Hukum Berdoa Usai Panggilan Salat Menurut Ajaran Islam

Hukum Berdoa Usai Panggilan Salat Menurut Ajaran Islam

Berdoa merupakan sarana utama seorang Muslim untuk menyampaikan harapan dan ketergantungan kepada Allah SWT. Salah satu momen yang sering dimanfaatkan adalah waktu jeda sebelum iqamah. Agar praktik ini tidak sekadar menjadi kebiasaan, penting untuk memahami bagaimana pandangan Islam terkait doa yang dipanjatkan pada masa transisi menuju salat.

Landasan Hadits tentang Waktu Jeda Menuju Salat

Rasulullah ﷺ memberikan isyarat jelas bahwa jeda antara panggilan salat dan iqamah memiliki keutamaan. Dalam sebuah hadits disebutkan:

الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

“Doa tidak akan tertolak pada waktu antara panggilan salat dan iqamah.”
 (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hadits ini dipahami oleh para ulama sebagai dalil kuat bahwa memanjatkan permohonan pada masa tersebut merupakan amalan yang dianjurkan.

Pandangan Ulama Mazhab Syafi’i

Ulama dari mazhab Syafi’i menjelaskan bahwa memanfaatkan jeda sebelum iqamah dengan doa termasuk amalan sunnah. Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu’ menerangkan bahwa dianjurkan bagi seorang Muslim untuk mengisi waktu tersebut dengan doa, dzikir, dan shalawat, karena termasuk saat yang diharapkan terkabulnya permohonan.

Pandangan ini menegaskan bahwa amalan tersebut memiliki dasar yang jelas dalam sunnah Rasulullah ﷺ.

Pandangan Mazhab Hanbali

Dalam mazhab Hanbali, berdoa pada jeda menuju salat juga sangat dianjurkan. Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyebutkan bahwa masa antara panggilan salat dan iqamah adalah waktu yang utama untuk berdoa, karena Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya memanfaatkan waktu persiapan ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Baca Juga: Waktu dan Makna Doa Mustajab di Hari Jumat

Keterangan Mazhab Hanafi dan Maliki

Ulama Hanafi dan Maliki juga tidak melarang doa yang dipanjatkan usai seruan ibadah. Dalam pandangan mereka, amalan ini termasuk perbuatan mubah yang bernilai ibadah ketika disertai niat yang benar. Sebagian ulama Maliki bahkan menilai bahwa memperbanyak doa sebelum salat membantu menghadirkan kekhusyukan ketika ibadah dimulai.

Dengan demikian, tidak ditemukan perbedaan mendasar di antara mazhab dalam menilai kebolehan dan keutamaan praktik ini.

Adab yang Dianjurkan Para Ulama

Para ulama sepakat bahwa agar doa pada waktu jeda menuju salat lebih bernilai, sebaiknya didahului dengan menjawab lafaz muadzin, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, serta doa wasilah. Adab ini bertujuan menjaga keselarasan antara tuntunan sunnah dan amalan doa.

Berdoa pada masa jeda sebelum iqamah menurut ajaran Islam termasuk amalan sunnah yang dianjurkan Rasulullah ﷺ dan didukung oleh pandangan para ulama dari berbagai mazhab. Praktik ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana menyiapkan hati dan jiwa sebelum berdiri menghadap Allah SWT dalam salat. Dengan memahami dalil dan pendapat ulama, seorang Muslim dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan penuh keyakinan.

Waktu dan Makna Doa Mustajab di Hari Jumat

Waktu dan Makna Doa Mustajab di Hari Jumat

Dalam Islam, Jumat dikenal sebagai waktu yang dimuliakan dan penuh keberkahan. Pada momen inilah umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak munajat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Keutamaan ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga ditegaskan melalui Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ sebagai pengingat bahwa ada kesempatan istimewa untuk menyampaikan harapan dengan hati yang khusyuk.

Isyarat Al-Qur’an tentang Kemuliaan Waktu Jumat

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.”
 (QS. Al-Jumu‘ah: 9)

Ayat ini menunjukkan bahwa Jumat adalah waktu yang Allah minta untuk diisi dengan fokus spiritual. Perintah meninggalkan aktivitas dunia bukan sekadar aturan ibadah, tetapi ajakan untuk membersihkan hati dan menghadirkan kesadaran penuh kepada Allah. Dalam suasana inilah permohonan yang dipanjatkan memiliki makna yang lebih dalam, karena hati sedang diarahkan sepenuhnya kepada-Nya.

Hadis tentang Waktu Dikabulkannya Permohonan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Pada hari Jumat terdapat satu waktu, apabila seorang Muslim bertepatan dengan waktu itu lalu memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah akan memberikannya.”
 (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan harapan besar bagi setiap Muslim. Para ulama menjelaskan bahwa waktu istimewa tersebut mengajarkan pentingnya kesiapan batin. Artinya, bukan hanya menunggu waktu tertentu, tetapi juga menyiapkan hati yang bersih, penuh keyakinan, dan tidak lalai dari mengingat Allah.

Memaknai Mustajab secara Lebih Luas

Mustajab sering dipahami sebagai terkabulnya permintaan secara langsung. Namun, dalam pandangan Islam, mustajab memiliki makna yang lebih luas. Permohonan bisa dijawab dengan cara yang tidak selalu kita duga. Ada kalanya dikabulkan segera, ditunda demi kebaikan yang lebih besar, atau digantikan dengan perlindungan dari keburukan. Pemahaman ini mengajarkan sikap sabar dan husnuzan kepada Allah SWT.

Sikap Batin yang Dianjurkan Saat Bermunajat

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan agar permohonan disampaikan dengan keyakinan penuh. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah tidak mengabulkan permintaan dari hati yang lalai dan ragu. Hal ini menegaskan bahwa kehadiran hati, kerendahan diri, dan kesungguhan menjadi kunci penting dalam setiap munajat, terlebih pada waktu yang dimuliakan.

Menguatkan Harapan dengan Amal Nyata

Selain bermunajat, Islam juga mendorong umatnya untuk mengiringi permohonan dengan perbuatan baik. Membantu sesama, memperbaiki akhlak, dan berbagi rezeki menjadi wujud nyata dari keseriusan dalam mencari ridha Allah. Amal tersebut tidak hanya memperindah ibadah, tetapi juga menjadi bukti bahwa harapan yang disampaikan benar-benar lahir dari hati yang ingin berubah menjadi lebih baik.

Waktu dan makna doa mustajab di hari Jumat mengajarkan bahwa hubungan antara hamba dan Allah dibangun melalui kesadaran, keikhlasan, dan keyakinan. Dengan memahami rujukan ayat dan hadis, serta memaknainya dalam kehidupan sehari-hari, Jumat dapat menjadi momentum memperbaiki diri dan menata kembali harapan. Semoga setiap munajat yang dipanjatkan mendapat jawaban terbaik dari Allah SWT, sesuai dengan hikmah dan kasih sayang-Nya.

Sedekah dan Infaq Paling Baik Dilakukan Ketika Ini: Simak Penjelasannya

Sedekah dan Infaq Paling Baik Dilakukan Ketika Ini: Simak Penjelasannya

Kesempatan untuk berbagi kebaikan sejatinya hadir setiap hari. Namun, banyak sahabat bertanya-tanya, kapan sedekah dan infaq paling baik dilakukan agar bernilai besar di sisi Allah sekaligus memberi dampak nyata bagi sesama. Islam memberikan panduan yang lembut tentang waktu-waktu terbaik untuk berbagi, tanpa membatasi kebaikan hanya pada momen tertentu.
Berikut beberapa kondisi yang menunjukkan kapan sedekah dan infaq memiliki nilai yang lebih kuat.


Ketika Hati Masih Terikat pada Harta


Salah satu waktu paling utama untuk berbagi adalah saat harta masih terasa berat untuk dilepaskan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah menjelaskan bahwa amal memberi yang paling utama dilakukan ketika seseorang masih sehat, memiliki keinginan terhadap hartanya, serta merasa khawatir akan kekurangan (HR. Bukhari dan Muslim).
Pesan ini menunjukkan bahwa sedekah dan infaq paling baik dilakukan ketika hati masih diuji oleh rasa memiliki, namun tetap memilih mendahulukan kebaikan.


Ketika Kebutuhan di Sekitar Sedang Mendesak


Waktu berbagi menjadi sangat bermakna saat bantuan dibutuhkan segera. Kondisi musibah, kesulitan ekonomi, atau kebutuhan mendasar seperti pangan dan kesehatan menjadi momen tepat untuk menyalurkan infaq dan sedekah. Bantuan yang hadir tepat waktu sering kali membawa dampak lebih besar dibandingkan bantuan yang datang terlambat.
Dalam situasi seperti ini, berbagi bukan hanya meringankan beban, tetapi juga menguatkan harapan.


Ketika Kesempatan Kebaikan Terbuka Lebar


Islam juga mengenal waktu-waktu yang penuh keberkahan, seperti bulan Ramadan, hari Jumat, atau saat melihat langsung kondisi orang yang membutuhkan. Pada momen tersebut, hati biasanya lebih lembut dan mudah tergerak untuk berbuat baik.
Sedekah dan infaq paling baik dilakukan ketika dorongan kebaikan hadir dengan kuat, karena hal itu menjadi tanda kepekaan iman sedang tumbuh.


Ketika Niat Masih Terjaga dengan Tulus


Menunda kebaikan sering kali membuat niat melemah. Karena itu, saat keinginan berbagi muncul dengan tulus, itulah waktu yang tepat untuk melangkah. Al-Qur’an mengingatkan bahwa sedekah yang dilakukan dengan ikhlas, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi, tetap bernilai di sisi Allah (QS. Al-Baqarah: 271).
Kebaikan yang disegerakan membantu menjaga niat tetap lurus dan hati tetap ringan.


Ketika Memberi Manfaat Jangka Panjang


Sedekah dan infaq juga sangat dianjurkan saat dapat menghadirkan manfaat berkelanjutan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyampaikan bahwa amal dengan dampak panjang, seperti sedekah jariyah, pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah wafat (HR. Muslim).
Dukungan pada pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan menjadi contoh berbagi yang tidak hanya membantu hari ini, tetapi juga masa depan.


Nilai di Balik Waktu Berbagi


Dari berbagai kondisi tersebut, dapat dipahami bahwa waktu terbaik untuk sedekah dan infaq bukan sekadar soal kalender, melainkan tentang kesiapan hati, ketepatan situasi, serta niat yang terjaga. Semakin besar tantangan batin saat memberi, semakin tinggi pula nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya.
Sedekah dan infaq paling baik dilakukan ketika hati siap berbagi, kebutuhan di sekitar nyata, serta niat masih tulus tanpa pamrih. Tidak perlu menunggu berlebih atau sempurna, karena setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas memiliki nilai besar di sisi Allah.
Semoga sahabat senantiasa dimudahkan untuk menangkap setiap kesempatan berbagi dan merasakan keberkahannya dalam kehidupan sehari-hari.

6 Sedekah Paling Tinggi Pahalanya: Waktu, Cara, serta Nilai Kebaikan di Dalamnya

6 Sedekah Paling Tinggi Pahalanya: Waktu, Cara, serta Nilai Kebaikan di Dalamnya

Berbagi kebaikan sering menjadi pengingat bahwa rezeki tidak sepenuhnya untuk diri sendiri. Dalam setiap harta terdapat ruang untuk membantu sesama, baik saat kondisi lapang maupun ketika keadaan terasa sempit.

Banyak sahabat ingin memahami amal berbagi seperti apa termasuk sedekah paling tinggi pahalanya menurut tuntunan Islam.
Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditelusuri melalui pesan Al-Qur’an serta hadis Rasulullah صلى الله عليه وسلم, keduanya menekankan kualitas amal dibandingkan besarnya jumlah.

