahal siang hari harus panas sekali.”

Jika mereka berbuka puasa, mereka tidak mampu makan banyak. Setelah itu, mereka harus melaksanakan shalat Maghrib dan selanjutkan dengan shalat Raghaib. Ketika bacaan tasbih dalam shalat Raghaib begitu lama, ia berputar-putar. Sangat sulit bagi orang-orang untuk kembali. Kemudian. Bahkan, saya melihat mereka di bulan Ramadhan dan ketika mereka melakukan sholat Tarawih, mengapa mereka tidak begitu bersemangat saat melakukan sholat ini?! Tapi doa di depan umum ini sangat mendesak. Bahkan orang-orang yang biasanya tidak berpartisipasi dalam sholat berjamaah juga berpartisipasi di dalamnya.” (Al Mawdhu’at li Ibnil Jauziy, 2/125-126)

Ath Thurthusi mengatakan: “Tidak ada hadis yang menyatakan bahwa Nabi, Allah menghendakinya dan memberinya kedamaian, melakukan doa ini. Para sahabat juga tidak pernah melakukan doa ini, semoga rahmat Allah menyertai mereka” (Al Hawadit’s Wal Bida”, hal 122.)

Semoga dengan penjelasan ini kita tidak lagi melakukan amalan yang kurang tepat pada bulan Rajab.

Bersedekah

Hal yang harus menjadi perhatian umat Islam hingga bulan Rajab adalah memperbanyak sedekah. Kepedulian terhadap orang miskin pada sangat baik karena beberapa alasan. Sedekah adalah harapan bagi fakir miskin dan kabar gembira saat memasuki bulan Rajab.

Pada dasarnya bulan Rajab mengandung nilai-nilai luhur yang dapat tercapai oleh mereka yang berniat dengan tulus untuk mencapainya. Kami mencari anugerah tanpa menuntut, kami mencari anugerah Tuhan, dan kami mencari kebaikan-Nya yang tidak pernah gagal.

Yuk Sahabat, Sedekah Sekarang !

Berhutang Dalam Islam, Apa Saja Aspek yang Perlu Diperhatikan?

Berhutang Dalam Islam, Apa Saja Aspek yang Perlu Diperhatikan?

Berhutang dalam Islam – Islam mengajarkan ummatnya untuk senantiasa selalu tolong-menolong dalam hal kebaikan. Begitupun apabila ada saudara kita yang sedang kesusahan, maka hendaknya ulurkan tangan kita untuk membantu, sesuai dengan firman Allah SWT yang terdapat dalam surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya :

” Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”

Menurut Islam, hutang piutang hukumnya boleh dilakukan karena di dalam kegiatan hutang piutang terdapat akad ta’awun (tolong-menolong) dan akad tabarru (social).

“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik niscaya Allah melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah maha Pembalas jasa lagi maha Penyantun.” At-Taghabun (64):17

Baca Juga: Kelola Keuangan Rumah Tangga Lebih Berkah Ala Rasulullah

Berhutang Dalam Islam

Apakah Rasullullah SAW pernah berhutang?

Jawabannya yaitu pernah, Rasulullah SAW melakukan hutang pada saat memulai perdagangannya dengan berhutang kepada Khadijah Al Kubro yang kemudian menjadi istrinya. Rasulullah bersama dengan pamannya yaitu Abu Thalib, bersama-sama menjual barang dagangan milik Khadijah. Hal yang perlu kita teladani yaitu Rasulullah selalu mencatat dengan baik setiap proses transaksi selaku pembawa barang dagangan, dan Khadijah sebagai pemilik barang dagangan. Rasulullah SAW sangat tegas dalam mengatur kegiatan hutang, seperti yang tertuang dalam sabda beliau :

“Barang siapa yang mengambil harta seseorang (berhutang) yang bermaksud untuk  membayarnya maka Allah akan melaksanakan pembayaran itu. Dan barangsiapa yang mengambilnya (berhutang) dengan maksud untuk merusak (tidak mau membayar dengan sengaja) maka Allah akan merusak orang itu.” (HR Bukhari).