  1. Memberi Saat Kondisi Belum Lapang
    Amal berbagi memiliki nilai istimewa ketika dilakukan di masa harta masih terasa berat untuk dilepaskan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah menjelaskan keutamaan memberi melalui sabdanya:
    “Engkau berbagi dalam keadaan sehat, masih merasa kikir, takut jatuh miskin, serta berharap menjadi kaya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Pesan ini menunjukkan bahwa sedekah paling tinggi pahalanya sering lahir dari hati masih diuji rasa khawatir, namun tetap memilih mendahulukan ridha Allah.
  2. Tepat Sasaran serta Menyentuh Kebutuhan Nyata
    Al-Qur’an mengarahkan agar harta kebaikan disalurkan kepada pihak membutuhkan secara jelas. Allah SWT berfirman:
    “Harta apa pun kamu infakkan, maka peruntukannya bagi kedua orang tua, kaum kerabat, anak yatim, orang miskin, serta musafir.” (QS. Al-Baqarah: 215)
    Ayat tersebut menggambarkan bahwa pemberian bernilai tinggi hadir ketika manfaatnya benar-benar dirasakan oleh penerima.
  3. Menjaga Adab Saat Berbagi
    Islam tidak hanya mengajarkan pentingnya memberi, tetapi juga cara menyampaikannya. Allah SWT berfirman:
    “Wahai orang-orang beriman, jangan merusak infakmu dengan menyebut-nyebutnya ataupun menyakiti perasaan penerima.” (QS. Al-Baqarah: 264)
    Ayat ini menjadi pengingat bahwa sikap rendah hati menjaga nilai amal tetap utuh di sisi Allah.
  4. Keikhlasan Tanpa Mencari Perhatian
    Keutamaan berbagi juga terletak pada niat tulus tanpa sorotan. Al-Qur’an menyebutkan:
    “Jika infak ditampakkan, hal itu baik. Namun bila disembunyikan serta diberikan kepada orang fakir, cara tersebut lebih baik.” (QS. Al-Baqarah: 271)
    Melalui ayat ini, sedekah paling tinggi pahalanya terjaga ketika dilakukan tanpa dorongan ingin dipuji.
  5. Manfaat Berkelanjutan Sepanjang Waktu
    Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyampaikan bahwa beberapa amal tidak terputus pahalanya meski seseorang telah wafat:
    “Amal manusia terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, serta doa anak saleh.” (HR. Muslim)
    Kebaikan harta dengan dampak jangka panjang menjadi investasi akhirat selama manfaatnya masih mengalir.
  6. Menguatkan Kepedulian Sosial
    Berbagi rezeki juga berperan mempererat hubungan antar sesama. Al-Qur’an menegaskan pentingnya saling membantu:
    “Tolong-menolonglah dalam kebajikan serta ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
    Melalui kebiasaan memberi, empati tumbuh sekaligus memperkuat persaudaraan umat.

Sedekah paling tinggi pahalanya tidak ditentukan oleh besar kecil nominal, melainkan oleh ketulusan niat, waktu pemberian, cara penyampaian, sasaran penerima, serta keberlanjutan manfaat. Berlandaskan Al-Qur’an dan hadis, amal berbagi menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menghadirkan kebaikan nyata bagi kehidupan sosial.
Semoga sahabat selalu dimudahkan untuk berbagi serta merasakan keberkahan dari setiap kebaikan harta.

Hikmah Hujan Dalam Al Quran, Simbol Rahmat dan Keagungan Allah

Hikmah Hujan Dalam Al Quran, Simbol Rahmat dan Keagungan Allah

Hikmah hujan dalam Al Quran – Ketika turun hujan, terdapat banyak harapan berkah dari setiap rintiknya. Karena sejatinya hujan adalah anugrah bagi kehidupan manusia. Ada banyak sekali manfaat yang dibawa dari setiap tetesannya. Airnya mampu membasahi tanah yang kering, lalu membuatnya menjadi subur. Dari tanah subuh tersebut, tumbuhlah pepohonan dan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber makanan manusia. Hujan juga menjadi sumber air bagi manusia untuk bertahan hidup. Dalam Islam hujan digambarkan sebagai sebuah keberkahan luar bisa bagi kehidupan. Dalam Al-Quran terdapat banyak sekali ayat-ayat menjelaskan tentang keberkahan hujan. Bahkan Jumlah penyebutan hujan mencapai 55 kali dalam Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya hujan dalam kehidupan manusia.

Allah Subahana Wata’ala Berfirman dalam surat Qaf Ayat 9:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِۙ ۝٩

wa nazzalnâ minas-samâ’i mâ’am mubârakan fa ambatnâ bihî jannâtiw wa ḫabbal-ḫashîd

Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.” (9)

Ayat ini menerangkan adanya hikmah hujan dalam Al – Quran, bagaimana tumbuhan, pepohonan, dan buah-buah bisa hidup melalui air hujan yang turun. Setelah tumbuh dengan subur, lalu menjadi manfaat bagi manusia untuk di gunakan sebagai kebutuhan hidup. Airnya membawa tetesan-tetesan harapan untuk manusia.

Allah Subhana Wa Ta’ala juga Berfirman dalam Surat An-Nahl Ayat 10:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لَّكُمْ مِّنْهُ شَرَابٌ وَّمِنْهُ شَجَرٌ فِيْهِ تُسِيْمُوْنَ ۝١٠

huwalladzî anzala minas-samâ’i mâ’al lakum min-hu syarâbuw wa min-hu syajarun fîhi tusîmûn

Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu. Sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan yang dengannya kamu menggembalakan ternakmu.” (10)

Secara spesifik Allah menyebutkan hujan sebagai nikmat yang diproleh oleh manusia. Nikmat tersebut digunakan untuk air minum dan juga menyiram tumbuhan dan tanaman agar menjadi subur. Dari – Nya juga hewan-hewan ternak dapat minum, lalu berkembang biak agar dapat menjadi sumber makanan dan kebutuhan manusia. secara tersirat Allah menyampaikan bahwa air menjadi kebutuhan pokok manusia. Air juga menjadi anugerah dalam kehidupan yang bisa diambil manfaatnya. Maka tak sepatutnya manusia mendustai nikmat-nikmat tersebut.

Firman Allah lainnya dalam Surat Az-Zukhruf Ayat 11:

وَالَّذِيْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍۚ فَاَنْشَرْنَا بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًاۚ كَذٰلِكَ تُخْرَجُوْنَ ۝١١

walladzî nazzala minas-samâ’i mâ’am biqadar, fa ansyarnâ bihî baldatam maitâ, kadzâlika tukhrajûn

Yang menurunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu dengan air itu Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). (11)

Dalam ayat ini Allah menyampaikan tentang air hujan yang turun dengan berbagai ukuran. Terkadang hujan turun menjadi musibah sebagai peringatan untuk manusia. Terkadang juga sebagai anugrah untuk kehidupan manusia. Karena dari air tersebut Allah suburkan tanah atau bumi yang tandus. Maka, sebagai manusia yang memahami tanda-tanda kebsearan Allah, hendaknya bersyukur serta terus mengingat kematian sebagai sesuatu kepastian.

Firman Allah juga dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 28 :

وَهُوَ الَّذِيْ يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْۢ بَعْدِ مَا قَنَطُوْا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهٗۗ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ ۝٢٨

wa huwalladzî yunazzilul-ghaitsa mim ba‘di mâ qanathû wa yansyuru raḫmatah, wa huwal-waliyyul-ḫamîd

Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan (Dia pula yang) menyebarkan rahmat-Nya. Dialah Maha Pelindung lagi Maha Terpuji. (28)

Pada ayat ini Allah menyiratkan bahwa hujan adalah rahmat yang datang untuk manusia.  Ketika manusia berputus asa atas kekeringan yang melanda tanah-tanah mereka. Lalu Allah kirimkan hujan untuk menyuburkan tanah mereka. Tanah subur itu menjadi maslahat yang baik untuk manusia yang merasakannya, serta menjadi karunia luar biasa.

Keberkahan dan kebermanfaatan hujan bagi kehidupan manusia tentunya harus dibarengi dengan usaha dan Doa. Usaha menjaga alam dan lingkungan juga bagian dari menjaga kestabilan dampak hujan yang turun. Apakah tetesannya menjadi berkah atau musibah, tergantung dari bagamana cara manusia menyikapinya. Ketika banyak orang mulai semberono dalam memperlakukan alam, serta tidak menjaga lingkungan, maka akan banyak sekali dampak buruk yang terjadi tatkala hujan turun.

Diatara dampaknya adalah hujan asam, yaitu hujan mengandung Nitrogen oksida(NOX) dan  senyawa sulfur dioksida(SO2). Hal ini terjadi akibat pembuangan emisi kendaraan yang menghasilkan polusi asap atau udara yang berlebihan. Dampak buruk dari hujan asam adalah dapat mengubah pH tanah. Hal ini akan menyebabkan tanah tidak subur, tumbuhan kekurangan mineral dan air. Pada akhirnya tumbuhan tersebut akan mati karena kekurangan nutrisi baik.

Dampak buruk selanjutnya adalah banjir. Hal ini terjadi karena banyaknya illegal loging atau penebangan pohon sembarangan demi kebutuan pihak terentu saja. Sehingga tanah menjadi gundul dan tidak mampu menahan air hujan. Akibatnya tidak ada pohon untuk menahan air yang mengalir. Air tersebut mengalir langsung ke dataran rendah dan cekung. Sehingga terjadilah banjir akibat genangan air berlebihan. Genangan yang tidak bisa terserap baik tentunya membawa berbagai penyakit ataupun bakteri berbahaya bagi lingkungan hidup.

Dampak buruk lainnya adalah tanah longsor.  Hal tersebut terjadi sebab lemahnya kepadatan tanah ataupun bebatuan di lereng-lereng bukit, gunung atau pun jurang. Ini akibat oleh gesekan air terus-menerus. Longsor yang terjadi mebawa dampak kerugian sangat besar, lahan pertanian rusak, rumah warga terdampak akan mengalami kerusakan, dan terputusnya akses untuk fasilitas umum. Oleh karena itu menjaga lingkungan sangat penting untuk menyambut hujan, agar lebih ramah bagi kehidupan manusia.

Terakhir sebagai seorang muslim, semua usaha yang dilakukan harus dibarengi dengan doa kepada Allah Subhana wa ta’ala. Berdoa merupakan simbol atau tanda tentang rasa butuh manusia kepada sang pecipta. Juga tentang menunjukkan betapa lemahnya manusia sebagai makhluk hidup lemah. Tiada daya dan uapaya melainkan butuh bantuan dari Allah Subhana Wa ta’la. NabiMuhammad SAW mengajarkan beberapa doa yang bisa dibaca Ketika turun hujan.

Ketika seorang muslim mengharapkan kebaikan dan keberkahan bertambah dari hujan turun hendaknya ia mengucapkan doa dari apa yang telah di ajarkan oleh Rasullah SAW sebagai berikut:

Hadist yang diriwayatkan ’Aisyah radhiyallahu ’anha,:

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ  اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”. (HR. Bukhari no. 1032)

Ketika hujan turun semakin lebat dan dikhawatirkan berbahaya, maka hendaknya membaca doa seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam.

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].” (HR. Bukhari no. 1014)

Setelah hujan mereda, dan hari mulai Kembali cerah, maka dianjurka membaca doa sebagai berikut:

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’

Artinya: “Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah” (HR. Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71).

Ada hal menarik lain yang bisa dilakukan Ketika hujan, selain berdoa karena melihat hujan tersebut. Yaitu berdoa dan mehon kepada Allah tentang semua hajat baik yang kita harapkan. Karena ketika hujan turun adalah salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

“Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ no. 3078).

Oleh karena itu, sudah seyogyanya tetap tidak melewati berdoa Ketika hujan turun. Karena hal tersebut akan menjadi berkah bagi muslim yang mengamalakannya. Menjadi anugerah Ketika manusia memanfaatkan hujan dengan bijaksana sesuai nilai-nya . Wallahu a’lam Bishowab.

Meneladani Kasih Sayang Rasulullah Kepada Anak – Anak

Meneladani Kasih Sayang Rasulullah Kepada Anak – Anak

Sahabat, pernakah kita merenung betapa agungnya kasih sayang Rasulullah ﷺ terhadap anak – anak? Beliau adalah sosok yang hatinya lembut, penuh empati, dan sarat cinta. Tidak hanya kepada keluarga, bahkan kepada setiap anak disekitarnya, Rasulullah menebarkan kasih sayang yang menenangkan jiwa.

Berbeda denga orang berhati keras yang sulit menumbuhkan rasa belas kasih, Rasulullah ﷺ justru menghadirkan kelembutan dalam setiap sikapnya. Dalam riwayat Anas bin Malik Radhiayallahu’anhu disebutkan, Rasulullah pernah mencium putranya, Ibrahim. Beliau menunjukkan bahwa kasih saayang adalah bagian dari keimanan, bukan kelemahan.

Rasulullah ﷺ tidak hanya menyayangi anaknya sendiri. Dalam kisah yang diriwayatkan Asma’binti Umais, beliau pernah memeluk dan mencium anak – anak Ja’far bin Abi Thalib dengan penuh haru setelah mendengar kabar gugurnya Ja’far. Bahkan beliau memerintahkan agar dibuatkan makanan bagi keluarganya karena mereka sedang berduka. Begitu dalam rasa empati beliau terhadap sesama.

Ketika Rasulullah meneteskan air mata karena kehilangan putranya, Ibrahim, beliau bersabda, “Air mata ini adalah tanda kasih sayang yang Allah tanamkan di hati hamba – hamba-Nya.” (HR.Bukhari). Begitulah, kasih sayang bukan tanda kelemahan, melainkan anugerah Allah yang memperluas hati manusia.

Baca Juga: Dompet Dhuafa Yogyakarta Hadirkan Kebahagiaan Anak Yatim dan Dhuafa Lewat CineCharity #7: Nonton Hayya 3

Kasih sayang Rasulullah ﷺ tidak hanya tampak dalam kata, tetapi juga dalam tindakan. Beliau lembut menghadapi anak – anak, tidak mudah marah atau membentak. Dalam riwayat Aisyah Radhiyallahu’anha, diceritakan bahwa Rasulullah hanya memercikkan air ketika pakaian beliau terkena kecing seorang anak kecil. Sikap penuh kesabaran ini menjadi teladan mendidik tanpa kekerasan.

Rasulullah juga suka bercanda dengan anak – anak. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa beliau pernah menjulurkan lidahnya agar cucunya tertawa gembira. Anas bin Malik pun menceritakan, Rasulullah selalu memberi salam kepada anak – anak di jalan, membuat mereka merasa dihargai dan disayangi.

Dalam momen ibadah pun, kasih sayang beliau tidak hilang. Saat shalat, Rasulullah menggendong Umamah, cucunya, daan menurunkannya dengaan lembut ketika sudu. Ini menunjukkan bahwa kasih tidak bertentangan dengan ibadah, justru menjadi bagian darinya.

Sahabat, Rasulullah ﷺ memberikan teladan agar setiap orang tua dan pendidik menumbuhkan cinta dalam mendidik anak. Beliau bersabda kepada Ibnu Abbas, “Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu.” (HR.Tirmidzi). Ucapan ini mengandung makna pengajaran, bukan sekedar nasihat, bahwa setiap anak harus dibimbing dengan kasih dan iman.

Anak – anak adalah amanah dan calon pemimpin masa depan. Mereka tumbuh dengan meniru keteladanan yang mereka lihat. Ketika mendapatkan kasih, mereka belajar untuk mengasihi. Namun ketika hanya menerima kekerasan, hati mereka menjadi keras pula.

Dari setiap kisah beliau, kita belajar bahwa kasih sayang adalah kunci hati manusia. Mari tumbuhkan kelembutan di rumah kita, agar anak – anak tumbuh menjadi pribadu yang berakhlak, berilmu, dan penyh empati.

Yuk, muliyakan adik – adik yatim

6 Keutamaan Menjaga Silaturahmi Yang Jarang Diketahui

6 Keutamaan Menjaga Silaturahmi Yang Jarang Diketahui

Keutamaan Menjaga Silaturahmi – Menjaga hubungan agar tetap baik sangat diperhatikan dalam ajaran islam. Terlebih manusia hakikatnya adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Yang renggangnya hubungan antar sesame kerabat atau teman memilik efek buruk yang harus dihindari. Untuk itulah islam memiliki batasan dan peraturan mengenai silaturahmi.

Secara harfiah silaturahmi diartikan sebagai tali persahabatan atau persaudaraan. Yang mana apabila memutus silaturahmi itu berarti sama halnya dengan memutus ikatan persaudaraan dan persahabatan yang sudah terjalin sebelumnya. Yang mana perbuatan tersebut sangat dikecam oleh Allah SWT karena tanpa disadari sama saja telah merugikan diri sendiri.

Padahal Allah SWT telah jelas memerintahkan agar manusia saling menjaga silaturahmi sebab dibalik hal demikian terdapat banyak hikmahnya. Seperti yang akan dibahas pada artikel kali ini mengenain keutamaan menjaga silaturahmi.

Keutamaan menjaga silaturahmi yang pertama ialah diturunkannya rahmat bagi mereka yang senantiasa menjaga silaturahmi. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada surat Ar-Ra’d ayat 21. Nah, memangnya seistimewa apa sih suatu rahmat?

Tentu hal tersebut tidak ternilai harganya yang bahkan tidak bisa ditukar dengan barang semahal apapun yang ada di dunia. Sebab rahmat Allah SWT itu memiliki banyak bentuknya yang meliputi pertolongan, pahala, perlindungan hingga tuntunan. Sudah jelas Allah SWT akan memberikan rahmat-Nya bagi mereka yang memang mencarinya.

Sehingga hal tersebut yang membuat rahmat Allah suatu anugrah yang tak terukur nilainya. Sebab pada waktu tertentu meski kita memiliki banyak harta dan kedudukan. Bukan berarti semua bisa menolong dan menjadi pelindung kita kala mengalami suatu musibah di dunia dan di akhirat. Contohnya saja saat memiliki banyak hasil panen yang nilainya ratusan juta.

Namun, semua itu berakhir sia-sia apabila ladang pertaniannya mengalami kerusakan atau ada musibah bencana alam. Maka tidak ada yang tersisa selain kesedihan. Berbeda dengan rahmat bisa jadi kala seharusnya ladang pertanian tersebut rusak oleh oknum tak bertanggung jawab, dengan rahmat Allah maka para oknum tersebut mengalami hal buruk yang membuat mereka tidak jadi merusak ladang. Nah, hal demikianlah salah satu contoh nyata betapa sebuah rahmat Allah SWT sangat berarti dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Perlu dipahami jika rezeki tidak semata-mata masalah uang saja. Rezeki bisa mencakup hal lain yang bermakna sebuah kenikmatan. Dimana jika kita ingin hidup dengan rezeki yang melimpah yang bahkan tidak pernah diduga akan mendapatkannya dengan mudah. Maka salah satu amalan yang dapat dilakukan ialah dengan menjaga silaturahmi.

Bukankah hal demikian tidak merugikan diri anda sendiri? Terlebih dengan menjaga silaturahmi hidup juga jadi terasa lebih ringan karena tidak memiliki rasa benci yang merusak jiwa hingga pikiran. Serta memudahkan anda ketika memang membutuhkan bantuan seseorang untuk bersandar. Bayangkan saja jika anda memutus silaturahmi dengen seseorang. Sedangkan pada satu waktu tertentu anda membutuhkan orang tersebut. Tentu hal itu akan membuat diri anda kebingungan sendiri tentang apa yang baiknya dilakukan.

Bahkan keutamaan menjaga silaturahmi yang akan dilapangkan rezekinya ini bukanlah bualan semata, sebab sudah sangat jelas tertera pada sebuah hadis riwayat Bukhari.

Urusan kematian, jodoh serta ketetapan Allah lainnya yang sudah pakem, memang sulit untuk manusia campuri. Sebab semua itu sudah Allah gariskan untuk masing-masing hamba-Nya. Dimana Allah SWT sudah tau mana yang terbaik bagi setiap makhluk-Nya. Yang terkadang bagi diri kita sendiri itu terasa buruk, namun siapalah manusia yang bagaikan debu dalam sebuah tatanan tata surya ini yang tidak memiliki banyak pengetahuan. Sehingga sudah jelas Allah lebih mengetahui yang terbaik bagi makhluk-Nya.

Serta bukan hal rumit bagi Allah untuk mengubah garis hidup seseorang, yang bahkan dengan menjaga silaturahmi Allah SWT bisa dengan mudah memperpanjang umur seseorang. Sehingga apabila kita ingin senantiasa lebih memperbanyak amalan dengan umur yang panjang agar memiliki banyak waktu untuk terus berbuat kebaikan sesuai apa yang Allah perintahkan. Maka tidak perlu treatment rumit yang menghabiskan banyak uang untuk dapat membuat panjang umur. Sebab tidak semua orang mampu melakukan berbagai treatment tersebut.

Akan tetapi ada satu hal yang pasti semua orang sanggup melakukannya, yaitu dengan terus menjaga silaturahmi. Maka sesuai hadis dari Rasullah SAW bagi orang yang mampu melakukan hal tersebut salah satu ganjarannya ialah bisa memperpanjang umur.

Baca juga: 3 Keutamaan Bagi Orang Yang Mengurus Anak Yatim Dengan Baik

Semakin banyak hubungan yang terjaga dengan baik, maka akan semakin memudahkan kita jika mengalami kesulitan. Terlepas tetap harus bergantung pada Allah SWT. Namun, kita sebagai umat manusia tetap membutuhkan perantara Allah untuk membantu diri sendiri kala memang membutuhkannya baik secara materi maupun non materi. Contohnya saja saat memang membutuhkan uang, maka dengan jaringan sosial yang dimiliki kita bisa meminjam terlebih dahulu kepada seseorang yang berhubungan baik dengan diri sendiri baik itu kerabat maupun seorang sahabat.

Seperti yang umum diketahui jikalau banyak dosa yang bersumber dari hati yang buruk. Nah salah satu faktor buruknya hati bisa berupa rasa benci dan ego tinggi pada seseorang. Dimana ketika hati sudah sangat membenci seseorang karena suatu hal yang mungkin sebenarnya masih bisa diselesaikan dengan baik. Maka akan membuat banyak orang jadi lebih memilih memutus silaturahmi. Yang ujung-ujungnya akan menyebabkan beberapa penyakit hati lainnya.

Untuk itulah, ketika hati lebih bersih dan silaturahmi terjaga maka hatipun akan bisa fokus untuk meningkatkan terus menerus amalan lain. Sebab dihatinya tidak memiliki rasa sakit yang mengganjal yang membuat hati terasa sesak. Dengan begitu keimanan pun akan jadi meningkat.