Berhutang Dalam Islam

Lalu Aspek Apa Sajakah Yang Perlu Kita Perhatikan Jika Berhutang dalam Islam?

1. Jangan melakukan hutang jika tidak dalam keadaan mendesak

Tanamkan sifat bersyukur setiap hari, karena jika kita bersyukur maka akan merasa cukup sudah memenuhi kebutuhan hidup primer kita. Apabila kita telah merasa cukup, maka kita tidak perlu hutang agar bisa hidup bermegah megahan dan meninggikan gengsi kepada orang lain. Rasa iri terhadap orang lain juga dapat meninggikan rasa kita ingin memiliki sesuatu walaupun cara memperolehnya dengan berhutang.

2. Harus berniat untuk membayar hutang

Dalam sebuah hadist menejlaskan, bahwa jika kita berhutang dan memiliki niat buruk untuk tidak melunasi hutang tersebut maka Allah akan membinasakannya  sesuai dengan sabda Allah SWT.

“Barang siapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah SWT akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa yang mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya), maka Allah akan membinasakannya”. (HR Bukhari)

3. Mencatat bukti transaksi hutang secara tertulis

Ketika melaukan Hutang Piutang maka alangkah baiknya mencatat besaran nominalnya secara jelas pada surat perjanjian hutang. Selain itu baiknya juga ada yang menyaksikan kegiatan utang piutang tersebut untuk mengantisipasi hal-hal yang kemungkinan terjadi di kemudian hari.

4. Carilah hutang yang menghindari Riba

Perlu kita ketahui bahwa Riba itu Allah SWT haramkan, sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 275 yang artinya “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Untuk menghindari Riba, jika terdesak untuk berhutang. Maka pilihlah hutang dengan pertimbangan yang bijak serta tidak mengandung riba. Saat ini pun sudah banyak Lembaga khusus (syariah) yang memberikan pinjaman sesuai dengan syariat Islam sehingga dapat menghindari riba.

5. Hutang harus segera dilunasi, jangan ditunda-tunda

Konsep menunda dalam hal ini yaitu apabila sudah mampu untuk membayar hutang, namun memilih untuk menunda melunasi hutang tersebut. Maka dari itu sahabta, jika sahabat telah memiliki kelapangan rezeki untuk melunasi hutang, maka segerakanlah lakukan hal tersebut. Karena menunda pembayaran hutang termasuk perbuatan yang dzalim.

Sebagaimana sabda Rasullullah SAW “Memperlambat pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang kaya merupakan perbuatan zhalim. Jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar hutang, maka hendaklah beralih (diterima) pengalihan tersebut”. (HR Bukhari, Muslim)

Tidak hanya itu, jika menunda pembayaran hutang padahal mampu untuk membayar. Maka dosa senantiasa mengikuti setiap harinya, sampai hutang tersebut terbayarkan.

Rasullullah SAW bersabda “Menunda-nunda hutang padahal diberikan kelapangan untuk membayar maka akan bertambah satu dosanya setiap hari selama masa penundaan tersebut (HR Baihaqi)”

Demikianlah beberapa hal yang dapat kita pertimbangkan sebelum berhutang, agar sesuai dengan syariat Islam dan terhindar dari riba. Selain itu, kita juga harus senantiasa berdoa kepada Allah, untuk senantiasa Allah lapangkan rezeki kita.

Terdapat satu cara untuk dapat melancarakan rezeki kita. Yaitu dengan cara bersedekah. Sedekah juga akan membuka pintu rezeki kita sekaligus menjadi tabungan kita di akhirat kelak. Mari sahabat sedekah sekarang di sini.

YUK SEDEKAH

Sedekah subuh Dompet Dhuafa