Biasanya perselisihan bisa muncul karena seseorang menjauh dan memutus silaturahmi begitu saja, yang membuat satu pihak merasa heran dan jadi menaruh kecurigaan yang ujung-ujungnya menimbulkan rasa tidak menyukai satu sama lain. Sedangkan jika silaturahmi tetap terjaga meski tidak bertatap muka.  Maka hubungan justru akan terasa makin erat karena satu sama lain tidak merasa curiga. Sehingga lewat kedekatan tersebut akan memudahkan diri sendiri jikalau mengalami konflik baik besar ataupun kecil dengan kerabat ataupun teman bersangkutan. Dimana karena komunikasi baik yang sudah terjalin maka penyelesaian masalahpun jadi terasa lebih cepat tidak alot dan menimbulkan perpecahan yang lebih besar lagi.

Demikianlah penjelasan mengenai keutamaan menjaga silaturahmi, semoga kita senantiasa termasuk pada golongan-golongan yang terus menjaga silaturahmi yang baik berasam kerabat ataupun teman. Sehingga Allah SWT senanti memberikan kita keutamaan menjaga silaturahmi, yang akan sangat bermanfaat untuk menjalani kehidupan saat di dunia maupun di akhirat. Sebab putusnya hubungan baik silaturahmi benar-benar merugikan tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Next: Air Untuk Kehidupan

Hukum Sedekah kepada Orang Tua Sendiri: Pahala dan Keutamaannya 

Hukum Sedekah kepada Orang Tua Sendiri: Pahala dan Keutamaannya 

Sahabat, sering kali kita ingin bersedekah untuk membantu orang lain,tetangga, teman, atau siapa pun yang membutuhkan. Namun, pernahkah Sahabat berpikir: bagaimana hukum sedekah kepada orang tua sendiri? Apakah pahalanya sama besar seperti bersedekah kepada orang lain? 

Islam menempatkan keluarga sebagai penerima sedekah paling utama. Rasulullah ﷺ bersabda: 

“Sedekah kepada orang miskin bernilai satu pahala, sedangkan kepada kerabat bernilai dua: pahala sedekah dan pahala silaturahmi.” (HR. Tirmidzi) 

Dari sabda ini, jelas bahwa membantu keluarga, termasuk ayah dan ibu, memberi nilai ganda di sisi Allah. Jadi, hukum sedekah kepada orang tua sendiri adalah sunnah muakkadah, yaitu sangat dianjurkan selama niatnya tulus karena Allah SWT, bukan karena ingin dipuji. 

Baca Juga: 5 Penyebab Hilangnya Pahala Sedekah, Hati-hati Jadi Sia-sia!

Sahabat, memberi sedekah kepada orang yang melahirkan dan membesarkan kita tak selalu berupa uang. Kadang perhatian, waktu, atau tenaga justru jauh lebih bermakna. Mengantarkan kebutuhan mereka, menemani berbincang, atau sekadar mendengarkan keluh kesah sudah menjadi bentuk sedekah penuh kasih. 

Allah SWT berfirman: 

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرً 

 Wakhfiḍ lahumā janāḥa ż-żulli mina r-raḥmah, wa qul rabbir ḥamhumā kamā rabbayānī ṣaghīrā. 

Artinya: 
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku ketika kecil.’” 
(QS. Al-Isrā’: 24) 

Ayat ini menegaskan bahwa setiap kebaikan kepada kedua orang yang membesarkan kita adalah bentuk ibadah. Bahkan senyum tulus dan perhatian kecil bisa menjadi sedekah besar di mata Allah. 

Dalam bersedekah kepada keluarga, terkadang kita memilih memberi kepada orang lain lebih dulu, lalu baru mengingat orang tua setelahnya. Padahal, memberi untuk mereka termasuk sedekah terbaik. Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda bahwa

 “sedekah yang paling besar pahalanya adalah kepada keluarga dekat.” 

Artinya, sebelum menyalurkan bantuan jauh ke luar, pastikan keluarga kita terpenuhi kebutuhannya. Mereka sering kali tidak meminta, tapi perhatian kecil bisa membuat hati mereka tenang. 

Sahabat, sedekah tidak pernah mengurangi harta, justru menambah keberkahan. Apalagi bila diberikan kepada orang yang paling berjasa dalam hidup. Rasulullah ﷺ bersabda: 

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ 
Mā naqaṣat ṣadaqatun min mālin. 

Artinya: 
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” 

(HR. Muslim, No. 2588) 

Ketika kita memberi kepada orang tua, sejatinya kita sedang memohon keberkahan atas rezeki yang Allah titipkan. Dari tangan merekalah kita belajar tentang ikhlas, kasih, dan perjuangan. Maka tak heran, sedekah untuk mereka menjadi sumber keberkahan dan kebahagiaan dalam hidup. 

Sedekah tak harus selalu dalam nominal besar. Sahabat bisa mulai dari hal-hal sederhana: 

  1. Membelikan makanan favorit mereka. 
  1. Menggantikan tenaga saat mereka lelah. 
  1. Mengirimkan hadiah kecil untuk menunjukkan rasa cinta. 
  1. Menyisihkan waktu untuk sekadar menemani dan mendengarkan. 

Hal-hal kecil ini sering kali lebih berkesan daripada uang. Bagi orang tua, perhatian anak adalah anugerah yang tidak ternilai. 

Memberi kepada ayah dan ibu bukan hanya amalan sosial, tapi juga bagian dari berbakti. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa berbuat baik kepada orang tua adalah amalan paling utama setelah salat. Jadi, sedekah kepada mereka bukan sekadar berbagi, melainkan juga bukti cinta dan syukur. 

Dengan berbuat baik kepada orang tua, Sahabat sedang menjaga hubungan keluarga sekaligus menunaikan perintah Allah. Dua pahala dalam satu amalan, siapa yang tak ingin meraihnya? 

Sahabat, segaka rezeki yang kita peroleh tidak lepas daari doa mereka. Setiap tetes keringat ayah, setiap doa ibu di  sepertiga malam, menjadi jalan terbukanya pintu rezeki. Maka bersedekah kepada mereka adalah wujud syukur dan penghargaan atas perjuangan tanpa pamrih itu

Tak ada salahnya jika sebagian rezeki yang kita peroleh disisihkan untuk membahagiakan mereka. Bukankah membahagiakan orang tua termasuk bentuk ibadah yang mendatangkan ridha Allah.

Sahabat, sebelum membantu banyak orang diluar sana, mari kita mulai dari rumah. Lihat kembali mereka yang telah mengasuh dan membimbing sejak kecil. Mungkin mereka tidak meminta apapun, tapi sekecil apapun pemberian kita akan sangat berarti.

Sedekah kepada ayah dan ibu bukan hanya kewajiban moral, tapi juga kesempatan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, yuk mulai dari sekarang, sisihkan rezeki, waktu, dan perhatian untuk mereka. Dari merekalah keberkahan hidup bermula, dan melalui mereka pula Allah limpahkan rahmat-Nya. 

Hikmah Perang Mu’tah: Jejak Keberanian yang Menginspirasi

Hikmah Perang Mu’tah: Jejak Keberanian yang Menginspirasi

Perang Mu’tah memberi banyak pelajaran penting bagi umat Islam. Banyaknya tentara dan persenjataan lengkap bukanlah jaminan utama untuk menang dalam pertempuran. Perang Badar dan perang Mu’tah membuktikan hal itu. Membela agama Allah dengan keyakinan akan adanya pertolongan itu sangat penting yang harus dimiliki setiap muslim. Selain itu, dibutuhkan juga kebijaksanaan, keberanian, serta tanggung jawab. 

Meskipun jumlah pasukan kaum Muslimin jauh lebih sedikit dibandingkan musuh, kekuatan mereka bukan berasal dari jumlah atau senjata saja. Yang menjadi penggerak utamanya adalah iman dan keyakinan bahwa Allah akan memberikan pertolongan kepada mereka. Ketika kita menghadapi tantangan, baik dalam urusan pribadi, sosial, atau agama, kita harus tetap hadapi dengan sabar, ikhtiar serta tawakal dengan keyakinan bahwa Allah adalah Sebaik baik penolong. 

Perang Mu’tah juga mengajarkan pentingnya struktur kepemimpinan dan ketaatan kepada umat Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam awalnya menunjuk tiga orang pemimpin secara berurutan, yaitu Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Ketiga pemimpin ini gugur dalam perang sebagai syuhada, sehingga pasukan sementara kehilangan arah karena tidak ada pemimpin yang ada. Namun, dalam keadaan darurat tersebut, umat Islam di medan perang secara spontan memutuskan untuk memberikan panji kepada Khalid bin Walid. Keputusan ini akhirnya diakui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang menunjukkan bahwa dalam situasi sulit, umat Islam harus mampu berijtihad dan bersatu di bawah komando yang tepat. 

Pertempuran muslimin dan pasukan Romawi yang besar dan menakutkan menjadi momen penting yang membuat banyak kabilah Arab terkejut. Melihat keberanian, semangat para muslimin dalam menghadapi musuh yang sangat kuat, banyak kabilah yang sebelumnya ragu-ragu kini mulai terkesan dan berhenti memandang Islam sebagai musuh. Terlebih setelah melihat langsung keteguhan dan kekuatan para muslimin, sebagian besar dari mereka memutuskan untuk memeluk Islam, mengawali hidup baru dengan penuh keyakinan dan harapan. 

Baca Juga: Peran Pemuda dalam Peristiwa Mu’tah

  1. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih Zaid bin Haritsah untuk memimpin dalam perang Mu’tah dengan cara  bijak. Meskipun Zaid dulu pernah menjadi budak, beliau dipercaya memimpin pasukan. Pilihan ini menunjukkan bahwa Nabi melihat seseorang berdasarkan keimanan dan ketakwaannya, bukan dari status sosial, keturunan, atau masa lalunya. Ini adalah pengingat yang kuat bahwa nilai sejati terletak pada hati dan karakter seseorang, bukan pada latar belakang dunia. 
  1. Sikap Abdullah bin Rawahah raḍiyallāhu‘anhu yang menangis saat mengingat sebuah ayat Al-Qur’an menunjukkan betapa kuat keimananya. Ia sangat menyadari betapa beratnya kenyataan menunggu setiap orang di hari akhir, hingga hatinya tergerak dan mata mengeluarkan air mata. 
  1. Salah satu keistimewaan Ja’far bin Abi Thalib raḍiyallāhu‘anhu terlihat jelas saat berperang. Meskipun kedua tangannya telah luka karena pukulan musuh, ia tetap tak mau biarkan bendera Islam jatuh. Dengan tenaga sedikit tersisa, ia memeluk bendera itu erat-erat di dada, menjaganya tetap berkibar hingga akhirnya ia gugur sebagai syuhada. Karena pengorbanannya sangat luar biasa, Allah memberinya anugerah istimewa, dua sayap di surga yang memungkinkannya terbang ke mana pun ia kehendaki. Semoga Allah selalu meridhainya. 

Kepemimpinan Khalid bin Walid di tengah kondisi sulit menjadi pelajaran penting. Dengan kemampuannya dalam mengubah susunan pasukan dan menciptakan ilusi bantuan, ia berhasil menarik mundur pasukan Muslim dengan korban sedikit, sehingga menghindari kehancuran total. Ini menunjukkan bahwa berani saja tidak cukup, tetapi harus diimbangi dengan strategi  cerdas  dan pikiran yang matang. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahu kepada para sahabat tentang perjalanan Perang Mu’tah bahwa tiga orang pemimpin gugur sebagai syahid, kemudian kepemimpinan bergeser ke tangan Khalid bin Walid, hingga akhirnya pasukan Muslim memperoleh kemenangan. Peristiwa itu terjadi jauh dari Madinah, dan belum ada utusan yang datang membawa kabar. Ini menjadi salah satu bukti nyata dari banyak tanda-tanda kenabian yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Perang Mu’tah bukan sekadar kisah kepahlawanan, tetapi cerminan dari iman yang teguh dan semangat juang tanpa batas. Dari peristiwa itu, kita diajarkan untuk menjadi Muslim yang tidak mudah menyerah, berpikir cerdas, dan selalu berpegang pada nilai-nilai kebenaran. 

Semoga semangat para sahabat di Mu’tah menginspirasi kita untuk terus berjuang dalam kebaikan, menebar manfaat, dan menjadi bagian dari perubahan positif bagi umat dan bangsa. 

Peran Pemuda dalam Peristiwa Mu’tah : Keteladanan Generasi Pejuang  

Peran Pemuda dalam Peristiwa Mu’tah : Keteladanan Generasi Pejuang  

Sahabat, ketika kita menelusuri sejarah Islam, ada satu peristiwa besar yang menggambarkan keberanian, keikhlasan, dan kepemimpinan para pemuda yaitu peristiwa Mu’tah. Dalam pertempuran ini, para pemuda memainkan peran penting sebagai garda terdepan perjuangan. 

Perang Mu’tah adalah Pertempuran besar yang terjadi di bulan Jumadil Ula tahun ke-8 Hijriah, antara umat Muslim dan pasukan Romawi di wilayah Syam (kini bernama Yordania). Perang ini dimulai setelah utusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Harits bin Umair Al-Azdi, dibunuh secara kejam oleh Syurahbil bin Amr Al-Ghassani. Mendengar berita itu, Nabi mengirimkan pasukan yang terdiri dari 3.000 orang sahabat untuk membalas perbuatan tersebut, meskipun harus menghadapi musuh yang jumlahnya mencapai 200.000 orang. Pertempuran berlangsung sangat sengit, hingga tiga tokoh pemimpin Muslim gugur berturut turut. Setelah itu, Khalid bin Walid mengambil alih pimpinan dan berhasil membawa pasukan kembali ke kamp dengan kemenangan. Meskipun melawan musuh yang jauh lebih besar, jumlah prajurit Muslim yang gugur hanya kurang dari sepuluh orang, sebuah tanda nyata bantuan dari Allah. 

Di medan Mu’tah, kedua pasukan akhirnya saling bertemu. Pasukan Muslim yang hanya terdiri dari 3.000 orang harus menghadapi serangan besar dari 200.000 prajurit Romawi. Pertarungan yang sengit terjadi. Sang komandan pasukan Muslim, Zaid bin Al-Haritsah, gugur sebagai syuhada setelah memimpin pasukan dengan berani dan gagah. 

Setelah Zaid gugur, panji pasukan dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib. Dengan kudanya, ia melompat melewati barisan musuh, tetapi sebilah pedang melukai tangan kanannya. Lalu, ia memindahkan panji ke tangan kirinya, dan tangan kirinya pun terluka. Meski begitu, Ja’far tetap tidak menyerah, ia memeluk bendera dengan dada, sampai akhirnya ia gugur sebagai syuhada. Allah mengganti kedua tangannya dengan dua sayap di surga, sehingga ia dikenal sebagai “orang yang memiliki dua sayap.” 

Dalam  peristiwa mu’tah, terdapat banyak pemuda yang sangat berani, seperti Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Ketika ketiga pemimpin utama mereka meninggal, tugas memimpin pasukan diambil alih oleh Khalid bin Walid, yang pada masa itu juga masih seorang pemuda. Ia mampu menyelamatkan pasukan Muslim dengan cara berpikir yang bijak dan tetap menjaga semangat perjuangan mereka. Dari cerita ini, peran pemuda dalam peristiwa Mu’tah menjadi contoh tentang bagaimana seorang pemimpin harus berani, cerdas, dan bertanggung jawab. 

Peran Pemuda dalam Peristiwa Mu’tah bukan hanya menunjukkan kekuatan fisik, tetapi ketulusan hati dalam berjuang dijalan Allah. Mereka berangkat bukan karena keinginan untuk mendapatkan keuntungan duniawi, tetapi semata mata karena iman. Nilai keikhlasan tersebut bisa menjadi contoh bagi generasi muda sekarang, bahwa perjuangan tidak selalu berupa pertarungan dengan senjata, tetapi lebih berupa usaha nyata untuk kemajuan umat dan bangsa. Di zaman modern, semangat peran pemuda dalam peristiwa Mu’tah bisa diwujudkan melalui perhatian terhadap isu sosial, mengajak orang lain kepada kebenaran, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. 

Sahabat, kini tantangan umat tidak lagi terjadi di medan perang, tapi di medan sosial dan kemanusiaan. Banyak cara yang bisa dilakukan oleh para pemuda untuk menyalurkan semangat juang dan rasa peduli, seperti gerakan literasi, berdakwah di media digital, hingga kegiatan sosial yang memperkuat ekonomi umat dan membantu orang-orang yang membutuhkan. 

Melalui lembaga seperti Dompet Dhuafa, sahabat bisa meneladani semangat para pejuang Mu’tah dengan cara yang lebih lembut dan bermakna berbagi kebaikan, menyebar kepedulian, serta ikut serta dalam perubahan yang memberi manfaat bagi banyak orang.  

Sahabat, mari kita ambil inspirasi dari peran para pemuda dalam peristiwa Mu’tamenjadi generasi yang berani bertindak, memiliki jiwa ikhlas, dan peduli terhadap sesama. Karena setiap tindakan kecil kebaikan yang kita lakukan hari ini, akan menjadi bagian dari perjuangan besar untuk kemanusiaan dan keberkahan umat. 

Sedekah Menolak Bala, Keajaiban Sedekah Tak Banyak Orang Tau!

Sedekah Menolak Bala, Keajaiban Sedekah Tak Banyak Orang Tau!

Sedekah Menolak Bala – Sebuah kutipan hadits yang tidak asing di telinga kita. Sedekah yang berarti mengeluarkan sebagian hal yang kita miliki baik berupa harta, tenaga, dan ilmu. Yang mana merupakan bentuk rasa syukur kita terhadap berjuta-juta nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita.

Sedekah bisa kita lakukan hanya dengan memberikan senyum, mengajarkan ilmu. Hingga memberikan harta yang kita miliki untuk mereka yang membutuhkan, atau mendanai kegiatan sosial dan dakwah.

Kita sudah mengetahui bahwa bersedekah memiliki banyak manfaat, tidak hanya untuk orang yang mendapatkan sedekah, tetapi juga untuk orang yang memberikannya. Manfaat sedekah yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas antara lain mendapatkan pahala dan berkah dari Allah SWT, membuka pintu rezeki, menjaga keikhlasan hati, menghindarkan diri dari sifat kikir, meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan psikologis, serta berbagai manfaat lainnya.

Sedekah Menolak Bala

Selain itu, salah satu manfaat yang pernah ditegaskan Rasulullah SAW melalui sabdanya adalah menghindarkan diri kita dari bencana, musibah, dan menolak bala. Hal ini pernah diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan Thabrani.

Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah. Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah. Obatilah penyakitmu dengan sedekah. Sedekah itu sesuatu yang ajaib. Sedekah menolak 70 macam bala dan bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo)” (HR. Baihaqi dan Thabrani).

Dari hadits tersebut kita dapat mengetahui bahwa ketika kita melakukan amal kebaikan maka hal tersebut dapat menolak bala atau musibah yang mungkin akan terjadi. Sebab, Allah SWT mengetahui segala yang terjadi di dunia ini dan memberikan ujian kepada hamba-Nya sesuai dengan hikmah-Nya.

Jadi, apabila kita memberikan sedekah dengan tulus dan ikhlas, maka Allah SWT akan memberi kita pertolongan dalam menghadapi ujian yang sedang kita alami.

Dan sebaliknya, apabila kita bersedekah dengan mengharapkan balasan dari orang lain atau pujian yang membuat kita tidak ikhlas, maka kita tidak akan mendapatkan manfaatnya. Yang ada, kita hanya akan mengeluarkan apa yang kita miliki dan mendapatkan apa yang kita niatkan.

Niat menjadi salah satu hal penting ketika kita melakukan sesuatu. Hal ini tertulis pada hadits arba’in an-Nawaiyah ke-1 yakni, ”Sesungguhnya setiap amal itu dengan/tergantung niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang diinginkan…”.

Jelaslah dari hadits tersebut, bahwa segala yang kita lakukan akan tergantung pada niat kita. Apabila kita tidak tulus dan ikhlas untuk bersedekah, melainkan hanya mengharapkan balasan dan pujian dari orang lain, maka hanya itulah yang akan kita dapatkan.

Amalan Berjuta Kebaikan

Sedekah merupakan amal kebaikan yang sangat teranjurkan dan memiliki banyak manfaat. Sehingga, sebagai manusia yang beriman, kita harus senantiasa berusaha untuk melakukan sedekah dengan tulus dan ikhlas, tanpa mengharapkan balasan dari orang penerima sedekah kita. Kita juga harus selalu mengingat bahwa Allah SWT akan memberikan ganjaran yang lebih besar bagi orang yang melakukan sedekah dengan tulus dan ikhlas.

Kita juga sudah seharusnya mengajarkan nilai-nilai sedekah dengan tulus dan ikhlas kepada generasi muda. Sehingga mereka dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan mengerti arti kebaikan serta kepedulian terhadap sesama. Dengan melakukan sedekah, kita tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga membantu diri kita sendiri dalam meperoleh kebahagiaan.

Oleh karena itu, mari kita selalu berusaha untuk bersedekah dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun hanya dengan memberikan sedikit waktu atau kebaikan kepada orang lain. Kita tidak pernah tahu betapa besar pengaruh dari kebaikan. Kita lakukan pada orang lain dan betapa besar manfaat yang bisa kita peroleh.

Semoga kita senantiasa Allah berikan kemampuan dan kesempatan untuk melakukan sedekah. Dalam kondisi apapun di kehidupan sehari-hari dan selalu terjauhkan dari segala macam bala musibah yang mengancam.

YUK SEDEKAH!

5 Keutamaan Bulan Rajab Yang Perlu Diketahui

5 Keutamaan Bulan Rajab Yang Perlu Diketahui

bulan rajab

Rajab adalah salah satu bulan yang baik, penuh kemuliaan terletak di antara  Jumadal Akhir dan  Sya’ban. Menganjurkan untuk berlomba – lomba perbanyak melakukan amal sholeh maupun kebaikan lainnya.

Keutamaan bulan Rajab dengan mengisi amalan saleh dari bulan lainnya adalah akan mendapatkan keberkahan serta pahala berlimpah. Tidak boleh untuk melakukan sesuatu hal yang bersifat maksiat serta mengarahkan untuk selalu melakukan amal saleh.

Allah SWT berfirman dalam Q.S At-Taubah  (9:36):

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

“ Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah 12 bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (DI Lauh Mahfus) di waktu Allah menciptakan langit dan bumi, antaranya terdapat empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka jangan kamu mendzolimi dirimu pada padanya, dan pergilah orang – orang musyok semuanya sebagaimana mereka menerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah beersama orang – orang yang bertakwa.”

Yang dimaksud empat bulan haram tertuang dalam hadits dari Abu Bakrah, Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya:

“ Setahun berputar sebagaimana keadaanya sejak Allah menciptakan langit dan bumi, satu tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram ( suci). Tiga bulannya berturut – turut yaitu  Dzulqa’dah,Dzulhijjah, dan Muharram. ( satu bulan laginya adalah ) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no 3197 dan Muslim no 1679). 

Keutamaan Bulan Rajab

Menyarankan untuk giat dalam melakukan amalan saleh agar mendapatkan ridho serta keberkahan yang berlipat-lipat dari pada melakukannya pada bulan lainnya selain bulan haram (suci), lantas apa saja keutamaannya?, Simak penjelasan dibawah ini:

1. Bulan Haram

Terdapat empat bulan haram, sebagai kemuliaan dalam kalender Islam. Selama  berlangsung maka amalan saleh yang sudah kita lakukan akan berlipat pahalanya dan sebaliknya apabila  kita melakukan amalan buruk maka kita akan mendapatkan hukuman yang lebih besar daripada lainnya.

2. Isra Mi’raj

Merupakan salah satu pertiwa penting di dalam agama Islam saat Nabi Muhammad SAW diangkat oleh Allah SWR ke langit ke-7, dan saat itulah keluar titah untuk wajib menjalankan sholat lima waktu.

3. Bulan untuk Bertaubat

Terdapat anjuran kepada semua kaum muslimin untuk bertaubat, karena pada bulan ini Allah SWT akan mengabulkan semua doa umat-Nya, termasuk doa pengampunan atas segala dosa.

4. Malam yang Penuh Mustajab

Imam Syafi’I dalam kita Al-Ummu menjelaskan bahwa:

بَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ: إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ: فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى، وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ، وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ

Artinya:

“ Telah sampai berita pada kami bahwa dulu pernah mengatakan: sesungguhnya doa dapat terkabulkan pada 5 malam: malam jumat, malam hari raya Idul Adha, malam hari raya Idul Fitri, malam pertama Rajab dan malam nisfu Syaban.”

5. Penuh Rahmat

Allah SWT akan memberikan banyak rahmat kepada seluruh umat-Nya sehingga dapat katakan bahwa  Rajab  adalah bulan  “istighfar” yang penuh kemuliaan.

Demikian penjelasaan mengengai keutamaan kemuliaan bulan Rajab, begitu besar kemuliaannya yang bisa kita dapatkan, yuk saling mengingatkan untuk kita semua agar berlomba – lomba untuk melakukan amal saleh agar mendapatkan banyak keberkahan serta kemuliaan bulan Rajab ini,

Rezeki Dari Allah Tidak Akan Tertukar

Rezeki Dari Allah Tidak Akan Tertukar

Rezeki Dari Allah Tidak Akan Tertukar – Salah satu perkara dunia yang banyak sekali manusia khawatirkan adalah mengenai rezeki. Banyak orang yang rela untuk pergi pagi dan pulang malam untuk menjemput rezeki. Bahkan tak jarang hal tersebut membuat akhirat terlupakan karena terlalu sibuk dengan mengejar rezeki dunia. Meskipun jika membandingkan usaha dengan hasilnya kadang tidak sebanding.

Dalam hidup ini, ada orang yang berhasil meraih kekayaan melalui kerja keras dan usaha yang tak kenal lelah. Di sisi lain, ada pula yang sejak lahir sudah memiliki harta melimpah. Namun, tak sedikit pula orang yang bekerja keras namun tak kunjung memperoleh hasil yang memadai, sementara ada yang terlihat sukses secara tiba-tiba meski sebelumnya hidupnya malas dan tak produktif. Bagaimana perspektif Islam mengenai perbedaan rezeki dan kesuksesan yang ada?

Baca Juga: Tujuh Penghambat Rezeki Datang, Nomer 2 Sering Tak Disadari!

Benarkah rezeki dari Allah tidak akan tertukar?

rezeki dari Allah tidak akan tertukar

Sebelum kita membahas mengenai apakah rezeki bisa tertukar, mari kita bahas terlebih dahulu mengenai apa itu rezeki. Segala pemberian Allah yang memiliki daya guna, bermanfaat, dan manusia dapat memanfaatkannya sebagai sumber kehidupan, hal tersebut merupakan rezeki. Tak hanya itu dapat pula mengartikan rezeki sebagai bentuk karunia, anugrah, atau pemberian dari Allah untuk makhluknya.

Dalam QS Ar-Rum: 40, Allah menyatakan bahwa hanya Dia yang menciptakan manusia, memberikan rezeki, dan mematikan kemudian menghidupkan mereka kembali. Tak ada satu pun dari sekutu yang manusia agungkan mampu melakukan hal yang sama seperti Allah. Maha Suci Dia dan terpelihara dari apa yang manusia anggap sebagai persekutuan. Hal ini menegaskan kekuasaan mutlak Allah atas kehidupan dan kematian, serta mengajak manusia untuk hanya menyembah-Nya semata.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat tersimpulan bahwa bentuk rezeki tidak hanyalah sebatas dalam bentuk material uang, namun meliputi seluruh aspek kehidupan seperti kesehatan, keluarga, kepandaian, dan lain sebagainya.

Terkadang manusia terlalu fokus pada nikmat rezeki berupa uang sampai melupakan nikmat lainnya yang telah Allah berikan.

Dalam HR. Muslim Allah menjamin rezeki yang seseorang bahkan sebelum ia lahir, sehingga tidak mungkin rezeki kita tertukar dengan orang lain karena rezeki tersebut telah Allah atur dari ribuan tahun sebelum kita lahir ke dunia.

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu dapat berbuat demikian? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutuan.”

Selain hadis tersebut Allah juga telah menjelaskan bahwa rezeki seseorang telah Allah atur dalam surah Hud ayat 6 yang berbunyi:

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu dapat berbuat demikian? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutuan.” (QS. Hud : 6)

Jika begitu untuk apa bekerja?

Meskipun Allah menjamin rezeki bagi setiap makhluk-Nya, hal ini tak boleh menjadi alasan untuk bermalas-malasan dan tidak berusaha. Sebaliknya, Allah memerintahkan kita untuk terus berusaha, berdoa, dan melakukan kebaikan sebanyak mungkin karena takdir tidak dapat terprediksi.

Dengan tekun dan gigih bekerja keras serta melakukan perbuatan baik, kita akan memperoleh kemudahan dalam mencapai takdir yang telah Allah tetapkan untuk kita. Oleh karena itu, jangan berhenti berusaha dan tetaplah memohon petunjuk-Nya agar kita selalu berada di jalan yang benar.

Para sahabatpun pernah bertanya pada Rasullah mengenai permasalah tersebut. Hal ini seperti dalam sebuah hadist yang berbunyi:

“Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha?”

Dalam hadistnya, Rasulullah mengajarkan bahwa setiap manusia telah Allah SWT tentukan nasibnya, baik sebagai orang yang berbahagia maupun sengsara. Namun, hal tersebut tercermin dalam perbuatan dan tindakan yang orang tersebut lakukan.

Oleh karena itu, seseorang yang berbahagia akan cenderung melakukan perbuatan-perbuatan yang membawa kebahagiaan, sedangkan seseorang yang sengsara cenderung melakukan perbuatan yang menyebabkan kesengsaraan. Hadist ini menegaskan pentingnya bersikap positif dan mengarahkan tindakan ke arah yang positif agar dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Rasulullah melanjutkan dalam sabdanya: “Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara.” (H.R Muslim)

Dari hadits tersebut dapat kita simpulkan bahwa untuk mendapatkan rezeki, kita sebagai muslim perlu untuk berusaha karena takdir akan mengarah sesuai dengan apa yang telah ia perbuat.

Lalu mengapa Allah tidak melapangkan rezeki yang sebesar-besarnya bagi umat manusia?

Ada seseorang yang memiliki harta yang melipah, kesehatan, keluarga yang harmonis. Namun ada juga yang memiliki kondisi sebaliknya yang tidak memiliki salah satunya ataupun seluruhnya. Ingat bahwa Allah merupakan dzat yang maha mengetahui, ia telah menakdirkan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Allah juga mengetahui apa yang hamba-Nya butuhkan.

Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (Q.S Asy-Syuraa: 27)

Mari kita tingkatkan rasa bersyukur pada apa yang telah kita miliki saat ini sebagai seorang hamba. Bisa saja apa yang saat ini kita miliki merupakan salah satu yang terbaik bagi kita meskipun kita belum menyadarinya. Sungguh Allah maha mengetahui segala sesuatu yang terbaik bagi hambanya.

Nasihat bagi yang rezekinya sedikit

Ingat sahabat Allah merupakan dzat yang maha pengasih, ia maha mengetahui hal terbaik bagi umatnya. Mari kita kurangi untuk mengeluh karena rezeki yang kita miliki lebih sedikit dibandingan dengan orang lain. Bisa saja itu merupakan bentuk ujian dari Allah dengan imbalan Allah menaikkan derajat kita sebagai umatnya yang tinggi di sisi Allah pada hari akhir nanti.

Editor: Dompet Dhuafa Jogja

Sedekah Sekarang

Tips Agar Anak Terbiasa Bangun Pagi, Bunda Harus Tau!

Tips Agar Anak Terbiasa Bangun Pagi, Bunda Harus Tau!

Tips agar anak terbiasa bangun pagi – Bangun di pagi hari masih sulit dilakukan untuk sebagian orang, apalagi pada anak-anak. Kebanyakan orangtua merasa tak tega jika harus membangunkan anaknya yang tidur pulas. Padahal bangun pagi sangat penting untuk diterapkan sejak dini agar anak terbiasa dan mendapat berkah dalam menjalani aktivitasnya.

Waktu pagi adalah waktu yang sangat berkah. Udara masih terasa bersih dan sejuk sehingga baik untuk kesehatan. Tubuh akan merasa jauh lebih segar ketika melakukan aktivitas karena di pagi hari otak masih fresh untuk berpikir.

Sebagai seorang muslim, hendaknya kita tidak membiasakan untuk tidur setelah sholat subuh, apalagi sampai melalaikan kewajiban sholat dan memilih meneruskan tidur. Tentunya ada banyak manfaat yang kita peroleh jika bangun lebih awal, salah satunya adalah dapat  menyiapkan diri lebih awal sehingga tidak terlambat pergi ke sekolah.

Tips Agar Anak Terbiasa Bangun Pagi

Tips Agar Anak Terbiasa Bangun Pagi

Oleh sebab itu, ada beberapa tips agar anak terbiasa bangun pagi yang dapat Bunda terapkan.

Jangan Begadang

Begadang merupakan salah satu kegiatan yang tanpa sengaja sering dilakukan oleh anak, apalagi jika sudah dihadapkan dengan gadget. Untuk itu sangat penting bagi orangtua untuk mematikan gadget pada malam hari atau sehabis isya’.

Ada hadits yang menunjukkan larangan begadang yakni:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِ

Artinya : “Rasulullah SAW sesungguhnya membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari)

Baca Juga: Waktu Subuh dan Keajaibannya dalam Al-Quran, Apa Itu?

Menetapkan Waktu Tidur

Tetapkan setiap hari jam berapa anak harus tidur. Minimal tidur adalah 8 jam. Jadi, jam tidur yang tepat untuk anak adalah di bawah jam 9. Jadi, usahakan anak sudah tidak melakukan aktivitas apapun di jam tersebut, begitupula dengan orangtua. Anak akan mencontoh kebiasaan dari orangtuanya. Biasakan orangtua selalu mendampingi anak ketika akan tidur. Jika anak dapat tifur lebih awal, maka tidak susah untuk bangun di pagi hari jam setengah 5 untuk menuaikan solat subuh.

Hindari makan berlebih saat malam hari

Makan yang berlebihan dapat membuat seseorang lebih cepat mengantuk dan membuat tidur menjadi nyenyak. Tidur setelah makan tidak baik untuk kesehatan tubuh karena dapat menganggu proses pencernaan. Waktu makan yang baik adalah setelah magrib, dan tidur setelah sholat isya’. Pada kondisi itu, makanan sudah dicerna oleh tubuh.

Tidur dengan Posisi Badan Miring ke Kanan

Salah satu Sunnah Rasulullah SAW ketika tidur adalah memposisikan badan miring ke kanan. Para dokter juga mengemukakan bahwa dengan tidur miring ke kanan baik untuk kesehatan tubuh terutama pencernaan.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Zadul Ma’ad, juga mengemukakan bahwa tidur miring ke kanan membuat makanan berada di tempat yang sempurna dalam lambung, sehingga membantu proses pencernaan yang lebih cepat.

Meminta tolong Allah SWT Dapat Dibangunkan

Sebelum tidur, orangtua dapat menganjurkan pada anak untuk berdoa sebelum tidur dan meminta pertolongan kepada Allah SWT agar dapat bangun lebih awal. Pagi hari merupakan waktu yang berkah dan penuh rahmat dalam menjalankan berbagai aktivitas. Anak akan lebih mudah menyerap pembelajaran di sekolah ketika masih pagi.

Nabi Muhammad SAW meriwayatkan: “Ya Allah berkahilah untuk umatku waktu pagi mereka.” (HR. Abu Dawud).

Buat Sebab Bangun Pagi

Sholat subuh berjamaah dapat digunakan menjadi sebab agar anak bangun pagi. Selain melatih untuk bangun lebih awal, kegiatan ini juga dapat membuat anak terbiasa untuk melaksanakan solat subuh.

Setelah sholat subuh, usahakan jangan membiarkan anak kembali melanjutkan tidur. Bunda dapat mengajak anak untuk belajar sebentar atau melakukan olahraga pagi yang menyehatkan tubuh.

Pasang Alarm

Ketika menyetel alaram pilih bunyi yang menenagkan sehingga ketika anak terbangun dapat langsung menyesuaikan dengan kondisi kamar. Hindari menyetel alarm  dengan bunyi yang keras karena dapat membuat anak kaget.

Konsisten

Terapkan kebiasaan ini minimal seminggu. Anak akan merasa terbiasa dengan hal-hal yang sudah ia lakukan belakangan ini. Insya Allah anak tidak akan sulit lagi untuk bangun lebih awal.

Itulah beberapa tips agar anak terbiasa bangun pagi yang harus bunda ketahui. Ikuti langkah-langkahnya dengan konsisten, jangan pernah bosan untuk membiasakan anak bangun pagi.

Editor: Dompet Dhuafa Jogja

Yuk Sedekah!

Doa Amalan Bulan Rajab Apakah Ada Dalilnya? Simak Berikut!

Doa Amalan Bulan Rajab Apakah Ada Dalilnya? Simak Berikut!

Doa Amalan Bulan Rajab – Ada doa yang biasa dilafalkan umat muslim menjelang bulan Rajab. Namun para ulama belum sepakat dengan hukum Doa tersebut.

Doanya adalah “Allahumma barik lana fi rajaba wasya’bana waballighna ramadhana.”

Yang mana artinya,Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Syaban dan pertemukan kami padda bulan Ramadhan.

Doa amalan bulan rajab tersebut teriwayatkan oleh beberapa ahli hadits. Salah satunya adalah Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar. Imam An-Nawawi menilai status hadits tersebut lemah atau dhaif.

Baca Juga: Keutamaan Bulan Rajab dan Amalannya, Kamu Wajib Tahu!

Dalam kitab Al Adzkar, pada bab tentang puasa, tertulis; Kami meriwayatkan dalam kitab Hilyatul Auliya dengan Sanad lemah yang ia terima oleh Ziyad An-Numair dari Anas bin Malik RA. Ia mengatakan bahwa memasuki bulan Rajab, Nabi SAW bersabda:

“Semoga Allah memberkahi kita di bulan Rajab dan Syaban. Dan sampaikanlah kepada kami dengan bulan Ramadhan.”

Imam An-Nawawi menilai hadits tersebut lemah. Ulama lain menganggap perawi Hadits Ziyad An-Numair yang meriwayatkan hadist tersebut, sebagai munkarul haidst. Ada juga ulama berpendapat bahwa sebuah hadits dapat tertulis namun tidak dapat menjadi dalil (hujah).

Hadits yang mana berupa doa dan harapan baik tersebut, tidak ada hubungannya dengan iman dan ibadah Mahdhah. Hadits ini lemah anggapan para ulama. Imam An-Nawawi nampaknya menilai bahwa kelemahan hadis tersebut tidak terlalu penting karena dalilnya masih ada dalam kitab Al-Adzkar.

Sebagian ulama menyimpulkan bahwa hadits tersebut dhaif namun masih bisa sebagai amalkan. Karena boleh mengamalkan doa seperti dalam Hadits selama seseorang tidak meyakini bahwa Hadits tersebut berasal dari Nabi Muhammad SAW. Allahua’lam

Baca Juga: Amalan Bulan Rajab Menurut Al Quran, Kamu Wajib Tahu!

Doa Amalan Bulan Rajab, Menurut Para Ulama

Doa Amalan Bulan Rajab

Ada riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, belliau, meriwayatkan:

“Ya Allah, berkahilah kami di Rajab dan Sya’ban dan berkahilah kami di bulan Ramadhan.”

Hadits ini tidak teriwayatkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali melalui rantai periwayatan dari perawi Zaidah bin Abi Ar-Raqqad

Perlu dipahami bahwa hadist ini tidak diriwayatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selain dari seorang perawi hadist: Zaidah bin Abi Ruqqad.

Berikut beberapa pendapat para ulama tentang zaidah bin Abi Ruqqad ini:

  • Al-Bukhari mengatakan: “Perawi ini Munkarul Hadits”
  • Abu Daud berkata: “Saya tidak tau hadistnya”
  • An-Nasai berkata: “Saya tidak tahu, siapa orang ini”
  • Ad-Dzhabi Dalam Diwan Ad-Dhu’afa berkata: “Perawi ini tak bisa dijadikan hujah”
  • Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: “Munkarul Hadist”

Tak hanya itu, seorang perawi yang bernama Ziyad bin Abdillah An-Numairi Al-Bashri. Ia mendapat banyak komentar dari para ulama, antara lain:

  • Yahya bin Main berkata: “Hadistnya dhaif”
  • Abu Ubaid Al-Ayuri berkata: “Saya bertanya kepada Abu Daud tentang Ziyad ini dan beliau melemahkannya.”
  • Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin mengatakan: “Munkarul hadits. Dia meriwayatkan beberapa cerita dari Anas yang sama sekali tidak seperti hadits sebenarnya.”
  • Ad-Daruquthni, “Dia tidak kuat”
  • Ibnu Hajar berkata: “Lemah”

Masuk dalam Kategori Hadist Dhaif

Para ulama hadits juga mengomentari kisah ini:

  • An-Nawawi Al-Adzkar pada Hal. 274 menyatakan, “Kami dapat riwayat dari Hilyatul Auliya dengan sanad yang lemah.”
  • Ad-Dzahabi dalam Mizan I’tidal, 3:96, ketika dia menyebutkan biografi seorang Zaidah bin Abi Ruqqad, beliau berkomentar: “Lemah”.
  • Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 2: 165 berkata: Hadits ini teriwayatkan oleh Al-Bazzar dan sanad Zaidah bin Abi Ruqqad. Al-Bukhari mengatakan: Hadits dari Munkarul Hadist. Sedangkan sebagian ulama lainnya mengatakan Perwai Majhul (tidak diketahui).
  • Syekh Ahmad Syakir pada takhrij Musnad Imam Ahmad berkata: “Sanad tersebut lemah.” Beliau juga mengklaim bahwa pada riwayat ini merupakan tambahan dari Abdullah bin Ahmad yang teriwayatkan dari orang lain selain ayahnya (Imam Ahmad).
  • Syekh Syu’aib Al-Arnauth juga mengatakan hal yang sama dalam Takhrij Musnad.
  • Syaikh Al-Albani mengutip tafsir Al-Baihaq dalam Syu’abul Iman, 3: 375 yang menyatakan:
    Zaidah bin Abi al-Raqad merupakan satu-satunya yang meriwayatkan hadits ini. Zaidah bin Abi Ruqqad mengambil cerita dari Ziyad. Bukhari berkata: “Zaidah bin Abi Ruqqad dari Ziyad An-Numair, Munkarul Hadits.”

Berdasarkan semua keterangan tersebut, dapat tersimpulkan bahwa sanad hadits ini berstatus lemah. Oleh karena itu tidak dapat digunakan sebagai rujukan. Semoga Bermanfaat Sahabat.

Editor by: Dompet Dhuafa Jogja

YUK BERSEDEKAH

Amalan Bulan Rajab Menurut Al Quran, Kamu Wajib Tahu!

Amalan Bulan Rajab Menurut Al Quran, Kamu Wajib Tahu!

Amalan Bulan Rajab Menurut Al Quran – merupakan bulan di antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Syaban. Bulan Rajab, seperti bulan Muharram, adalah bulan suci(haram). Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, sesuai dengan ketetapan Allah, ketika Dia menciptakan langit dan bumi, yang diharamkan empat bulan. empat bulan.” (Lihat di Taubah:
36)

Ibnu Rajab berkata: Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya berputar pada orbitnya. Allah juga menciptakan matahari, bulan, dan bintang, lalu menyebabkan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari sini muncul cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak saat itulah Allah menjadikan satu tahun m,enjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal.

Apakah Anda akan mati seperti ini? Abu Bakroh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

„Dalam setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Antara lain yaitu empat bulan suci (haram). Tiga bulan berturut-turut adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi) Rajab Mudhor adalah antara Jumadil (kepala) dan Sya’ban. (HR Bukhari No.3197 dan Muslim No. 1679)

Empat bulan suci yang relevan adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzul Hijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.

Baca Juga: Keutamaan Bulan Rajab dan Amalannya, Kamu Wajib Tahu!

Di belakang bulan Haram

Mengapa bulan-bulan ini terkenal dengan bulan suci (haram)? Al Qodhi Abu Ya’la Rahimahullah berkata: namanya bulan suci karena terdapat dua alasan.

Pertama, tersebut haram segala bentuk pembunuhanm pada bulan ini. Orang jahiliyah juga mempercayai hal itu.

Kedua, karena keluhuran bulan tersebut maka larangan perbuatan melawan hukum lebih ditekankan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Bahkan saat ini sangat baik untuk dipatuhi.” (Lihat Zaadul Maysir, Tafsir Surat Taubah ayat 36)

Karena saat itu adalah waktu yang sangat baik untuk mengamalkan ketaatan, sebagaimana kaum salafi sangat gemar berpuasa di bulan haram. Sufyan Ats Thauri berkata: “Pada bulan-bulan haram saya sangat suka berpuasa.” (Lath-if Al Ma’arif, 214)

Ibn ‘Abbas berkata, “Allah menetapkan empat bulan itu sebagai bulan terlarang, yang dianggap bulan suci. Melakukan maksiat di bulan ini adalah dosa yang lebih besar, dan perbuatan baik yang dilakukan lebih dihargai.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)

Bulan Haram mana yang lebih penting?

Para ulama berbeda pendapat tentang bulansucimana yang lebih penting.Sebagian ulama mengatakan bahwa bulanRajab lebih utama, begitu pula dari sebagian ulama Syafi’iyah berpendapat. Namun An Nawawi (salah seorang ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini.

Ada yang mengatakan bahwa bulanMuharram lebih penting, sebagaimana kata Al Hasan Al Bashri dan AnNawawimembenarkan pendapat tersebut. Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa bulan Dzulhijjah lebih utama. Demikian pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, yang juga oleh Ibnu Rajab sampaikan dalam Latho-if Al Ma’arif (hal. 203).

Hukum yang berkaitan dengan bulan Rajab

Ada banyak hukum yang terkait dengan bulan Rajab, ada beberapa hukum yang sudah ada sejak zaman Jahiliyah. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum ini apakah masih berlaku ketika Islam datang. hal itu termasuk larangan berperang pada bulan suci (termasuk bulan Rajab). Para ulama masih membahas atas apakah pendapat itu harus terus terlarang. Sebagian besar peneliti percaya bahwa peraturan itu telah tidak ada. Ibnu Rajab berkata: “Bahkan salah seorang sahabatnya mengetahui bahwa mereka berhenti berperang pada bulan-bulan haram, meskipun ada faktor pendorong padasaat itu. (Lathoif Al Ma’arif, 210)

Sama dengan penyembelihan (pengorbanan).Pada zaman Jahiliyah dahulu, orang menyembelih kurban pada tanggal 10 Rajab dan terkenal dengan sebutan ‘atiiroh atau Rojabiyyah (karena terjadi pada bulan Rajab). Para ulama berbeda pendapat apakah Islam menghapuskan hukum ‘atiiroh atau tidak. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa hukum ‘atiiroh dibatalkan dalam Islam. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari Muslim, dari riwayat Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jangan lakukan lagi faro’ dan atiiroh”.(HR Bukhari no. 5473 dan Muslim no. 1976). Faro’ adalah anak pertama dari seekor unta atau kambing, yang diambil dan dipelihara untuk persembahan pada berhala mereka

Al Hasan Al Bashri berkata,”Tidak ada lagi ‘atiiroh’ dalam Islam.”Atiiroh hanya ada pada masa Jahiliyah. Orang Jahiliyah biasanya berpuasa pada bulan Rajab dan menyembelih “atiiroh” pada bulan tersebut. Mereka melakukan penyembelihan ‘ied’ (hari besar yang berulang) pada bulan ini, dan mereka juga suka makan manisan atau semacamnya. Ibn ‘Abbas sendiri tidak puas menjadikan bulan Rajab sebagai “Idul Fitri”.

“Atiiroh sering diulang setiap tahun sampai menjadi ‘id'(seperti Idul Fitri dan Idul Adha), sedangkan ‘ied (hari raya)Islam hanya Idul Fitri, Idul Adha dan Tasyriq. Dan kita dilarang melakukan apas aja kecuali yang telah Islam ajarkan.

Ibnu Rajab rahimullah mengatakan:”Pada intinya umat Islam tidak boleh merayakan  hari lain selain apa yang biasa kita kenal dengan sebutan ‘ied’ dalam Islam, yaitu Idul Fitri, Idhul Adha dan Hari Tasyriq ini. Tiga hari tersebut merupakan hari raya dalam setahun,sedangkan ‘ied jatuh pada hari Jumat setiap minggunya. Selain pada hari-hari yang tersebut, jika menjadikannya sebagai ‘ied dan hariraya, berarti telah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pedoman Islam (alias bid’ah). (Latha-if Al Ma’arif, 213)

Hukum lain yang berhubungan dengan bulan Rajab adalah shalat dan puasa.

Amalan Bulan Rajab Menurut Al Quran

Tidak ada shalat khusus pada bulan Rajab dan tidak terdapat anjuran melaksanakan shalat Roghoib pada bulan ini. Tidak wajib amalan sebelum bulan Rajab ini.

Shalat Roghoib atau biasa orang sebut dengan shalat Rajab adalah shalat yang terlaksana pada malam Jumat pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. Atau puasa matahari pada hari sebelum shalat Roghoib (Kamis pertama bulan Rajab). Jumlah keseluruhan rakaat shalat Roghoib adalah 12 rakaat. Dalam setiap Raka’at terdapat anjurkan membaca Al Fatihah satu kali, Surat Al Qadr 3 kali dan Surat Al Ikhlash 12 kali. Kemudian setelah melaksanakan shalat anjurannya membaca salawat kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 70 kali.

Antara keutamaan yang tersebut dalam hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaib adalah terampuni dosanya sebanyak buih lautan dan ia dapat mendoakan 700 kerabatnya. Namun hadits yang menjelaskan tata cara shalat Roghoib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu).

Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits tersebut dalam Al Mawdhu’aat (Kitab Hadits Palsu). Ibnul Jauziy, semoga Allah merahmatinya, berkata: “Sesungguhnya orang yang mengada-ada dengan membawa hadits palsu ini menganjurkan manusia untuk melaksanakan shalat Roghoib pada puasa pertama, padahal siang hari harus panas sekali.”

Jika mereka berbuka puasa, mereka tidak mampu makan banyak. Setelah itu, mereka harus melaksanakan shalat Maghrib dan selanjutkan dengan shalat Raghaib. Ketika bacaan tasbih dalam shalat Raghaib begitu lama, ia berputar-putar. Sangat sulit bagi orang-orang untuk kembali. Kemudian. Bahkan, saya melihat mereka di bulan Ramadhan dan ketika mereka melakukan sholat Tarawih, mengapa mereka tidak begitu bersemangat saat melakukan sholat ini?! Tapi doa di depan umum ini sangat mendesak. Bahkan orang-orang yang biasanya tidak berpartisipasi dalam sholat berjamaah juga berpartisipasi di dalamnya.” (Al Mawdhu’at li Ibnil Jauziy, 2/125-126)

Ath Thurthusi mengatakan: “Tidak ada hadis yang menyatakan bahwa Nabi, Allah menghendakinya dan memberinya kedamaian, melakukan doa ini. Para sahabat juga tidak pernah melakukan doa ini, semoga rahmat Allah menyertai mereka” (Al Hawadit’s Wal Bida”, hal 122.)

Semoga dengan penjelasan ini kita tidak lagi melakukan amalan yang kurang tepat pada bulan Rajab.

Bersedekah

Hal yang harus menjadi perhatian umat Islam hingga bulan Rajab adalah memperbanyak sedekah. Kepedulian terhadap orang miskin pada sangat baik karena beberapa alasan. Sedekah adalah harapan bagi fakir miskin dan kabar gembira saat memasuki bulan Rajab.

Pada dasarnya bulan Rajab mengandung nilai-nilai luhur yang dapat tercapai oleh mereka yang berniat dengan tulus untuk mencapainya. Kami mencari anugerah tanpa menuntut, kami mencari anugerah Tuhan, dan kami mencari kebaikan-Nya yang tidak pernah gagal.

Yuk Sahabat, Sedekah Sekarang !

Berhutang Dalam Islam, Apa Saja Aspek yang Perlu Diperhatikan?

Berhutang Dalam Islam, Apa Saja Aspek yang Perlu Diperhatikan?

Berhutang dalam Islam – Islam mengajarkan ummatnya untuk senantiasa selalu tolong-menolong dalam hal kebaikan. Begitupun apabila ada saudara kita yang sedang kesusahan, maka hendaknya ulurkan tangan kita untuk membantu, sesuai dengan firman Allah SWT yang terdapat dalam surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya :

” Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”

Menurut Islam, hutang piutang hukumnya boleh dilakukan karena di dalam kegiatan hutang piutang terdapat akad ta’awun (tolong-menolong) dan akad tabarru (social).

“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik niscaya Allah melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah maha Pembalas jasa lagi maha Penyantun.” At-Taghabun (64):17

Baca Juga: Kelola Keuangan Rumah Tangga Lebih Berkah Ala Rasulullah

Berhutang Dalam Islam

Apakah Rasullullah SAW pernah berhutang?

Jawabannya yaitu pernah, Rasulullah SAW melakukan hutang pada saat memulai perdagangannya dengan berhutang kepada Khadijah Al Kubro yang kemudian menjadi istrinya. Rasulullah bersama dengan pamannya yaitu Abu Thalib, bersama-sama menjual barang dagangan milik Khadijah. Hal yang perlu kita teladani yaitu Rasulullah selalu mencatat dengan baik setiap proses transaksi selaku pembawa barang dagangan, dan Khadijah sebagai pemilik barang dagangan. Rasulullah SAW sangat tegas dalam mengatur kegiatan hutang, seperti yang tertuang dalam sabda beliau :

“Barang siapa yang mengambil harta seseorang (berhutang) yang bermaksud untuk  membayarnya maka Allah akan melaksanakan pembayaran itu. Dan barangsiapa yang mengambilnya (berhutang) dengan maksud untuk merusak (tidak mau membayar dengan sengaja) maka Allah akan merusak orang itu.” (HR Bukhari).

Berhutang Dalam Islam

Lalu Aspek Apa Sajakah Yang Perlu Kita Perhatikan Jika Berhutang dalam Islam?

1. Jangan melakukan hutang jika tidak dalam keadaan mendesak

Tanamkan sifat bersyukur setiap hari, karena jika kita bersyukur maka akan merasa cukup sudah memenuhi kebutuhan hidup primer kita. Apabila kita telah merasa cukup, maka kita tidak perlu hutang agar bisa hidup bermegah megahan dan meninggikan gengsi kepada orang lain. Rasa iri terhadap orang lain juga dapat meninggikan rasa kita ingin memiliki sesuatu walaupun cara memperolehnya dengan berhutang.

2. Harus berniat untuk membayar hutang

Dalam sebuah hadist menejlaskan, bahwa jika kita berhutang dan memiliki niat buruk untuk tidak melunasi hutang tersebut maka Allah akan membinasakannya  sesuai dengan sabda Allah SWT.

“Barang siapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah SWT akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa yang mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya), maka Allah akan membinasakannya”. (HR Bukhari)

3. Mencatat bukti transaksi hutang secara tertulis

Ketika melaukan Hutang Piutang maka alangkah baiknya mencatat besaran nominalnya secara jelas pada surat perjanjian hutang. Selain itu baiknya juga ada yang menyaksikan kegiatan utang piutang tersebut untuk mengantisipasi hal-hal yang kemungkinan terjadi di kemudian hari.

4. Carilah hutang yang menghindari Riba

Perlu kita ketahui bahwa Riba itu Allah SWT haramkan, sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 275 yang artinya “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Untuk menghindari Riba, jika terdesak untuk berhutang. Maka pilihlah hutang dengan pertimbangan yang bijak serta tidak mengandung riba. Saat ini pun sudah banyak Lembaga khusus (syariah) yang memberikan pinjaman sesuai dengan syariat Islam sehingga dapat menghindari riba.

5. Hutang harus segera dilunasi, jangan ditunda-tunda

Konsep menunda dalam hal ini yaitu apabila sudah mampu untuk membayar hutang, namun memilih untuk menunda melunasi hutang tersebut. Maka dari itu sahabta, jika sahabat telah memiliki kelapangan rezeki untuk melunasi hutang, maka segerakanlah lakukan hal tersebut. Karena menunda pembayaran hutang termasuk perbuatan yang dzalim.

Sebagaimana sabda Rasullullah SAW “Memperlambat pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang kaya merupakan perbuatan zhalim. Jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar hutang, maka hendaklah beralih (diterima) pengalihan tersebut”. (HR Bukhari, Muslim)

Tidak hanya itu, jika menunda pembayaran hutang padahal mampu untuk membayar. Maka dosa senantiasa mengikuti setiap harinya, sampai hutang tersebut terbayarkan.

Rasullullah SAW bersabda “Menunda-nunda hutang padahal diberikan kelapangan untuk membayar maka akan bertambah satu dosanya setiap hari selama masa penundaan tersebut (HR Baihaqi)”

Demikianlah beberapa hal yang dapat kita pertimbangkan sebelum berhutang, agar sesuai dengan syariat Islam dan terhindar dari riba. Selain itu, kita juga harus senantiasa berdoa kepada Allah, untuk senantiasa Allah lapangkan rezeki kita.

Terdapat satu cara untuk dapat melancarakan rezeki kita. Yaitu dengan cara bersedekah. Sedekah juga akan membuka pintu rezeki kita sekaligus menjadi tabungan kita di akhirat kelak. Mari sahabat sedekah sekarang di sini.

YUK SEDEKAH

Sedekah subuh Dompet Dhuafa